Jejak-jejak Laut Bagian 1

Jejak-jejak Laut Bagian 1

Aku Adalah Tsunami

Aku adalah tsunami. Gelombang laut yang lebih tinggi dari ombak. Ombak bukan apa-apa bagiku. Dia hanyalah makhluk lemah yang sering dikutip oleh pujangga picisan. 
Akulah sejatinya ombak yang akan menyapu segala benda yang kulalui. Lajuku lebih kencang dari pesawat, dan suaraku lebih gemuruh dari halilintar. Aku tidak mengenal siapa yang aku hancurkan. Apakah dia seorang pejabat, pencuri, tukang ibadah, anak-anak, orang tua, laki-laki, perempuan, gedung kokoh, kapal apung, mobil, masjid, gereja, dan lain-lain. 
Aku akan mengejar mereka yang lari dari dekapanku. Aku rindu tubuh manusia setelah sekian lama terkurung di dalam laut. Saban hari aku berdoa agar Tuhan mengirimku ke darat. Tapi Tuhan jarang sekali mengabulkan doaku. Sedangkan saudaraku, si gempa bumi, setiap saat selalu berdansa di atas bumi. Menampilkan tarian barunya yang dengan susah payah dipelajarinya. Tubuhnya akan meliuk-liuk bagaikan ular. Pinggulnya bergoyang-goyang seperti penyanyi dangdut murahan di pesta perkawinan. 
Usai gempa bergoyang, dia akan mengejekku. 
“Hei, tsunami! Kapan kau keluar dari laut? Jangan bersembunyi di dalamnya. Ayolah, kawan! Kejar aku sampai ke bumi,” dia terus berteriak sehingga membangunkan langit. 
Jangan coba-coba mengganggu langit yang sedang tidur jika kau tak ingin langit marah. Benarlah. Langit merasa terganggu dengan teriakan gempa. Dengan bantuan saudaranya, angin bertiup kencang. Dia memanggil awan hitam. Matahari terpaksa lari. Bersembunyi di balik awan. Hujan turun berhari-hari. Gempa terpaksa mengadu pada gunung. 
“Belum saatnya aku membantumu, Gempa. Tuhan belum memberiku pekerjaan itu,” kata Gunung menolak permintaan Gempa.
Aku girang dengan kekalahan Gempa. Kepongahannya membuat dia menderita. Meskipun begitu, aku tetap menghibur saudaraku itu.
“Wahai, Gempa. Janganlah bersedih. Aku yakin suatu saat kau akan bergoyang hebat. Menggetarkan tanah-tanah seperti akan terbelah dua. Langit akan runtuh ke di bawah kakimu. Bukankah kau masih ingat dengan apa yang kaulakukan pada kaum Luth?”
“Benar. Itu sudah lama sekali. Kakiku terasa gatal ingin menggetarkan bumi dengan hebat. O, Tuhan, beri aku kekuatan-Mu. Ingin kuhentakkan bumi dengan sekali hentakan yang kuat, agar langit yang sombong runtuh dan mencium kakiku.”
Tuhan mengajarkan kesabaran kepada makhluk-Nya. Terakhir kali aku berlari ke darat dituliskan dalam sejarah manusia adalah pada tanggal 17 Juli 1998. Saudaraku gempa mengguncang bumi dengan kekuatan 7,1 skala richter. Aku tak paham angka satuan itu. Manusia memang cerdas dapat menciptakan angka-angka. Tapi bagiku, angka-angka tidak berguna ketika Tuhan menitahkanku untuk melenyapkan umat-Nya. Aku menyambangi Papua Nugini. Melumat tubuh manusia yang mereka catat berjumlah 2.200 orang. Bagiku itu jumlah yang sangat sedikit. Aku ingin lebih, lebih, dan lebih banyak lagi manusia yang ingin kubunuh. Agar mereka tahu bagaimana cara bersyukur kepada Tuhan.
Pada tanggal 26 Desember 2004, pagi itu gempa merias diri secantik mungkin. Belum pernah aku melihatnya mempersolek dirinya serupa pengantin baru. 
“Tsunami, kau harus bersiap-siap,” katanya.
“Bersiap untuk apa?”
“Apa kau tidak membaca perintah Tuhan yang disampaikan semalam?”
“Tidak,” jawabku bingung.
Lalu gempa memperlihatkan secarik surat yang dikirimkan oleh seorang malaikat. Aku harus merahasiakan nama malaikat ini kepada kalian. Aku tidak ingin kalian menimbulkan duga yang macam-macam sehingga akan melemahkan iman. Aku memperhatikan surat itu. Setelah membacanya aku girang bukan main. Seperti anak manusia yang kegirangan ketika mendapatkan hadiah mainan baru. Aku mengambil cermin dari tangan gempa. Melakukan hal yang sama seperti gempa.
Setelah aku bersolek, aku menunggu. Menunggu waktu. Menunggu giliranku. Sayup-sayup di bibir pantai, aku melihat sepasang manusia yang sedang menikmati pagi. Orang-orang tersenyum melihat tingkah mereka yang seperti anak kecil. Aku tahu, si lelaki itu baru saja menjadi raja sehari. Tanda pada tangan dan kaki si perempuan yang masih berinai menunjukkan hal itu. 
“Hei, menjauhlah kalian dari laut. Aku telah dititahkan Tuhan untuk memberi peringatan kepada kalian. Aku menyayangi kalian karena kalian adalah pasangan yang baru memulai kehidupan,” kataku.
Tetapi pasangan manusia itu tidak menghiraukanku. Mereka terus berjalan bersisian sambil bergandengan tangan.
“Lihatlah laut itu. Sangat tenang dan damai,” kata si lelaki pada perempuan.
“Benar, Bang. Indah sekali pemandangan di Ulee Lheue. Matahari pagi telah menghangatkan tubuhku,” perempuan itu memegang erat jemari suaminya.
Dan tepat seperti waktu yang telah ditetapkan Tuhan, gempa menghentak-hentakkan kakinya ke bumi. Tanah bergetar, langit hendak runtuh tapi dia tidak boleh marah karena Tuhan melarangnya, laut membungkuk seakan-akan tahu kalau aku hendak lewat, makhluk-makhluk Tuhan ketakutan. Burung, semut, kupu-kupu, bunga, pohon, dan segala yang hidup dan bernyawa, menyeru-nyeru menyebut nama Tuhan. Aku tidak tahu apakah Tuhan akan menerima ampunan mereka, karena aku tidak pernah sekali pun bertemu dengan Tuhan. Aku hanya makhluk Tuhan yang kapan saja siap diperintah oleh Tuhan. Aku tidak berani menantang Tuhan. Bagiku Tuhan adalah penguasa langit dan bumi. 
Rintihan suara manusia menyayat hati. Anak-anak ketakutan, menangis memeluk ibunya. Gedung-gedung runtuh. Kaca-kaca pecah. Irama jantung manusia berdetak lebih kencang. Manusia menyangka kiamat akan tiba. Mulut mereka berbuih dan tak pernah henti menyebut nama Tuhan. Sedangkan linto baro (pengantin pria) dan dara baro (pengantin perempuan) itu juga saling berdekapan. Tampak sekali ketakutan dari wajah dara baro itu. 
Satu sisi aku tersenyum melihat ulah mereka yang selalu saja terlambat untuk meminta ampunan. Jika musibah sudah datang, barulah mereka ingat Tuhan. Tapi jika kenikmatan tiba, mereka melupakan Tuhan. Ah, dasar manusia. Namun di sisi lain aku merasakan kesedihan. Aku tidak ingin membunuh anak-anak tak berdosa yang belum merasakan cobaan dunia. Aku tidak rela mengulum manusia-manusia taat beribadah yang telah dijanjikan Tuhan akan surga. Sungguh batinku bergejolak. Tetapi perintah Tuhan harus kulaksanakan.
Gempa sudah usai. Tiba-tiba laut menyurutkan bibirnya. Mulutnya menganga lebar. Anak-anak nelayan di Pantai Ulee Lheue berlari-lari memungut ikan. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi jika mereka tidak segera beranjak dari bibir laut.
“Hei, anak-anak! Pergi kalian dari sana! Aku akan muntah dari perut laut! Kalian semua akan mati! Pergi! Pergi!” teriakku dari dalam perut laut. Tapi anak-anak itu tidak menghiraukan imbauanku. Atau mungkin mereka tidak mendengarkanku. Aku mencoba bertahan. 
“Anak-anak laut! Cukup sudah kalian memungut ikan-ikan itu! Aku tidak bisa menahan kakiku yang sudah gatal untuk berlari menyapu bumi. Larilah, Nak! Larilah!” 
Anak-anak itu masih sibuk dengan lakunya. Aku sudah tidak bisa bertahan lagi. Setidaknya aku sudah memperingatkan anak-anak itu. Lalu aku muntah. Pertama-tama yang kulahap adalah anak-anak yang tak berdosa itu. Semoga surga menjadi tempat mereka. Kapal apung yang beratnya ribuan ton kutolak ke daratan. Lalu aku menyapu pohon-pohon, rumah-rumah, mobil-mobil, apa saja yang bisa kusapu.
Aku adalah tsunami. Orang-orang bermata sipit yang memberikan nama itu padaku. Benar, orang Jepang, begitulah mereka menyebutnya, telah memopulerkan namaku. Dulu, aku tidak bernama. Hanya sebuah gelombang laut yang besar. Tapi sekarang, namaku tsunami. Terdiri dari dua kata Jepang, tsu yang artinya pelabuhan, dan nami berarti gelombang. Jadilah aku sebuah gelombang pelabuhan yang bisa menyapu segala pelabuhan yang ada di dunia. Para ahli-ahli telah meneliti tentangku. Kata mereka, aku bisa muncul karena gempa berpusat di laut, gunung-gunung laut meletus, longsor di bawah laut yang menyebabkan isi perut laut muntah, dan adanya hantaman benda langit. Aku tidak tahu benda langit apa yang bisa menyebabkan kemarahanku. Mungkin saja berasal dari lapisan langit yang jauh, bukan langit yang bisa kunikmati dengan mata telanjangku. Aku tidak menyalahkan pendapat para ahli-ahli itu yang memang merupakan keahlian mereka. 
Aku sangat menyukai orang-orang Jepang. Karenanya kalian jangan tercengang kenapa aku sering menyapa mereka. Orang Jepang berbeda dengan penduduk lain di belahan dunia mana pun. Mereka adalah orang yang gigih, gemar bekerja keras, tak mengenal kata putus asa, dan semangat mereka tidak ada bandingannya. Mereka bukanlah negeri yang kaya alamnya. Tapi manusia-manusianya sangat cerdas mengelola sumber daya alam. Meskipun aku berkali-kali menyapa mereka, mereka tak gentar menghadapiku. Mereka telah siap. Teknologi mereka hampir saja mengalahkanku. Memang aku tak banyak membunuh mereka karena kesiapan mereka, tapi setidaknya aku ingin menunjukkan pada dunia, bahwa kesombongan dapat dikalahkan oleh alam. Orang-orang Jepang telah mengajarkan filosofi itu. Maka, wahai penduduk dunia mana pun, belajarlah kalian dari orang Jepang yang tak gemar sombong dan santun dalam kelakuannya.
Tapi di sebuah pulau kecil, orang-orang malah menyebutku dengan smong. Pengetahuan mereka terhadapku lumayan bagus. Mereka lebih siaga dan waspada ketimbang manusia-manusia yang berada di wilayah Banda Aceh, Aceh Besar, ataupun Aceh Barat. Manusia-manusia Simeulue, begitu nama pulau itu memanggilku dengan nama smong, lebih sedikit yang menjadi korban keganasanku.
Manusia mencatat peristiwa itu dalam sejarah mereka. Akibat kemarahanku, lebih kurang 230 ribu nyawa manusia melayang. Jasad mereka sebagian besar hancur. Membusuk di antara reruntuhan, mengembung akibat tenggelam, dan tercabik-cabik.
Sudah puaskah aku? Ya, untuk sementara aku cukup puas. Aku bersyukur pada Tuhan karena aku telah memamerkan kekuatanku. Seluruh dunia ikut menyaksikan dan mendengarkan kehebatanku. Tak diragukan lagi, aku sekarang dianggap bencana yang mematikan. Bukan lagi gempa bumi yang mereka takuti, atau gelegar halilintar di langit yang mereka cemaskan, atau banjir kiriman dari zaman Nuh, melainkan tsunami. Mereka tidak akan bisa lari dan bersembunyi dari kemarahanku. 
Cukup sudah bukti yang kuberikan. Sebaiknya aku beristirahat. Mungkin beberapa tahun kemudian aku akan muncul kembali. Tapi tidak dengan laju yang kencang dan gelombang yang besar, melainkan laju yang lambat dan sedikit gelombang. Meskipun demikian, aku yakin, manusia-manusia yang ingkar iman akan ketakutan. Mereka akan lari terbirit-birit atau mencret dan kencing telah membasahi celana mereka. Demikian takutnya manusia-manusia pongah itu sampai-sampai pagar besi sanggup mereka lompat, pohon tinggi sanggup mereka panjat, dan bukit gunung sanggup mereka daki. 
Aku adalah tsunami. Gelombang besar dari muntahan air laut terdahsyat yang pernah terjadi di abad ini. Bukan salahku jika aku menyapu daratan Aceh. Bukan keinginanku jika aku meninggalkan jejak-jejak sejarah di tanah yang kerap dijuluki Serambi Mekkah itu. Sebuah julukan yang lucu bagiku dan mengundang gelak tawa makhluk-makhluk langit. Mungkin julukan itu belum layak disematkan jika kita tahu manusia-manusia yang hanya melepaskan hajat di tanah itu, memiliki kelakuan yang buruk. Pejabat mereka berperut besar-besar. Entah apa isi di dalam perut mereka. Aku yakin mungkin isinya adalah besi, semen, pasir-pasir, minyak, gas, tambang, hutan, laut, atau semua sumber daya alam yang bisa mereka curi. Semoga Tuhan mengampuni mereka. 
Aku juga dapat melihat pasangan-pasangan haram memacu nafas mereka di bawah remang cahaya bulan. Pendusta-pendusta agama berkeliaran sepanjang jalan. Orang berlagak alim tapi hatinya justru pencuri. Para politikus berdasi yang memasang muka sedih di hadapan rakyat. Para legislator yang bernafsu dengan jabatan dan mengorbankan kepentingan rakyat. Manusia-manusia di tanah itu disibukkan dengan uang recehan. Mereka saling membunuh, menghujat, menyebarkan fitnah, dan saling memusuhi. Laku apa yang terjadi di tanah “suci” itu? Apakah Tuhan telah abai mengingatkan mereka? Apakah Tuhan tidak pernah melihat keburukan mereka yang coba ditutup rapat? Mereka telah ingkar nikmat. Maka tunggu saja balasan Tuhan. 
Aku adalah tsunami. Gelombang besar yang tidak hanya menyinggahi Aceh. Di saat yang bersamaan aku mengobrak-abrik Thailand, India, sebagian kecil Amerika Selatan. Meskipun kekuatanku di sana hanya sedikit karena telah kukuras habis untuk meluluhlantakkan Aceh. Aku adalah penguasa lautan. Sedangkan saudaraku gempa adalah penguasa bumi. Kalian manusia jangan pernah berlagak sombong di bumi dan laut. Kalian harus bercermin pada setiap kesalahan dan dosa. Aku bisa meminta kepada Tuhan, memohon ampunan kepada-Nya, untuk tidak menampakkan kekuatanku pada suatu kaum yang kuanggap dapat kuselamatkan. Meskipun begitu, Tuhan Maha Tahu. Aku adalah makhluk Tuhan yang tidak tahu apa-apa. Hanya siap diperintah kapan pun Tuhan menitahkanku. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *