Jejak-jejak Laut Bagian 11

Percayakah kalian bahwa ada kehidupan setelah mati? Kehidupan panjang yang hanya menunggu, menunggu ketidakpastian yang nyata, ketidakpastian yang tidak pernah pasti kapan datangnya, itulah kiamat. Orang-orang yang telah mati sepertiku akan selalu berdoa pada Tuhan agar kiamat segera menjemput kami. Jika kiamat tidak pernah datang, kami akan terperangkap di dunia barzah ini, dengan rupa siksa dan nikmat. Meskipun kematian telah memisahkan antara ruh dan jasad, tapi kematian tetaplah hal yang sangat menyakitkan. Aku tidak pernah menyangka bahwa setelah kematian hidup akan benar-benar berakhir. Tidak ada yang berakhir karena kita telah memulainya. Apa yang kita mulai di dunia, maka itulah yang akan kita tuai di akhirat.

Jasadku hilang di laut. Tsunami merenggut keindahan hari yang baru saja kunikmati. Gempa mengguncang bumi, diikuti gelombang tsunami. Menyapu segala makhluk dan benda. Aku yang baru saja menikah, harus mati dalam keadaan kotor. Tapi bukan salahku mati dalam keadaan haid, itu semua kehendak Tuhan.

Sebelum aku sempat memegang pinggang suamiku, ia memacu sepeda motornya. Tapi kalah kencang dengan kecepatan tsunami. Aku terpental setelah gelombang tsunami membenamkan kami. Suamiku terseret bersama sepeda motornya. Aku melihat ia seperti orang kebingungan yang berusaha menyelamatkan dirinya. Aku berteriak-teriak memanggil namanya. Tapi ia tidak mendengarkanku. Aku merasa kesal karena ia terlalu memikirkan keselamatan dirinya. Tapi kekesalanku lenyap ketika menyadari bahwa sangat sulit untuk bisa lepas dari genggaman tsunami. Dengan pasrah dan berserah diri kepada Tuhan aku merelakan tubuhku di ombang-ambing oleh gelombang tsunami yang kalap. Gelombang kedua benar-benar menenggelamkan tubuhku. Ruh dan jasad pun berpisah.

Sungguh kematian adalah sesuatu yang misteri. Siapa pun tidak akan tahu kapan kita akan mati. Jadwal kematian kita bahkan telah ditentukan sebelum kita dilahirkan. Nama-nama kita sudah tercatat di Lauhul Mahfudz. Ketika kematian sudah datang, sepeseribu detik pun tidak bisa kita tunda. Sebagaimana firman Tuhan dalam kalam-Nya – semoga aku selalu diampuni Tuhan – yang artinya: Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya. Malaikat telah bersiaga dengan tugasnya.

Sungguh kematian selalu tidak diharapkan oleh siapa pun, kecuali orang-orang berputus asa. Ketika ruh sudah berada di ujung rambut atau kaki, penyesalan dan ampunan tiada guna. Kita hanya berharap pada segala kebaikan yang pernah kita lakukan selama menikmati udara segar yang disediakan oleh Tuhan secara percuma di dalam dunia yang fana ini. Maka beruntunglah orang-orang yang telah menanam amal baik selama hidupnya di dunia, dan celakalah bagi orang-orang yang menanam kebusukan selama ia hidup dengan penuh kesombongan di dunia.

langit malam, jejak-jejak laut
Ilustrasi galaksi di ruang angkasa. Gambar dari Pixabay.

Tujuh hari tujuh malam aku mencari jasadku. Tapi aku tidak pernah menemukannya. Empat puluh empat hari aku kembali di mana aku tenggelam. Berharap jasadku tetap utuh dan dikuburkan secara layak. Namun, tidak juga aku menemukannya. Setelah itu aku merelakan jasadku yang hilang entah ke mana.

Aku tidak akan menceritakan kehidupan ruhku di alam barzakh ini. Cukuplah kalian merenungkannya sendiri dan mencari jawaban atas segala misteri Tuhan. Selama di alam ini, kami selalu merindukan tiupan-tiupan Sangkakala. Tiada yang lebih indah selain mendengar suara Sangkakala itu yang menurut riwayat tiupannya itu akan menghancurkan alam semesta ini. Segala yang hidup akan mati. Sebagaimana Tuhan telah mengingatkan manusia pada ayat-ayat-Nya – semoga Tuhan selalu mengampuni dosa-dosaku – yang artinya: Dan ditiuplah Sangkakala, maka matilah semua yang di langit dan di bumi, kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah.

Gempa yang tejadi di Aceh pada 26 Desember 2004 diikuti gelombang tsunami belum apa-apa jika dibandingkan dengan akhir dunia ini. Tuhan selalu dan tak pernah bosan-bosannya memberikan pelajaran penting bagi manusia. Tugas manusia adalah mencari jawaban dan merenungkan secara mendalam di balik segala pelajaran dan ujian yang dibebankan Tuhan.

Setelah Sangkakala pertama, kita akan menyambut Sangkakala kedua dengan penuh suka cita. Tidak, mungkin hanya sebagian saja yang bersuka cita, selebihnya akan bermuram durja. Pada tiupan Sangkakala yang kedua ini, kita yang telah mati akan dibangkitkan kembali oleh Tuhan. Dan kita akan menuju ke hadapan-Nya dengan muka yang tertunduk seakan-akan kita malu pada apa yang harus kita pertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Selama perjalanan itu, beban pikiran akan memenuhi benak manusia. Jangan pernah menyembunyikan sesuatu apa pun di hadapan Tuhan. Sungguh pengadilan Tuhan adalah pengadilan yang seadil-adilnya. Firman Tuhan – semoga Tuhan tidak membebaniku dengan dosa-dosa yang menumpuk – yang artinya: Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakannya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan Segala Sesuatu.

Tahukah kalian setelah kita semua dibangkitkan dan berjalan menuju peradilan-Nya, kita dikumpulkan seluruhnya di sebuah padang yang dinamakan Mahsyar. Di sinilah manusia akan menunggu gilirannya untuk dipanggil menghadap Tuhan guna mempertanggungjawabkan segala laku, ucapan, dan hati mereka selama hidup di dunia. Segala amal kita yang telah dicatat akan diperlihatkan kembali kepada kita. Tidak ada catatan yang luput sedikit pun dari pengawasan para malaikat. Tuhan berfirman dalam ayat yang lain – ampunan Tuhan menyertaiku selalu – yang artinya: Dan kamu lihat tiap-tiap umat dipanggil untuk melihat buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang kamu kerjakan.

Buku catatan amal kita akan kembali pada kita. Ia serupa rapor yang diterima oleh anak-anak sekolah setelah menyelesaikan ujian mereka. Jika amal catatan kita bagus, maka kita akan menerimanya dari sebelah kanan. Namun jika amal catatan kita buruk, maka kita akan menerimanya lewat belakang atau dari sebelah kiri. Amal-amal kita selanjutnya akan ditimbang melalui Mizan, sebuah timbangan yang akan menimbang dengan adil.

Apakah penjelasanku tadi dapat kalian pahami? Atau kalian sudah menutup mata atau telinga karena sudah bosan dengan ceramahku. Baiklah, aku tidak mempersoalkannya. Yang penting aku sudah mengingatkan kalian semua tentang kematian. Kalian jangan terlena dengan kehidupan dunia yang hanya sesaat. Selalu-lah kalian merendahkan hati di atas dunia. Jangan pernah membuat Tuhan marah.

***

Aku adalah ruh yang kesepian. Kekasih malangku harus menjalani kehidupan di dunia tanpa kehadiranku. Aku tahu ia juga akan merasa kesepian. Tapi di sini, aku telah menyiapkan satu tempat untuknya, agar aku tidak akan kesepian lagi. Aku percaya akan adanya cinta sejati. Cinta yang akan mempersatukan kami kembali di alam yang lain. Namun aku juga akan merelakan jika ia telah memiliki tambatan hati yang baru. Aku tidak akan melarang dirinya untuk menikahi perempuan lain. Aku tidak kuasa untuk itu.

Aku hanya bisa berdoa pada Tuhan – selebihnya tidak – agar kekasihku itu dapat menjalani kehidupannya di dunia secara lebih baik. Jika pun ada perempuan lain yang menggantikan posisiku, aku harap ia dapat mencintai kekasihku seperti aku mencintainya. Jika pun tidak ada perempuan yang bisa mengisi kekosongan hatinya, aku harap suatu saat kami akan dipersatukan kembali. Semoga ini bisa terwujud.

Akulah ruh kesepian itu. Hanya bisa mengenang kembali masa-masa indah bersamanya. Pertama sekali aku bertemu dengan Muhsin pada sebuah acara di kampungku. Aku saat itu masih menjadi penari ranup lam puan. Sebuah tarian Aceh untuk menyambut para tamu. Ketika rombongan walikota tiba, aku dan beberapa penari lain mulai menyambut mereka. Kami menari tanpa beban, mengikuti hentakan irama rapa’i dan alunan mendayu-dayu serune kale.

Setelah kami selesai menarikan ranup lam puan, Muhsin mendekatiku. Aku tidak tahu dari mana ia datang. Kami bercakap-cakap sejenak, dan ia mengutarakan niatnya untuk mengajakku melatih murid-muridnya.

“Tapi saya tidak sanggup mengajar anak-anak sendirian. Bolehkah saya mengajak seorang kawan?” tanyaku.

“Ya, silakan.”

Aku memang sering melatih anak-anak menari tradisional Aceh. Mungkin seseorang telah merekomendasikan diriku padanya. Tapi aku tidak ingin tahu siapa orang yang telah berbaik hati itu.

Kami pun sering bertemu setiap Sabtu sore. Setiap pertemuan kami telah memantik percikan api cinta. Aku mengaguminya sebagai seorang guru yang santun, cerdas, dan tentu juga tampan. Aku pun mulai memikirkannya dan berharap ia bisa menjadi kekasihku.

Kebahagiaan memang datang akhirnya. Tanpa melewati proses pacaran lazimnya yang sering dilakukan oleh remaja-remaja masa kini, Muhsin melamarku. Tentu saja aku tidak bisa menolaknya, meskipun dalam hubungan kami yang saling berbagi cerita tidak pernah sekali pun ia mengungkapkan cintanya padaku. Ia dengan beraninya meretas jalan ke pernikahan dengan menjumpai ayahku yang bertampang garang.

Ayahku sebagai orang yang sangat dihormati di kampung, tidak serta merta menerima pinangan Muhsin. Ia mulai mencari tahu latar belakang keluarganya. Dan setelah bahan-bahan yang diperlukannya cukup, ayahku mendatangiku.

“Siti, ada seorang pemuda yang akan melamarmu. Ayah pikir, memang kamu sudah saatnya untuk berkeluarga, agar tidak timbul fitnah,” kata ayahku. “Bagaimana menurutmu, Nak?”

“Jika ayah telah memutuskannya, saya tidak kuasa untuk menolaknya,” jawabku.

“Tahukah kamu siapa yang akan menjadi calon suamimu?”

“Iya, ayah. Saya sudah tahu,” jawabku tersimpul malu.

“Jadi, kamu selama ini berpacaran dengan pemuda itu?” tanya ayahku penuh selidik.

“Tidak, ayah. Saya tidak pernah melakukan hal itu. Bukankah ayah mengajarkan kami dan melarang kami untuk melakukan perbuatan dosa? Bang Muhsin adalah guru di mana saya mengajari murid-muridnya menari. Bang Muhsin dan saya telah saling mengenal. Dan ia berniat untuk menjadikan saya sebagai istrinya. Saya mengatakan agar membuat lamaran pada ayah. Semoga ayah tidak menolak lamarannya,” kataku menjelaskan kepada ayahku agar tidak timbul prasangka buruk.

“Ya, ayah sudah menerima pinangan keluarganya. Tapi belum memberikan keputusan. Kalau kamu memang menginginkan Muhsin menjadi suamimu, ayah tidak masalah. Karena ayah pun sudah menyelidik asal-usulnya. Dan ayah pikir, Muhsin adalah laki-laki yang baik. Baiklah, Nak. Ayah akan bermusyarawah dengan seluruh anggota keluarga kita.”

Begitulah, Muhsin menikahi dengan mas kawin 20 mayam emas. Jumlah yang sangat besar dan akan membuat calon linto baro tercekik. Tapi ini sudah menjadi adat kami. Bukan maksud memberatkan pihak linto baro, tapi ini sebagai salah satu bentuk untuk menguji kesiapan materi dan mental dari sang linto baro. Keluarga dara baro tentu tidak akan menyerahkan anak gadisnya kepada laki-laki yang belum mapan dan siap secara mental untuk berkeluarga. Menikah bukanlah perkara main-main. Di dalamnya ada ikatan suci yang semestinya dijaga utuh sampai kapan pun. Dan ingatlah, Tuhan sangat membenci perceraian. Apakah kalian tidak menonton di televisi-televisi yang menayangkan gosip murahan di mana banyak artis dengan bangganya menuntut perceraian?

Seorang laki-laki sejati akan siap memenuhi berapa pun mas kawin yang ditetapkan oleh keluarga dara baro. Ada kehormatan yang juga mesti dijaga. Ada tantangan yang harus dihadapi. Itu semua demi kesiapan dalam membina sebuah rumah tangga yang dipenuhi dengan rintangan. Kebersamaan dan saling menutupi kekurangan sangat dibutuhkan agar keluarga yang kita bangun akan selamanya utuh. Tidak runtuh dan timpang oleh segala cobaan dan ujian.

Pesta pernikahan antara aku dan Muhsin digelar dengan mengundang seluruh masyarakat kampung, sanak famili, dan kerabat jauh. Ayahku menyembelih seekor lembu dan lima ekor kambing untuk kenduri pernikahan. Menurut adat kami, kenduri ini dilakukan sebagai upaya terakhir yang bisa dilakukan oleh orang tua dara baro sebelum melepaskan anaknya kepada suaminya. Ia akan mengikuti ke mana pun suaminya melangkah. Ia akan melayani suaminya dalam kondisi apa pun. Dan seorang suami juga wajib memenuhi segala kebutuhan sang istri.

Aku sudah memikirkan masa depan yang cemerlang bersama suamiku. Aku sudah membayangkan berapa jumlah anak yang ingin kususui. Aku sudah memimpikan kehidupan di hari tua nanti bersama suamiku tercinta. Tapi Tuhan berkehendak lain.[]

Lihat juga bagian lainnya

  • Bagian 1
  • Bagian 2
  • Bagian 3
  • Bagian 4
  • Bagian 5
  • Bagian 6
  • Bagian 7
  • Bagian 8
  • Bagian 9
  • Bagian 10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *