Jejak-jejak Laut Bagian 10

Aku kembali ke Makassar setelah dua bulan berada di Aceh. Kakakku akan menikah, jadi aku harus berada di sampingnya. Selama aku dua bulan di Aceh, aku telah mengunjungi beberapa situs sejarah, pantai-pantai, dan jejak-jejak tsunami. Ada hikmah yang dapat kuambil dari perjalananku ke Aceh. Pertama aku semakin dekat dengan keberadaan Tuhan. Aku kembali mengingat dosa-dosa masa laluku. Kenakalan remaja, gaya hidup yang hedonis, pergaulan yang terlalu bebas, dan gelora nafsu muda yang saat ini sangat kusesali. Aku menyadari kalau aku bukan perempuan baik-baik. Namun untuk berubah tentu belum terlambat.

Ilustrasi gadis Indonesia
Ilustrasi gadis Indonesia. Sumber dari Pixabay.

Sekarang kepalaku tak pernah lepas dari kerudung. Keluargaku pun agak tercengang melihat perubahanku. Di sisi lain mereka bersyukur karena aku tidak sering lagi membantah perkataan mereka. Aku pun sudah sering meminta pada ibu untuk mengajariku memasak. Jadi waktuku saat ini lebih sering kuhabiskan bersama keluargaku dibandingkan dengan Hendri, kekasih hatiku yang tampan.

Hendri juga merasa terkejut melihat perubahanku. Tapi ia tidak berhak melarangku agar aku memakai pakaian seperti dulu. Aku sudah sering bergabung dengan organisasi-organisasi penyuka hijab. Aku belajar cara memakai kerudung dengan model-model terbaru. Aku memuji diriku sendiri di depan cermin. Jujur kukatakan, betapa cantiknya diriku dalam balutan kerudung. Hendri merasa jengah karena aku juga tidak mengizinkannya untuk mengecup bibirku sebagaimana yang sering ia lakukan dulu padaku.

Ada kekuatan dalam diriku untuk menolaknya. Ia mencoba merayuku berkali-kali. Berusaha meruntuhkan dinding-dinding imanku. Aku pun tak segan mengancamnya agar hubungan ini berakhir. Ternyata ia memang sama dengan laki-laki yang pernah menjadi pacarku dulu. Hanya tertarik pada kecantikan dan keindahan fisikku. Apakah perubahan disebabkan oleh kehadiran Muhsin?

Aku berada di antara dua jalan yang sulit kupilih. Dua jalan itu sama-sama penting bagiku. Muhsin – sebagaimana kita tahu – adalah duda malang yang sedang mencari pengganti jiwanya yang sedang kosong. Aku dapat merasakan binar matanya dan semangat mudanya mengalir dalam darahnya ketika berada dekat di sisiku. Aku belum bisa menentukan pilihan apakah aku bisa mencintainya atau tidak. Jujur kukatakan kalau aku menyukainya. Tapi cinta tidak cukup bagiku untuk mengarungi sebuah bahtera rumah tangga yang kapan saja bisa tenggelam ketika berlayar di lautan yang luas.

Hatiku bisa berpaling dari Hendri. Sebenarnya ia adalah laki-laki yang baik dan setia. Kesetiaannya tidak perlu kuragukan lagi. Meskipun kadang ia merasa kesal karena tidak bisa seenaknya lagi memelukku. Aku ingin mengujinya apakah ia benar-benar mencintaiku atau hanya sekadar mencintai tubuhku saja. Jadi untuk saat ini, lebih tepatnya aku sedang memberikan cobaan kepadanya. Jika ia lulus, aku akan siap kapan pun ia ingin menikahiku. Tapi jika ia tidak lulus, aku terpaksa memutuskan hubungan kami yang sudah berjalan tiga. Waktu yang sangat lama untuk membina hubungan.

Tadi kenapa kukatakan kalau sosok Hendri adalah sosok yang setia. Aku mengenalnya sejak kami masih sama-sama bersekolah di SD. Ia anak yang cerdas dan mudah bergaul. Ia tidak akan pernah mengkhianati persahabatan, mungkin juga cinta. Aku adalah perempuan kedua yang pernah ia cintai. Perempuan pertama ia cintai selama lima tahun telah melukai cintanya. Perempuan itu ternyata telah dinikahi oleh seorang pejabat di kota kami. Ia terbuai dengan janji-janji manis sang pejabat. Kudengar saat ini, perempuan sedang diambang kehancuran. Pejabat itu telah menelantarkannya dan beralih ke pelukan perempuan lain yang lebih muda dan cantik.

Hendri tidak pernah memaafkan orang-orang yang berkhianat. Sampai mati sekali pun. Sehingga jika ia tahu cintaku berbagi dengan orang lain, ia juga akan melakukan hal yang sama. Ia tidak akan pernah memaafkanku. Sampai saat ini cintanya tidak pernah luntur dan berkurang terhadapku. Belum pernah aku mendengar kabar burung yang mengatakan bahwa ia telah berselingkuh di belakangku. Sama sekali tidak. Bahkan dari mulut sahabat baikku, Diana, yang juga sahabat baiknya. Jadi aku tidak perlu mengkhawatirkan Hendri ketika aku berada di Aceh. Justru yang kutakutkan adalah diriku yang bisa saja terjerumus ke dalam perangkap cinta yang dipasang oleh Muhsin, laki-laki malang yang perlu dikasihani.

Hubunganku dengan Hendri masih baik-baik saja meskipun aku mengubah cara hidupku. Ia sekarang tidak bisa seenaknya mengajakku kencan, dan mengantarkanku pulang hingga larut malam seperti dulu. Ia mulai bisa memahamiku. Bukankah betapa besarnya cintanya terhadapku? Aku meminta ampun pada Tuhan karena telah salah menilainya selama ini. Aku tahu, gelora nafsu muda memang bisa datang kapan saja akibat iman dengan gampang digoda setan. Aku akan mengajak Hendri untuk kembali kepada jalan yang lurus, jalan yang sesuai dengan aturan agama kita.

Hendri menolak ajakanku. Katanya ia bukan orang alim yang taat beribadah. Ia tetap akan hidup seperti caranya hidup. Tapi ia akan berusaha untuk tidak meninggalkan ibadah lagi. Aku pun menyetujuinya. Jadi ketika panggilan ibadah sudah tiba, aku akan selalu mengingatkannya. Meskipun di belakangku ia tidak segera melakukannya. Aku tahu kesibukannya di kantor. Memang suasana perkantoran di sini agak berbeda dengan di Aceh. Jika di Aceh, ketika azan berkumandang, seluruh aktivitas dihentikan. Dan orang-orang diharuskan untuk melaksanakan ibadah. Di setiap perkantoran diharuskan memiliki mushalla kecil sebagai tempat ibadah bagi orang-orang Muslim.

“Apakah kau akan kembali ke Aceh, Nadia?” tanya Hendri suatu ketika. “Sebaiknya kau tidak kembali ke sana. Aku cemas kau akan melupakanku dan menciptakan duniamu sendiri.”

“Maksudmu?” tanyaku tidak mengerti.

“Aku tahu di Aceh ada syariat Islam. Tapi kita di sini, hukum itu tidak berlaku. Jadi kau tak usah kenakan kerudung itu lagi. Aku ingin kau seperti yang dulu lagi, Nadia,” Hendri memohon, ia mencoba memegang jemariku. Tapi segera kutepis.

“Tidak ada yang salah, Hen. Entah kenapa aku merasa dunia ini akan berakhir. Aku hanya takut mati dalam keadaan dosa. Aku menyaksikan bagaimana kedahsyatan tsunami di Aceh walaupun aku tidak mengalami langsung. Tapi benda-benda peninggalan tsunami cukup membuatku takjub pada mukjizat Tuhan. Apakah kau tahu ada sebuah masjid yang tak lekang atau rusak sedikit pun oleh gelombang tsunami. Padahal bangunan di sampingnya hancur berantakan.”

“Ya, aku pernah melihatnya di internet.”

“Apakah kau pernah melihatnya secara langsung dengan mata kepala sendiri?”

Hendri menggeleng kepalanya.

“Jika kau bisa melihatnya, aku yakin kau akan menyadari bahwa Tuhan itu Maha Kuasa.”

“Tapi, Nad, kenapa harus berubah?”

“Berubah untuk menjadi sesuatu hal yang baik, aku pikir itu sebuah kemajuan. Aku hanya ingat dosa-dosa yang pernah kita lakukan, Hen. Aku baru tahu kalau cara kita berpacaran selama ini salah. Tapi aku masih mencintaimu. Jujur kukatakan dalam lubuk hatiku yang paling dalam. Apakah kau masih mencintaiku dengan keadaanku yang seperti ini, Hen?”

Tanpa ragu Hendri menjawab dengan tegas, “Ya, Nad. Aku masih mencintaimu dan berharap suatu saat nanti, anak-anakku akan lahir dari rahimmu.”

Aku terharu mendengar jawabannya itu. Sebuah jawaban yang tulus dan tanpa dibumbui kedustaan. Rasanya aku ingin sekali memeluknya erat-erat. Dan pelukan itu tidak akan pernah kulepaskan lagi. Tuhan, terima kasih telah menciptakannya untukku. Aku tak berhenti berharap agar ia mau mengikuti jejakku. Setelah selesai pernikahan kakakku, aku kembali ke Aceh. Aku ingin segera menuntaskan tulisanku tentang Aceh. Seharusnya waktu dua bulan kemarin dapat kuselesaikan. Namun, sangat disayangkan aku tidak terlalu mengejar objek-objek yang seharusnya menjadi fokus penelitianku. Tapi tak apa, Tuhan telah membuka jalanku agar aku bisa lebih mengenal-Nya. Semoga hatiku selalu terjaga dan terlindungi dari godaan setan-setan yang terkutuk.

Lihat juga bagian lainnya:

  • Bagian 1
  • Bagian 2
  • Bagian 3
  • Bagian 4
  • Bagian 5
  • Bagian 6
  • Bagian 7
  • Bagian 8
  • Bagian 9

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *