Ibnu Rusyd (Averroes), Filsuf Muslim Aristotelian dari Cordoba

Ilustrasi Ibnu Rusyd (Averroes)
Ilustrasi Ibnu Rusyd (Averroes)
Ilustrasi Ibnu Rusyd (Averroes)

Ibnu Rusyd memiliki nama lengkap sebagai Abu al-Walid Muhammad Ibnu Ahmad Ibnu Rusyd. Namun di dunia Barat, Ibnu Rusyd lebih sebagai Averroes. Ia hidup di mana minat terhadap teologi dan filsafat justru memudar di dunia Muslim.

15 tahun sebelum Averroes lahir, dunia Muslim kehilangan al-Ghazali (1058-1111) yang telah melakukan kritik terhadap filsafat Neoplatonik Muslim, khususnya terhadap karya-karya Ibnu Sina atau Avicenna. Masa-masa suram itu akhirnya mulai beranjak tatkala Ibnu Rusyd yang merupakan seorang ahli hukum dan dokter memancarkan sinarnya dan menghidupkan gelagat filsafat Spanyol-Muslim. Oleh beberapa kalangan, Averroes dianggap sebagai filsuf Muslim terakhir dan paling berpengaruh bagi kaum-kaum yang mewarisi tradisi filsafat Muslim di Barat.

Ibnu Rusyd memberikan komentar terhadap Aristoteles yang menghidupkan kembali minat ilmiah terhadap filsafat Yunani kuno atau filsafat Barat. Averroes adalah pengkritik utama terhadap al-Ghazali dan cukup gencar menentang sentimen anti-filosofis dalam tradisi Sunni yang diusung oleh al-Gahzali. Ibnu Rusyd menolak setiap klaim teolog Muslim yang menyatakan bahwa filsafat berada di luar jangkauan Islam dan tidak memiliki dasar di dalam kitab suci. Averroes berusaha keras untuk membuktikan bahwa tanpa melibatkan agama secara kritis dan filosofis, makna yang lebih dalam dari tradisi bisa hilang, dan pada akhirnya mengarah pada pemahaman yang salah tentang konsepsi ketuhanan.

Ibnu Rusyd dan Kehidupan Awalnya

Ibn Rusyd dilahirkan di Cordoba, Spanyol, dari sebuah keluarga yang memiliki tradisi untuk mempelajari ilmu-ilmu hukum. Kakeknya yang bernama Abdul Walid Muhammad memiliki pengaruh kuat dan pernah menjabat sebagai hakim ketua di Cordoba di bawah kekuasaan Dinasti al-Murabithun. Abdul Walid Muhammad dianggap sebagai seorang ahli dalam metodologi hukum di berbagai sekolah hukum. Ayah Averroes yang bernama Abdul Qasim Ahmad menjadi penerus kakeknya hingga al-Murabithun digulingkan oleh Muwahhidun pada tahun 1146 M.

Dalam menuntut ilmu, Ibnu Rusyd justru diajarkan melalui metode tradisional yang berkembang saat itu. Pelajaran awal yang diterimanya adalah studi ilmu hadits, linguistik, hukum dan juga teologi skolastik. Sebagian kalangan berpendapat bahwa Ibnu Rusyd dipengaruhi oleh ajaran-ajaran filosofi Ibnu Bajjah. Ilmu kedokterannya diperoleh dari Abu Jafar ibnu Harun dari Trujillo. Bakat kedokterannya terlihat dalam karya Kitab al-Kulyat fi al-Tibb. Karya ini sempat digunakan sebagai buku teks kedokteran utama di dunia Yahudi, Kristen, dan Muslim selama berabad-abad. Termasuk juga buku yang berjudul Kitab al-Taisir fi al-Mudawat wa al-Tadbir yang dikarangnya bersama Abu Marwan Ibnu Zuhr.

Pada masa Khalifah Abdul Mu’min, Ibnu Rusyd pergi ke Marrakesh dan melakukan reformasi pendidikan di sana. Pendidikan sebelumnya yang menganut teologi Ibnu Tumart (1078-1139) yang menekankan kesatuan ilahi dan ancaman ilahi yang percaya bahwa sistem hukum positif dapat hidup berdampingan dengan teologi rasional dan praktis. Hal ini menyebabkan konsep bahwa hukum harus berdasarkan pada wahyu bukan pada tradisi para ahli hukum. Teologi Ibnu Tumart menegaskan bahwa keberadaan dan esensi Tuhan dapat ditetapkan melalui akal saja.

Ibnu Rusyd memiliki hubungan dengan penguasa saat itu, al-Muwahhidun karena warisan dari kakeknya. Akibat hubungan emosional ini, pekerjaan Averroes ikut berdampak secara signifikan. Tapi perkenalan Ibnu Rusyd dengan Ibnu Tufayl yang merupakan seorang filsuf dan dokter resmi bagi Khalifah Abu Yaqub Yusuf, putra Abdul Mu’min, memberikan perubahan perkembangan pemikirannya. Ibnu Tufayl-lah yang memperkenalkan dirinya dengan Khalifah Abu Yaqub Yusuf dan membuatnya terkesan. Lalu Khalifah mengangkatnya sebagai hakim kepala dan juga mengangkatnya sebagai dokter kepala.

Melalui sebagian besar layanan Ibn Rusyd, Dinasti al-Muwahhidun tumbuh lebih liberal, yang akhirnya mengarah pada penolakan formal mereka terhadap teologi Ibnu Talmart. Terlepas dari kecenderungan ini, tekanan publik terhadap kecenderungan liberalisasi yang dirasakan dalam pemerintahan menyebabkan penolakan formal terhadap Ibnu Rusyd. Akibatnya dia diasingkan ke Lucena, sebuah desa yang sebagian besar dihuni oleh orang Yahudi di luar Cordoba, tulisannya dilarang dan buku-bukunya dibakar. Namun, periode aib ini tidak berlangsung lama, dan Ibnu Rusyd kembali ke Cordoba dua tahun kemudian, tetapi meninggal pada tahun berikutnya di Marrakesh. Keraguan tentang ortodoksi Ibnu Rusyd tetap ada, tetapi karena minat Islam terhadap filsafatnya memudar, tulisan-tulisannya menemukan peminat baru di dunia Kristen dan Yahudi di Barat sana.

Catatan Terhadap Karya Aristoteles

Ibnu Rusyd menulis tentang banyak hal, termasuk bidang hukum dan kedokteran. Di bidang hukum, Avicerroes mengalahkan semua pendahulunya, menulis tentang metodologi hukum, pernyataan hukum, pengorbanan, dan pajak tanah. Selain itu ia juga membahas topik yang beragam seperti kebersihan, pernikahan, jihad dan peran pemerintah dengan non-Muslim.

Dalam bidang kedokteran, Ibnu Rusyd menulis komentar tentang Ibnu Sina, pekerjaan medis dan sejumlah ringkasan karya Galen. Ibn Rusyd juga menulis banyak komentar tentang teks-teks dari berbagai pemikir. Komentar-komentar ini memberikan wawasan yang menarik tentang bagaimana Ibn Rusyd sampai pada posisi tertentu dan seberapa besar dia adalah seorang Aristoteles yang otentik.

Baca Juga: Jabir Ibnu Hayyan, Bapak Kimia Modern

Averroes menghabiskan tiga dekade untuk menghasilkan banyak komentar tentang semua karya Aristoteles – kecuali masalah politik – mencakup setiap subjek dari estetika dan etika hingga logika dan zoologi. Dia juga menulis tentang Republic karya Plato, Alexander’s De Intellectu, the Metaphysics of Nicolaus of Damascus, the Isagoge of Porphyry, dan the Almajest dari Ptolemeus.

Ibnu Rusyd sering menulis lebih dari satu komentar tentang teks Aristoteles; bagi banyak orang Averroes menulis versi pendek atau parafrase, versi menengah dan versi panjang. Masing-masing memperluas pemeriksaannya tentang yang asli dan interpretasinya oleh komentator lain, seperti Alexander dari Aphrodisias, Themistius dan Ibnu Bajjah. Berbagai versi dimaksudkan untuk pembaca dengan tingkat pemahaman yang berbeda.

Keinginan Averroes adalah melepaskan interpretasi Neoplatonik yang lazim tentang Aristoteles, dan kembali ke apa yang awalnya ingin dikomunikasikan oleh pemikir Yunani. Tentu saja, Averroes tidak menghindar untuk memasukkan pemikirannya sendiri ke dalam komentarnya, dan komentar parafrase singkatnya seringkali merupakan interpretasi yang fleksibel. Kadang-kadang, dalam upaya untuk menjelaskan ide-ide kompleks dalam Aristoteles, Ibnu Rusyd akan merasionalisasi filsuf ke arah yang tampaknya tidak otentik bagi penafsir kontemporer Aristoteles. Namun demikian, komentar Ibnu Rusyd memperbarui minat intelektual Barat terhadap Aristoteles, yang karyanya sebagian besar diabaikan atau hilang sejak abad keenam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *