Biografi
Ibnu Jarir Al-Tabari, Sejarawan dan Ahli Tafsir Terkemuka

Ibnu Jarir Al-Tabari, Sejarawan dan Ahli Tafsir Terkemuka

Al-Tabari yang memiliki nama lengkap Abu Jafar Muhammad ibnu Jarir al-Tabari dilahirkan pada tahun 839 M di Tabaristan, Iran. Beliau merupakan seorang cendekiawan Muslim yang berkontribusi terhadap sejarah Islam dan ahli tafsir Quran. Pemikiran beliau menjadi tonggak kejayaan kaum Sunni. Dalam karya fenomenal beliau yang berjudul Tarikh ar-Rasul wa al-Muluk) terlihat bagaimana cerdasnya beliau dalam menyajikan sejarah para Nabi.

Sebagai seorang yang cerdas, al-Tabari memang telah menunjukkan kecerdasannya saat beliau masih muda. Minatnya dalam bidang ilmu pengetahuan mengantarkan beliau ke Irak, Suriah, dan Mesir hanya untuk mencari guru yang bersedia membimbingnya. Bertahun-tahun beliau menghabiskan waktu di perpustakaan untuk mengumpulkan tulisan-tulisan dari berbagai ulama yang kelak akan dikumpulkan dalam karya tulisnya.

Pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, al-Tabari mulai mengabdikan diri untuk mengajar dan menulis di Baghdad. Saat itu Baghdad telah menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan dunia. Namun, pada masa itu, gejolak politik dan krisis sosial tak bisa dihindari. Pertarungan dan perdebatan filosofis-teologis berlangsung secara hebat. Hal ini diperparah lagi dengan munculnya kelompok-kelompok pemberontak yang tidak puas dengan pemerintahan.

Baca Juga: Ibnu Hazm, Sastrawan dan Ahli Fikih dari Kordoba

Terlepas dari pergolakan sosial politik, al-Tabari keluar dari konflik tersebut dengan cara menolak begitu saja posisi teologis ekstrem dari gerakan-gerakan oposisi tersebut. Pada saat yang sama beliau juga mundur dari faksi Sunni ultra ortodoks di bawah mazhab Hanbali.

Al-Tabari lebih memilih untuk mendirikan lembaga pendidikan sendiri. Beliau telah memberikan kontribusi yang berbeda untuk konsolidasi pemikiran Sunni selama abad ke-9. Apa yang dicapai al-Tabari untuk studi sejarah dan Al-Qur’an tidak lebih terdiri dari penemuan dan pencatatan awal materi daripada dalam penyaringan dan pengaturan ulang materi tersebut. Pencapaiannya adalah memadatkan kekayaan pengetahuan eksegetis dan sejarah dari generasi cendekiawan Muslim sebelumnya (banyak yang karyanya tidak ada dalam bentuk aslinya) dan meletakkan dasar bagi ilmu-ilmu Al-Qur’an dan sejarah.

Karya beliau yang berjudul Tarikh ar-Rasul wa al-Muluk diadopsi oleh Dinasti Samaniyah. Oleh Pangeran Mansur ibnu Nuh, karya tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Persia.

Salah satu keunggulan al-Tabari adalah metode komposisi yang mengikuti teks Al-Qur’an kata demi kata, menyandingkan semua penjelasan hukum, leksikografis, dan historis yang ditransmisikan dalam laporan-laporan dari Nabi Muhammad, para sahabat, dan para pengikutnya.

Pada setiap hadits yang jadi rujukan ditempelkan rantai perawi yang dimaksudkan untuk kembali ke informan asli. Laporan-laporan yang berbeda jarang direkonsiliasi, satu-satunya alat kritis cendekiawan adalah penilaiannya tentang kebenaran isnad dan bukan isi hadits. Jadi pluralitas penafsiran diakui secara prinsip.

Lebih lanjut dalam karyanya tersebut dikisahkan silsilah Raja Sasaniyah. Selama periode kehidupan Nabi, al-Tabari memanfaatkan penelitian ekstensif dari para sarjana Madinah abad ke-8. Meskipun pengaruh pra-Islam terlihat jelas dalam karya-karya mereka, perspektif Madinah sejarah Muslim berkembang sebagai sejarah nubuat teosentris (berpusat pada Tuhan) yang berpuncak pada karir Muhammad dan bukan sebagai kontinum perang dan nilai-nilai suku.

Sumber dari History-nya al-Tabari mencakup tahun-tahun dari kematian Nabi hingga jatuhnya Dinasti Umayyah (661–750 M) merupakan monograf pendek, masing-masing membahas peristiwa besar atau keadaan yang menyebabkan kematian orang penting. Al-Tabari melengkapi materi ini dengan laporan sejarah yang diwujudkan dalam karya silsilah, puisi, dan urusan kesukuan.

Lebih lanjut, rincian periode awal Abbasiyah tersedia baginya dalam beberapa sejarah khalifah yang sayangnya hanya diturunkan dalam fragmen yang diawetkan oleh al-Tabari. Hampir semua kisah ini mencerminkan perspektif masyarakat Irak; ditambah dengan ini adalah sedikit perhatian al-Tabari untuk urusan di Mesir, Afrika Utara, dan Muslim Spanyol, sehingga History-nya tidak memiliki pandangan sekuler “universal” yang kadang-kadang dikaitkan dengannya. Sejak awal era Islam, History disusun sebagai seperangkat catatan sejarah menurut tahun-tahun setelah hijrah. Itu berakhir pada tahun 915.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *