Jejak-jejak Laut Bagian 12

Nadia telah kembali ke Aceh. Betapa aku merindukan kehadirannya. Aku ingin selalu berada di dekatnya. Nadia serupa laut tenang yang memberikan kedamaian bagiku. Tapi ia bisa juga menjelma sebagai amuk laut yang membuat kegalauan hatiku berada di ujung keresahan. Aku tidak sabar ingin bertemu dengannya dan mengajak Nadia untuk pergi ke sebuah pantai yang berada di Kabupaten Aceh Besar.

Hari ini aku mengajaknya untuk menyaksikan sebuah tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang kami. Tradisi itu adalah kenduri laut atau khanduri laot. Nadia sangat tertarik mendengarnya. Karena lokasinya agak jauh, maka ia mengajak serta Yusniar yang dengan senang hati diterimanya karena kebetulan pada hari itu adalah Minggu. Kami berangkat dengan menggunakan mobil Yusniar.

Sejujurnya aku kurang senang karena Nadia mengaja Yusniar yang agak cerewet itu. Pasti aku tidak memiliki banyak waktu bersama Nadia setelah lama tidak berjumpa.

“Ada makan-makannya ga, Bang?” tanya Yusniar sambil menyetir.

“Tentu saja. Yang namanya kenduri pasti ada makan-makannya,” jawabku datar.

“Wah, sudah lama saya tidak ke Ujung Batee. Hei, Nad, kamu pasti akan betah di sana. Lautnya sangat indah. Ombaknya tidak terlalu besar. Kita bisa mandi laut di sana. Apa kamu membawa baju ganti?” Yusniar sangat bersemangat menyetir mobilnya.

“Waduh, aku tidak membawanya,” jawab Nadia.

“Apa? Kan tadi sudah kubilang berkali-kali untuk membawa baju ganti!” Yusniar terlihat kesal.

Nadia hanya tersenyum saja. Tampaknya ia memang sengaja tidak membawa baju ganti. Mungkin ia sedang tidak ingin mandi laut.

“Atau kamu tidak ingin mandi laut, ya?”

“Iya juga, sih. Lagi ga mood,” Nadia menjawab santai. “Bang Muhsin, kenduri laut itu dirayakan untuk apa ya?” Nadia bertanya kepadaku.

“Saya kurang tahu persis juga. Nanti kita tanyakan sama-sama pada Cek Midi.”

“O ya, aku baru ingat. Kamu pernah bilang kalau Cek Midi kan kolektor manuskrip kuno.”

“Benar. Cek Midi memang seorang kolektor. Beliau tinggal di kawasan Ujong Batee. Meskipun beliau bukan nelayan, tapi beliau keturunan pelaut.”

Kami tiba di rumah Cek Midi. Orang-orang kampung tampak sibuk mempersiapkan acara kenduri laut. Cek Midi menyambut kami dengan menghidangkan beberapa penganan khas Aceh. Sebelumnya aku memperkenalkan Nadia dan Yusniar.

“Bagaimana, Nadia. Apa kamu sudah diajak berkeliling seluruh Banda Aceh oleh Muhsin?” tanya Cek Midi. “Muhsin banyak menceritakan tentangmu pada kami.” Cek Midi menyenggol lenganku. Ia tersenyum penuh arti.

“Belum seluruhnya, Cek,” jawab Nadia singkat.

“Begini, Cek. Dalam acara kenduri laut ini, bolehlah Cek Midi menjelaskan nanti pada kami,” pintaku.

“Tidak masalah, sebentar lagi kita akan ke laut. Acara mungkin setengah jam lagi akan dimulai,” jawab Cek Midi. Lalu Cek Midi melihat ke arah Yusniar yang tampak merengut. “Ini Yusniar, ya? Haji Uma mana?” canda Cek Midi.

Tentu saja Yusniar tambah cemberut. Aku hanya tertawa saja. Di Aceh, tidak ada yang tidak mengenal nama Yusniar. Tapi Yusniar yang ada di depanku, melainkan Yusniar si tokoh dalam film komedi serial Aceh Eumpang Breueh.

Setelah kami menikmati secangkir kopi kampung dan beberapa kue adee, kami diajak Cek Midi ke laut. Orang-orang yang kebanyakan berprofesi sebagai nelayan sangat disibukkan dengan persiapan sehingga tidak memperhatikan kedatangan kami.

“Kenduri laut adalah sebuah tradisi yang sudah ada sejak zaman dulu,” kata Cek Midi mulai menerangkan. Nadia pun mengeluarkan buku catatan kecilnya. Kenduri laut atau tron u laot (turun ke laut) dilaksanakan sehubungan dengan para nelayan yang hendak turun ke laut (melaut). Ini dimaksudkan supaya para nelayan ini diberikan keselamatan dan dapat memperoleh ikan yang banyak selama berada di laut.”

“Tapi bukankah rezeki dan maut telah ditentukan oleh Tuhan?” sanggah Nadia.

“Benar. Saya belum selesai menjelaskannya. Sabar ya, Nak,” balas Cek Midi. Aku hanya terkekeh melihat tingkah Nadia. Sedangkan Yusniar tampak sibuk dengan pikirannya sendiri. “Sebelum Islam datang ke sini, acara kenduri laut memang sudah ada. Dulu pelaksanaannya sangat jauh dari nilai-nilai Islam. Masyarakat masih percaya dengan adanya dewa dan hantu-hantu. Kehidupan laut adalah kehidupan yang penuh mara bahaya. Laut yang kelihatannya tenang bisa berubah menjadi ganas sewaktu-waktu. Mungkin dewa atau hantu-hantu laut sedang marah. Jadi untuk meminta keselamatan, para nelayan pun melaksanakan pengurbanan untuk diberikan kepada dewa-dewa atau hantu-hantu laut. Pengurbanan ini juga berguna agar para nelayan tidak mendapat gangguan dari hantu-hantu laut itu.” Cek Midi menjelaskan panjang lebar.

Nadia menulis poin-poin penting saja. Ia mulai tertarik dengan tradisi turun ke laut ini. Di Makassar, ada juga ritual semacam ini. Tapi ia tidak pernah tahu dan menyaksikan ritual itu. Yang ia tahu, nenek moyangnya juga keturunan para pelaut. Buktinya di daerahnya sangat terkenal dengan kapal kayu berlayar, yaitu kapal pinisi.

“Dulu, para nelayan mengurbankan seekor kerbau yang besar. Kerbau itu diarak sepanjang bibir pantai sambil ditetak sehingga mengeluarkan darah. Darah-darah ini dipersembahkan kepada hantu-hantu laut, misalnya hantu laut Nek Jeumblang, Nek Jeuboh, ataupun Nek Jeuheng. Para hantu ini diharapkan menjadi puas dengan meminum darah kerbau itu. Kalau para hantu ini sudah puas, maka diyakini ikan-ikan akan banyak ditangkap oleh para nelayan.”

“Saya tidak pernah mendengar nama hantu-hantu itu, Cek,” selaku.

“Itu hantu-hantu laut. Orang-orang menamakan hantu menurut peristiwa yang terjadi. Tapi saya tidak tahu kenapa hantu-hantu laut itu dinamakan demikian,” jawab Cek Midi.

“Aneh-aneh sekali namanya. Saya hanya tahu nama hantu seperti maop, geunteut, burong,” tambah Yusniar.

“Kita lanjutkan cerita kita. Setelah Islam datang, tujuan dan pelaksanaannya pun berubah. Tujuan kenduri laut adalah sebagai salah satu bentuk rasa syukur nelayan kepada Tuhan. Pelaksanaan kenduri juga ditujukan dengan mengundang seluruh anak yatim yang ada di kampung. Tapi penyembelihan kerbau tetap dilakukan. Hanya saja teknisnya berbeda dengan dulu. Kalau sekarang kerbau yang telah dihiasi dan ditepungtawari, kemudian disembelih, dagingnya diambil untuk dimasak dan dimakan bersama-sama dengan anak yatim, para undangan, dan seluruh masyarakat kampung. Acara juga diselingi dengan zikir, bacaan shalawat, dan doa.”

Kami berhenti sejenak. Melihat seekor kerbau yang besar sedang dibersihkan. Tidak lama kemudian, kerbau itu dihiasi layaknya pengantin baru. Kerbau itu hanya menyeringai saja. Ia tidak tahu bahwa sebentar lagi dirinya akan disembelih dan dagingnya akan kami makan. Setelah itu, seorang tetua adat menyarungkan selembar kain putih pada tubuh kerbau itu. Panglima laot  lalu mengarak kerbau itu sepanjang bibir pantai. Anak-anak nelayan bersorak-sorai di belakang kerbau itu. Beberapa anak kecil itu menepuk-nepuk tubuh kerbau yang malang itu. Sebagian lagi malah ada yang nakal dengan menarik ekor kerbau yang membuat kerbau ini melenguh panjang. Tapi tindakan anak-anak ini mendapat hardikan dari seorang nelayan yang bertampang sangar. Anak-anak bukannya takut, malah lari sambil menyengir.

Setelah kerbau diarak, kerbau itu dikembalikan pada tempat acara. Lalu kerbau itu disembelih. Tubuh malang kerbau itu menggelepar-gelepar. Setelah kerbau diyakini sudah tidak berdaya, beberapa orang menguliti kerbau itu. Dagingnya dipotong-potong sedemikian rupa dan dimasak dengan campuran rempah-rempah dalam sebuah belanga raksasa.

“Cek Midi, saya mau tanya?” Nadia mengajukan pertanyaan.

“Ya, silakan.”

“Apakah setiap benda-benda pada acara ini memiliki arti penting?”

“Tentu. Setiap benda pada setiap ritual memiliki makna filosofis. Lihatlah di atas talam itu. Itu namanya bu leukat kuneng  yang berfungsi sebagai zat perekat. Jadi selama di laut, para nelayan harus saling tolong-menolong, tidak boleh egois atau mementingkan diri sendiri meskipun maut berada di depan mereka.”

“Kemudian di samping juga ada satu talam bahan-bahan peusijuek,” sambung Cek Midi. “Di atas talam itu terdapat dalong (dulang) yang bermakna manusia tidak bisa hidup tanpa orang lain. On seuneujuek (daun-daunan yang diikat) yang merupakan pengokoh. Maksudnya untuk mengokohkan hubungan antara sesama manusia. Daun-daunan yang diikat juga berfungsi sebagai obat penawar hati dalam menyelesaikan sesuatu permasalahan yang melanda. Jika ada masalah, haruslah diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Selanjutnya ada breueh pade (beras padi) yang merupakan simbol rasa syukur manusia pada Tuhan. Manusia tidak boleh menyombongkan diri di hadapan Tuhan. Teupong taweue ngon ie (tepung tawar dan air) bermakna untuk menenangkan hati masyarakat apabila sedang berkonflik. Sengketa harus diselesaikan dengan kepala dingin dan hasilnya harus diterima dengan lapang hati. Tidak boleh saling dendam. Glok (tempat cuci tangan) menandakan bahwa setiap rezeki yang diberikan oleh Tuhan haruslah dihemat. Tidak boleh dihabiskan dalam waktu sekejap. Sangee (tudung saji) untuk menutup bahan-bahan peusijuek bermakna bahwa manusia harus senantiasa meminta perlindungan Tuhan. Itulah beberapa filosofis dari bahan-bahan peusijuek acara kenduri laut. Tapi umumnya, bahan-bahan peusijuek ini sama seperti yang digunakan pada ritual-ritual adat lainnya.”

“Wah, saya kok tidak tahu ya selama ini mengenai fungsi alat-alat itu. Padahal saya sering melihatnya, tapi tidak pernah memahami esensinya,” celetuk Yusniar. “Jadi, acara makan-makannya kapan nih?” protes Yusniar.

“Sabar donk, kan dagingnya lagi dimasak,” kataku.

Kerbau yang sudah disembelih tadi tampaknya akan dilarungkan ke laut menggunakan sebuah kapal yang juga telah dihias. Kapal itu digiring oleh kapal pengiring yang di atasnya ada tiga orang nelayan berbadan gelap dan kekar. Sedangkan kapal pengurbanan dibiarkan kosong. Tampaknya kapal itu juga akan dipersembahkan ke laut. Kami semua menyaksikan kedua kapal itu sampai benar-benar menghilang.

“Kapal pengurbanan itu akan digiring ke tengah laut. Setelah itu kapal yang menggiringnya akan kembali ke darat. Tapi sebelumnya mereka akan melihat, apakah kapal itu dibawa angin sampai benar-benar menghilang ataukah kapal itu akan kembali ke darat. Jika kembali ke darat, pertanda kurang baik. Mungkin pertanda-pertanda hanya kebetulan saja. Jadi bisa diabaikan karena rezeki datangnya dari Tuhan.”

“Apakah ada pantangan selama acara ini berlangsung?” tanyaku.

“Ya, benar. Saya hampir lupa. Jadi setelah acara ini, para nelayan tidak dibenarkan untuk melaut selama tujuh hari tujuh malam.”

“Kalau pantangan ini dilanggar bagaimana?” tanya Yusniar penasaran.

“Kalau dilanggar, mungkin nelayan itu akan dikucilkan oleh nelayan-nelayan lain. Pantangan ini juga mengajarkan kepada kita bahwa manusia tidak boleh serakah. Di sinilah akan ketahuan mana nantinya nelayan yang serakah atau tidak.”

Matahari sudah berada pada puncaknya. Daging kerbau yang sedang dimasak mengumbar bau harum membuat perut-perut semakin memberontak. Tidak lama kemudian, kelompok yang telah melakukan zikir dan shalawat menengadahkan tangan mereka. Seorang tengku tampak memimpin doa. Kami pun mengangkat kedua tangan kami, ikut merasakan kekhusyukan doa-doa itu.

Selesai doa bersama, seluruh undangan menikmati kenduri. Kami pun ikut bersama mereka. Aku merasakan ada getar-getar gaib yang membelai kulitku. Bulu kudukku berdiri. Aku melihat laut jauh ke depan. Seakan-akan aku melihat bayang seorang perempuan yang sedang melambaikan tangannya ke arahku. Perempuan itu menyunggingkan senyuman paling indah. Air mataku menetes. Aku teringat istriku. Laut adalah rumahnya. Mungkin, akan menjadi rumahku juga.

Lihat juga bagian lainnya:

  • Bagian 1
  • Bagian 2
  • Bagian 3
  • Bagian 4
  • Bagian 5
  • Bagian 6
  • Bagian 7
  • Bagian 8
  • Bagian 9
  • Bagian 10
  • Bagian 11

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *