Categories
Biografi

Jabir ibn Hayyan, Bapak Kimia Modern

Jabir ibn Hayyan illustration

Jabir ibn Hayyan dianggap sebagai Bapak Kimia Modern oleh orang-orang Barat. Kimia merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan di mana kaum Muslimin memberikan sumbangan terbesar. Mereka mengembangkan ilmu ke tingkat kesempurnaan, sehingga mereka dianggap otoriter dalam bidang ini. Sampai pada akhir abad ke-17, Jabir dan Zakariya Razi sangat menonjol sebagai ahli kimia termasyhur yang dihasilkan abad pertengahan.

Dalam mempelajari kimia dan ilmu fisika lainnya, bangsa Arab memperkenalkan eksperimen obyektif, suatu keinginan memperbaiki ketidakjelasan spekulasi Yunani. Akurat dalam pengamatan gejala, dan tekun mengumpulkan fakta, bangsa Arab tidak menemukan kesukaran dalam menyusun hipotesa yang wajar.

Ilmu kimia modern berhutang kepada para ilmuwan Muslim, begitu kata sejarawan, Robert Briffault. “Kimia, proses pertama penguraian logam yang dilakukan oleh para metalurg dan ahli permata Mesir, mengkombinasikan logam dengan berbagai campuran dan mewarnainya, sehingga mirip dengan pembuatan emas, yang tadinya sangat dirahasiakan, dan menjadi monopoli perguruan tinggi. Dan oleh para pendeta disamarkan ke formula mistik biasa. Di tangan orang Arab menjadi terbuka dan disebarluaskan melalui penyelidikan, diorganisasikan dengan bergairah, sehingga mereka menemukan cara penyulingan yang menakjubkan guna memperoleh alkohol dari asam sendawa dan cuka belerang dari alkali, dari persenyawaan logam dan asam, dari air raksa, dari antimoni dan bismut. Dan kemudian menjadi dasar semua riset kimia dan fisika.”

Jabir ibn Hayyan al-Azdi disebut sebagai sufi dan dikenal sebagai “Geber” di Barat. Jabir ibn Hayyan diakui sebagai Bapak Kimia Modern. Bersama Zakariya Razi, ia dipandang yang terbesar dalam catatan sejarah ilmu kimia abad pertengahan. Ayahnya seorang penjual obat di Kufa.

Jabir ibn Hayyan menerima pendidikannya dari Raja Bani Umayyah, Khalid ibn Yasid ibn Muawiya dan dari Imam Jafar Sadiq yang terkenal. Mula-mula ia berpratik sebagai tabib, dan memiliki hubungan dengan keluarga besar Barmak, yang para anggotanya menempati kedudukan tinggi sebagai wazir selama pemerintahan Khalifah Harun ar-Rashid. Saat keruntuhan Barmak tahun 803, Jabir ibn Hayyan juga harus mengalami nasib buruk. Dalam pembuangannya di Kufa, Jabir ibn Hayyan wafat. Dua abad kemudian, puing-puing laborarotiumnya ditemukan.

Jabir ibn Hayyan dan Karya-karyanya

Jabir ibn Hayyan diakui telah mengarang lebih dari 100 buku. Dari jumlah tersebut, 22 karya ilmiah masih tersimpan. Dia memperkenalkan riset eksperimental kimia, yang memungkinkan pesatnya kemajuan ilmu tersebut.

Ketenaran Jabir ibn Hayyan terletak pada karya-karya kimianya dalam bahasa Arab. Lima karyanya telah diterbitkan, yaitu Kitab al-Rahmah, Kitab al-Tajmi, Al-Zilaq al-Sharqi, Book of the Kingdom, dan Book of Balance. Karya-karya Jabir ibn Hayyan memuat teori mengenai pembentukan geologis logam, seperti yang disebut sulfur dan teori merkuri logam.

Baca Juga: Peristiwa Penting di Bulan Rajab

Jabir ibn Hayyan juga melakukan pemurnian logam, preparasi baja, pencelupan bahan kain dan kulit, merengas pakaian tahan air dan pelindung besi, menggunakan dioksida batu kawi dalam pembuatan gelas, penyulingan cuka menjadi asam asetat. Ia juga mengamati faktor-faktor yang terjadi di luar tekanan magnet. Logam seperti timah hitam, timah putih, dan besi dapat diubah menjadi emas melalui proses campuran bahan-bahan kimia tertentu.

Jabir ibn Hayyan berhasil menerangkan secara ilmiah dua fungsi dasar ilmu kimia, yaitu kalsinasi dn reduksi, kemudian didata kembali dengan metode-metode yang lebih sempurna, yaitu metode penguapan, subimasi, distilasi, penglarutan, dan penghabluran. Jabir ibn Hayyan juga memodifikasi teori Aristoteles mengenai dasar logam.

Melalui penyelidikan sejarah dibuktikan bahwa dia sudah mengenali preparasi seperti vitriol yang hampir murni, aluminium, alkali, dan proses produksi susu sulfur dengan memanaskan sulfur dengan alkali. Ia menyiapkan oksida merkuri, dan dengan cara itu mengenal preparasi sulfur mentah dan asam sendawa. Ia mengetahui metode solusi emas dan perak dengan asam sendawa.

Al-Razi telah mengklasifikasikan substansi alkimia seperti sayur-sayuran, binatang, dan mineral. Sedangkan Jabir dan kimiawan Arab lainnya, menguraikan substansi mineral menjadi wujud seperti emas, perak, sulfur, arsenik, merkuri, dan sal-amoniak. Jabir ibn Hayyan juga mengarang sebuah buku perbintangan dan beberapa risalah mengenai trigonometri sperikal.

Karya-karya ilmu kiamianya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di Eropa, termasuk bahasa Latin, dan kemudian diserap oleh ilmu kimia modern, seperti adanya istilah-istilah teknik seperti realiger (sulfit merah dan arsenik), tutia (seng oksida), alkali, antimoni, alembica, dan aludel. Salamoniak sejenis substansi baru kimia yang diperkenalkan oleh Jabir ibn Hayyan, sebelumnya tidak dikenal oleh orang-orang Yunani.

Jabir ibn Hayyan dianggap sebagai “guru” oleh para ilmuwan sesudahnya, seperti al-Tughrai dan Abu al-Qasim al-Iraqi yang hidup pada abad ke-12 dan 13. Para kimiawan Muslim ini melakukan sedikit perbaikan terhadap metode-metode Jabir ibn Hayyan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *