Biografi
Ibnu Hazm, Sastrawan dan Ahli Fikih dari Kordoba

Ibnu Hazm, Sastrawan dan Ahli Fikih dari Kordoba

Nama lengkap Ibnu Hazm adalah Abu Muhammad Ali ibnu Ahmad ibnu Sa’id ibnu Hazm. Ia dilahirkan di Kordoba pada tanggal 7 November 994. Ibnu Hazm dikenal sebagai sastrawan Muslim, ahli fikih, dan teolog dari Spanyol. Pada masa itu, Spanyol Islam memasuki era kejayaannya di mana juga lahir sarjana muslim seperti Ibnu Rusyd.

Ibnu Hazm dikenal sebagai cendekiawan Muslim yang aktif menulis. Tercatat sebanyak 400 karya telah dihasilkan. Walaupun hanya ada beberapa karyanya yang masih membekas hingga sekarang. Karya-karya Ibnu Hazm meliputi bidang hukum, logika, sejarah, etika, perbandingan agama, teologi, dan tentu juga seni dan sastra.

Ibn Hazm dilahirkan dalam keluarga terkemuka sebagai keturunan dari klien Persia Yazid, putra Mu’awiyah. Sang putra Mu’awiyah ini merupakan penguasa dinasti Umayyah pertama di Suriah. Keluarga Muslim berlatar belakang Iberia (Spanyol) umumnya mengadopsi silsilah yang mengidentifikasikan mereka dengan orang Arab. Para ahli cenderung mendukung bukti bahwa Ibnu Hazm adalah anggota keluarga Kristen Iberia. berlatar belakang dari Manta Lisham (barat Sevilla).

Hazm, kakek buyutnya, mungkin pindah agama ke Islam, dan kakeknya Sa’id pindah ke Kordoba, ibu kota kekhalifahan. Ahmad, ayahnya, seorang yang saleh dan terpelajar, memegang posisi tinggi di bawah al-Mansur. Dan penggantinya, al-Muzaffar, seorang ayah dan anak yang memerintah secara efisien atas nama khalifah Hisham II.

Hidup dalam lingkaran hierarki yang berkuasa menajdikan Ibnu Hazm sebagai seorang siswa yang bersemangat dan jeli. Di mana dia mendapat kesempatan memperoleh pendidikan yang sangat baik.

Keadaan Ibnu Hazm berubah drastis setelah kematian al-Muzaffar pada tahun 1008 M. Stabilitas yang telah disediakan oleh Umayyah selama lebih dari dua setengah abad pada akhirnya runtuh. Perang saudara berdarah terjadi dan berlanjut hingga 1031 M. Saat itu kekhalifahan dihapuskan dan sejumlah besar negara kecil mengganti kemiripan struktur politik terpusat. Keluarganya dicopot, dan Ahmad meninggal pada tahun 1012 M. Ibnu Hazm dengan keberaniannya terus-menerus mendukung Umayyah yang mengklaim jabatan khalifah, di mana dia sering dipenjara.

Ibnu Hazm dan Kesusastraan

Apresiasinya terhadap sumber-sumber bahasa Arab dan keahliannya dalam menggunakan puisi dan prosa terlihat dalam semua karyanya. Salah satu contoh yang mengesankan adalah The Ring of the Dove (Tawq al-Hamamh), tentang seni cinta.

Ini adalah salah satu karyanya yang paling dikenal karena karyanya di bidang hukum dan teologi. Buku ini memiliki pengetahuan yang mendalam tentang Al-Qur’an dan Hadits (tradisi), ia menjadi salah satu eksponen terkemuka dari mazhab Zahiri. Prinsip Zahiri dalam teori hukum hanya bergantung pada makna literal saja atau secara lahir dari Al-Qur’an dan Hadits.

Meskipun teori hukumnya tidak pernah memenangkan banyak pengikut, dia secara kreatif memperluas prinsip Zahiri ke bidang teologi. Ibnu Hazm membuat studi komparatif tentang pluralisme agama pada zamannya. Pluralisme agama merupakan salah satu studi paling awal dan sangat dihormati karena detail historisnya yang cermat.

Sebagai seorang aktivis yang memiliki pemahaman yang mendalam tentang realitas Tuhan, Ibnu Hazm juga terlibat aktif dalam dunia politik. Namun terlepas dari aktivismenya, bagaimanapun, dia sangat nonkonformis dan penyendiri. Dia berbicara dan berdebat dengan orang-orang sezaman terkemuka di daerahnya. Lalu kepada siapa dia menunjukkan rasa haus yang tak terpuaskan akan pengetahuan serta keyakinan tanpa kompromi. Paling jeli, cermat dalam analisis, teliti dalam detail, dan mengabdikan diri pada kejelasan posisinya.

Bahasa Ibn Hazm persis seperti pedang al-Hajjaj, seorang jenderal abad ke-7 yang terkenal dan juga gubernur Irak. Dalam tulisannya, dia menyoal tentang penipuan, distorsi, dan inkonsistensi; tetapi pada saat yang sama Ibnu Hazm menunjukkan semangat yang peka dan mengungkapkan wawasan yang mendalam tentang dimensi hubungan antarmanusia.

Dia dijauhi dan difitnah karena pandangan politik dan teologisnya. Ketika beberapa tulisannya dibakar di depan umum, dia mengatakan bahwa tindakan seperti itu tidak dapat menghilangkan isinya. Meskipun serangan terhadapnya terus berlanjut setelah kematiannya, berbagai pembela yang berpengaruh muncul. Meskipun dia tampaknya mudah dibenci, Ibn Hazm hampir tidak bisa diabaikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *