fiksi

Ilustrasi tukang sembelih

Juru Sembelih

Temaram cahaya serungkeng hanya mampu membuat pandanganku berbayang-bayang. Samar tubuh Bapak memantul di dinding gua. Pantulan itu menegaskan batinku bahwa dia melakukan sebuah ritual sembahyang. Tapi sembahyang yang begitu lama. Diselingi dengan bahasa-bahasa aneh yang membuatku yakin kalau itu bukanlah salat subuh.

Jejak-jejak Laut Bagian 11

Percayakah kalian bahwa ada kehidupan setelah mati? Kehidupan panjang yang hanya menunggu, menunggu ketidakpastian yang nyata, ketidakpastian yang tidak pernah pasti kapan datangnya, itulah kiamat. Orang-orang yang telah mati sepertiku akan selalu berdoa pada Tuhan agar kiamat segera menjemput kami.… Read More »Jejak-jejak Laut Bagian 11

Jejak-jejak Laut Bagian 9

Namaku Yusniar. Sepintas namaku memang akrab di telinga orang-orang Aceh. Ya, Yusniar adalah tokoh perempuan cantik dalam film komedi serial Aceh yang berjudul Eumpang Breueh yang kopian cd-nya laku keras di pasaran. Nama ayah Yusniar juga persis dengan nama ayahku,… Read More »Jejak-jejak Laut Bagian 9

Jejak-jejak Laut Bagian 8

Nadia telah kembali ke Makassar setelah tepat bulan ia menjejali Aceh. Aku tidak bisa mengantarkannya ke bandara di pagi itu, karena aku harus mengajar di sekolah. Aku tidak bisa meninggalkan kelas karena pada waktu yang bersamaan aku telah berjanji pada… Read More »Jejak-jejak Laut Bagian 8

Jejak-jejak Laut Bagian 7

Sebagaimana saudaraku diciptakan sebagai rumah Tuhan, aku juga ditakdirkan demikian. Tidak jauh dari Pantai Ulee Lheue, aku berdiri anggun di bawah naungan langit. Memperindah ketegasan pantai dengan landmark yang memiliki sejarah panjang. Jika saudaraku diperuntukkan bagi orang-orang yang mengidamkan kasih… Read More »Jejak-jejak Laut Bagian 7

Jejak-jejak Laut Bagian 6

Aku adalah penyaring kopi atau orang-orang asing menyebutku sebagai barista. Namaku Ibrahim. Namun pelanggan-pelangganku biasa memanggilku Bram. “Bram, kopi satu gelas. Yang pekat, ya?” “Bram, kopi pancung  satu!” “Bram, sanger  panas!” “Bram, teh tarek  dingin!” “Bram, kupi weng!” Begitulah pesanan-pesanan… Read More »Jejak-jejak Laut Bagian 6

Jejak-jejak Laut Bagian 5

Gadis berhijab (gambar: pexels.com) Aku datang dari Makassar ke Aceh karena sebuah janji pada kakekku. Sebelum meninggalkan dunia ini, kakekku ingin sekali pulang ke Aceh untuk melihat tanah kelahirannya. Bahkan ketika tsunami melanda Aceh, kakekku pun tidak bisa kembali Aceh… Read More »Jejak-jejak Laut Bagian 5

Jejak-jejak Laut Bagian 4

Mesjid Raya Baiturrahman di masa-masa awal (gambar: indonesiakaya.com) “Masjid ini dibangun dengan darah!” kata Muhsin pada Nadia yang tampak sibuk memotret bagian-bagian tubuhku. “Bagaimana bisa?” Nadia bertanya penuh takjub. Ada nada penasaran yang menyelimuti benaknya. Bagaimana mungkin sebuah masjid dibangun… Read More »Jejak-jejak Laut Bagian 4