Juru Sembelih

Temaram cahaya serungkeng hanya mampu membuat pandanganku berbayang-bayang. Samar tubuh Bapak memantul di dinding gua. Pantulan itu menegaskan batinku bahwa dia melakukan sebuah ritual sembahyang. Tapi sembahyang yang begitu lama. Diselingi dengan bahasa-bahasa aneh yang membuatku yakin kalau itu bukanlah salat subuh.

Jejak-jejak Laut Bagian 12

Nadia telah kembali ke Aceh. Betapa aku merindukan kehadirannya. Aku ingin selalu berada di dekatnya. Nadia serupa laut tenang yang memberikan kedamaian bagiku. Tapi ia bisa juga menjelma sebagai amuk laut yang membuat kegalauan hatiku berada di ujung keresahan. Aku tidak sabar ingin bertemu dengannya dan mengajak Nadia untuk pergi ke sebuah pantai yang berada di Kabupaten Aceh Besar. Hari […]

Jejak-jejak Laut Bagian 11

Percayakah kalian bahwa ada kehidupan setelah mati? Kehidupan panjang yang hanya menunggu, menunggu ketidakpastian yang nyata, ketidakpastian yang tidak pernah pasti kapan datangnya, itulah kiamat. Orang-orang yang telah mati sepertiku akan selalu berdoa pada Tuhan agar kiamat segera menjemput kami. Jika kiamat tidak pernah datang, kami akan terperangkap di dunia barzah ini, dengan rupa siksa dan nikmat. Meskipun kematian telah […]

Jejak-jejak Laut Bagian 10

Aku kembali ke Makassar setelah dua bulan berada di Aceh. Kakakku akan menikah, jadi aku harus berada di sampingnya. Selama aku dua bulan di Aceh, aku telah mengunjungi beberapa situs sejarah, pantai-pantai, dan jejak-jejak tsunami. Ada hikmah yang dapat kuambil dari perjalananku ke Aceh. Pertama aku semakin dekat dengan keberadaan Tuhan. Aku kembali mengingat dosa-dosa masa laluku. Kenakalan remaja, gaya […]

Jejak-jejak Laut Bagian 9

Namaku Yusniar. Sepintas namaku memang akrab di telinga orang-orang Aceh. Ya, Yusniar adalah tokoh perempuan cantik dalam film komedi serial Aceh yang berjudul Eumpang Breueh yang kopian cd-nya laku keras di pasaran. Nama ayah Yusniar juga persis dengan nama ayahku, yaitu Haji Uma. Kemiripan ini memang kebetulan saja. Dan orang-orang pun sering meledekku dengan panggilan Yusniar anak Haji Uma. Mulanya […]

Jejak-jejak Laut Bagian 8

Nadia telah kembali ke Makassar setelah tepat bulan ia menjejali Aceh. Aku tidak bisa mengantarkannya ke bandara di pagi itu, karena aku harus mengajar di sekolah. Aku tidak bisa meninggalkan kelas karena pada waktu yang bersamaan aku telah berjanji pada anak-anak didikku untuk menceritakan sejarah meletusnya perang Aceh dengan Belanda. Anak-anak didik akan memusuhiku jika aku melupakan janji itu. Aku […]

Jejak-jejak Laut Bagian 7

Sebagaimana saudaraku diciptakan sebagai rumah Tuhan, aku juga ditakdirkan demikian. Tidak jauh dari Pantai Ulee Lheue, aku berdiri anggun di bawah naungan langit. Memperindah ketegasan pantai dengan landmark yang memiliki sejarah panjang. Jika saudaraku diperuntukkan bagi orang-orang yang mengidamkan kasih Tuhan, maka aku menjadi rumah bagi orang-orang yang merindukan sayangan Tuhan. Akulah Baiturrahim, sebuah masjid anggun yang luput dari amukan […]

Jejak-jejak Laut Bagian 6

Aku adalah penyaring kopi atau orang-orang asing menyebutku sebagai barista. Namaku Ibrahim. Namun pelanggan-pelangganku biasa memanggilku Bram. “Bram, kopi satu gelas. Yang pekat, ya?” “Bram, kopi pancung  satu!” “Bram, sanger  panas!” “Bram, teh tarek  dingin!” “Bram, kupi weng!” Begitulah pesanan-pesanan yang sering diminta oleh para pelangganku. Jika kalian berkunjung ke Aceh, singgahlah ke warung kopi tempat aku menyaring kopi. Memang […]

Jejak-jejak Laut Bagian 5

Gadis berhijab (gambar: pexels.com) Aku datang dari Makassar ke Aceh karena sebuah janji pada kakekku. Sebelum meninggalkan dunia ini, kakekku ingin sekali pulang ke Aceh untuk melihat tanah kelahirannya. Bahkan ketika tsunami melanda Aceh, kakekku pun tidak bisa kembali Aceh lantaran kondisi kesehatannya yang buruk. Beliau hanya menyaksikan Aceh yang luluh lantak di televisi. Beliau tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Aceh […]

Jejak-jejak Laut Bagian 4

Mesjid Raya Baiturrahman di masa-masa awal (gambar: indonesiakaya.com) “Masjid ini dibangun dengan darah!” kata Muhsin pada Nadia yang tampak sibuk memotret bagian-bagian tubuhku. “Bagaimana bisa?” Nadia bertanya penuh takjub. Ada nada penasaran yang menyelimuti benaknya. Bagaimana mungkin sebuah masjid dibangun dengan darah. Bukankah darah adalah sesuatu yang najis, dan tidak mungkin ibadah seseorang diterima jika ia dikerumuni oleh najis. Aku […]