Jejak-jejak Laut Bagian 2

Jejak-jejak Laut Bagian 2

Siapalah aku ini di mata Tuhan. Hanya seonggok tanah yang tertimbun di atas bebatuan nisan berukir. Mungkin di dalamnya telah bersemayam jasadku yang tinggal tulang belulang. Mungkin sudah tak utuh lagi. Aku terpaku di pinggir pantai yang indah. Tempat bertemunya muara Sungai Aceh dan laut. Bertahun-tahun tubuhku terkubur di Deyah Raya. Sebuah desa yang terletak di Banda Aceh. Kecamatan tempat desa itu berada telah memakai namaku. Aku tidak tahu siapa yang mula-mula menggunakan namaku sebagai nama sebuah kecamatan. Padahal aku adalah makhluk Tuhan yang hina, belum pantas dihormati, dan sangat miskin ilmunya.

Akulah si fakir yang dahaga akan ilmu. Semakin dalam aku menyelami ilmu Tuhan, semakin kerdil diriku di hadapan Tuhan. Kepongahan yang selama ini bersembunyi di dalam sanubari terdalamku, seakan-akan membuktikan bahwa aku adalah manusia yang tidak tahu apa-apa. Aku terdampar di tengah samudera yang luas. Aku bagaikan burung yang tersesat di angkasa. Tidak tahu aku harus pulang ke mana, tidak tahu aku harus mendarat di mana. Apakah aku harus mengikuti jejak pingai yang mencari Simurgh? Aku tidak sanggup. Kekuatanku tidak serupa dengan kelompok pingai itu.

Aku hanyalah seorang lemah dari Singkil menuju Barus. Konon di kampungku yang beraroma kamper, aku menghabiskan masa kecilku menuntut ilmu untuk mengenal Tuhan. Anak-anak seusiaku wajib belajar ilmu agama, agar tidak sesat dalam kehidupan. Ilmu agama adalah pelita kehidupan. Barang siapa yang abai dalam menuntut ilmu agama, niscaya ia akan tersesat dalam hidupnya. Ia akan berjalan dalam kegelapan, meraba dalam kebutaan, membisu dalam perkataan, dan menuli dalam pendengaran.

Dahaga ilmu tidak pernah terpuaskan. Dari Barus aku menjadi pengelana. Berjalan ke seluruh negeri untuk mencari guru. Dari Barus menuju Pasai, dari Pasai ke Yaman, tak lupa ke Haramain. Bertahun-tahun aku hidup mencari ilmu. Bertahun-tahun aku berganti guru. Bertahun-tahun lamanya aku menggali mata air. Semakin dalam aku menggali, semakin payah aku mengenali. Mata air pengetahuan tidak pernah kurasai. Kampung halaman terlintas di hati. Para raja sudah menanti.

Hasrat hati ingin mengamalkan ilmu yang kuperolehi, maka Aceh Darussalam akan kusinggahi. Bukankah Tuhan akan melipatgandakan pahala bagi orang yang mengajarkan ilmu-ilmu-Nya? Aku tiba di Aceh Darussalam. Sebuah negeri yang indah dan makmur. Rajanya adil dan rakyatnya ramah. Tetapi petaka sedang bergejolak di negeri itu. Aku mendengar debat orang-orang alim. Saling meruntuhkan dan menyesatkan. Apa lacur sedang terjadi?

Seorang syekh yang alim yang sangat kuhormati ilmunya sedang mendakwa seorang syekh fakir yang berpakaian lusuh. Syekh Nuruddin – semoga Tuhan merahmatinya – dan Syekh Fansuri – semoga Tuhan juga merahmatinya – sedang diperhadapkan pada soal-soal kesesatan. Sebagai pengikut yang pernah belajar pada Sang Guru Hamzah Fansuri, tentunya aku tidak ingin sang guru dilecehkan. Bagiku Syekh Hamzah adalah mata air di tengah gurun pasir yang tandus. Beliau menyediakan air bagi musafir-musafir sepertiku yang ingin menuju makrifat Tuhan.

Tidak mungkin seorang mufti agung sekaliber Syekh Nuruddin menitahkan pada pengikut-pengikutnya untuk memburu pengamal wujudiyah. Pastilah ada keburukan yang menghasutnya. Membisiki kata-kata mutiara di depan beliau, dan meneriakkan kata-kata racun di belakangnya. Orang ini tidak boleh tidak adalah ular berbisa yang harus disadarkan. Tapi aku tidak boleh berprasangka buruk. Tuhan tidak mengajarkanku untuk berburuk sangka.

Syekh Nuruddin semakin mendapat simpati. Rakyat ramai-ramai mengagungkan beliau. Pengikut-pengikut Syekh Hamzah terpaksa melarikan diri. Mencari hutan karena diyakini Tuhan ada di sana. Aku harus memulihkan nama beliau. Tidak boleh ada anggapan dari rakyat Aceh Darussalam yang menuduh bahwa Syekh Hamzah tukang pembawa sesat. Apakah mereka tidak tahu bagaimana tingginya ilmu beliau dapat meruntuhkan langit? Apakah mereka belum tahu betapa indahnya syair yang meluncur dari mulut beliau sehingga bumi bergetar? Apakah mereka tidak pernah menyadari bahwa Syekh Hamzah dapat memuncaki langit dan menyelami laut hanya dengan keindahan kata-katanya? O, betapa tidak ramahnya mereka sekarang.

Lalu aku menantang Syekh Nuruddin. Aku menyaru sebagai Saiful Rijal, seorang hamba Tuhan yang fakir lagi lemah yang berasal dari Minangkabau. Seluruh negeri telah kulalui untuk mencari guru, dari Pasai ke Surat. Aku telah mencari tahu siapa guru yang mengajarkan ilmu kepada Syekh Nuruddin. Aku berjumpa dengan Ba Syayban, seorang pemukul rebana yang kebal api, dan tak luput dari sayatan pedang. Aku tahu kelemahan Syekh Nuruddin.

Maka pada waktu yang telah ditentukan, Sultanah mengadakan pertandingan debat untuk mengakhiri polemik wujudiyah. Aku tampil di atas arena yang dibuat di alun-alun istana. Rakyat memadati panggung. Syekh Nuruddin pun maju selangkah. Kami memulai debat dengan saling bertanya dan menjawab. Rakyat terpaku pada tempatnya. Mulut mereka menganga. Tidak mampu menangkap apa isi perdebatan itu. Mereka hanya bersorak ketika setiap pertanyaan terjawab tuntas. Mereka akan mencemooh ketika jawaban keluar dari mulut tergagap. Sedangkan sang sultanah, dengan mata yang mengantuk, mengikuti pertandingan debat dengan jalan pikirannya sendiri.

Perdebatan itu sangat berlarut-larut dan tentunya membosankan. Akhirnya aku mengatakan Syekh Nuruddin, “Wahai, Syekh yang mulia. Tuan guru bagi rakyat Aceh, sumber cahaya bagi penuntut ilmu, semoga Tuhan memaafkan kita. Tapi sebagai orang yang berilmu dan banyak tahu, kita bukanlah apa-apa di hadapan Tuhan. Ilmu Tuhan melebihi segalanya. Dan atas dasar apa Tuan Guru menuduh Tuan Hamzah sesat lagi menyesatkan? Bukankah Tuhan lebih tahu dari segalanya?”

Syekh Nuruddin pun tampaknya jenuh dengan perdebatan yang tak kunjung usai itu. Beliau menyadari bahwa tak guna memiliki pengikut yang banyak jika hati masih ternoda. “Benar katamu, wahai pemuda yang cerdas. Aku mengakui kekhilafanku selama ini. Tapi bukan berarti aku membenarkan paham wujudiyah. Bagiku Tuhan adalah Tuhan itu sendiri yang tidak menyerupai dengan apa pun. Aku juga menyadari ilmuku masih dangkal. Mohon sampaikan maafku pada saudaraku, Syekh Fansuri.”

Beliau meletakkan jabatannya sebagai mufti kerajaan di hadapan Sultanah. Beliau memilih mengasingkan diri dan berkarya dengan ketulusan niat. Kekuasaan hanya membutakan mata hatinya. Jabatan mufti pun berpindah ke tanganku. Jabatan ini sebagai amanah. Aku bersumpah di bawah kitab suci. Sumpah yang tidak boleh kulanggar hanya untuk memuaskan nafsu pribadi.

Siapalah aku ini di mata Tuhan. Hanya tulang belulang yang teronggok bisu di pinggir pantai Deyah Raya. Bertahun-tahun lamanya, sangat lama sekali, ketika dunia belum dibisingkan dengan ingar bingar mesin, asap-asap yang memabukkan, budaya malu sudah hilang. Banyak orang-orang yang memujaku. Membawa sesembahan yang aku tidak tahu apa isinya. Menitikkan air mata di depan nisanku. Mencium nisanku sambil merapal doa-doa yang tidak kuketahui isinya. Mereka meminta kepadaku, bukan kepada Tuhan. Sebuah pintaan yang menyayat hati, sebuah lagu yang mendayu-dayu, ratapan kepiluan dan beragam keluhan. Apakah mereka sedang kufur iman? Mereka berdoa pada tempat yang salah. Aku hanyalah seonggok tulang belulang yang mungkin tak utuh lagi.

Ada juga orang-orang yang mengirimkan al-Fatihah, ayat-ayat Qul hu, ayat demi ayat dari surat Yasin, kalimat-kalimat tasbih, yang sungguh damai dan tenang. Malaikat mencatat segala yang mereka lakukan dan membuka pintu langit agar ayat-ayat itu membasuh jiwaku. Memberikan keteduhan pada perjalanan panjang barzah, yang aku tidak tahu kapan segera berakhir. Orang-orang seperti inilah yang layak mendapatkan rahmat dan ampunan Tuhan. Semoga mereka senantiasa berada dalam lindungan Tuhan.

***


Makamku telah diperindah oleh tangan-tangan lihai. Sebuah bangunan beratap tanpa jendela menutupi makamku. Aku dihormati oleh orang-orang, padahal aku tidak butuh penghormatan yang berlebihan. Banyak juga peziarah-peziarah dari seberang pulau dan laut yang mengunjungiku. Mereka memiliki tujuan yang berbeda-beda.

Mungkin mereka penasaran ingin melihat bentuk makamku, atau melihat langsung bagaimana makamku tidak hanyut ditelan gelombang laut yang besar. Itu semua adalah pencitraan media yang terlalu dibesar-besarkan. Aku tetaplah seonggok tulang belulang yang mungkin tak utuh lagi. Aku tidak menyalahkan media-media atau peziarah-peziarah yang hanya sekadar menikmati keajaibanku.

Bagiku mereka juga perlu mengunjungi makamku agar mereka tahu bagaimana kematian akan datang kapan saja, tidak mengenal waktu dan tempat. Makamku sejatinya sama dengan makam-makam yang lainnya. Mungkin karena aku pernah menjabat sebagai mufti agung pada masa Sultanah, mereka memberi nilai lebih terhadap keberadaanku. Tidak apa, memang sejarah perlu direnungi dan dijejaki. Agar generasi kami tidak abai dan lupa bagaimana lelahnya para orang tua mereka berjuang membela agama demi tegaknya Islam di tanah yang sedang mereka duduki sekarang. Rekaman sejarah harus dicatat tanpa kepentingan penguasa supaya generasi muda tidak tertipu dengan sejarah mereka sendiri.

Apa jadinya jika generasi muda tidak paham betapa pentingnya arti sebuah sejarah dan nilai? Apa jadinya jika generasi muda terlalu dirasuki oleh keduniawian tanpa mengimbanginya dengan kegiatan ukhrawi? Mungkin Tuhan akan memberi cobaan dan ujian. Sebuah malapetaka yang harus dilalui oleh mereka-mereka yang kufur nikmat dan terjebak dalam kemunafikan dunia.

Begitulah yang terjadi di malam sebelum gempa bumi berguncang hebat seolah-olah langit hendak runtuh, dan lalu diikuti oleh kemurkaan tsunami yang merusak apa saja yang dilaluinya. Beberapa anak muda yang congkak berpesta-pora menikmati malam Minggu mereka di tepian Alue Naga, tidak jauh dari tempatku bersemayam. Mereka seakan-akan lupa pada ketenangan bahwa ada hak makhluk lain yang terdapat di sana. Bernyanyi dan bermusik memecahkan keheningan malam dan ketenangan laut. Berfoya-foya dalam gandengan perempuan-perempuan yang sudah lupa jalan pulang. Berbotol-botol minuman – aku tidak tahu pasti apakah minuman itu memabukkan mereka atau tidak – mereka acungkan ke angkasa, serupa pesta orang-orang Eropa yang pernah kulihat. Sungguh generasi yang demikian telah mencoreng arang hitam ke mukaku.

“O, Tuhan. Apa dosaku sehingga Kau biarkan anak-anak cucuku berlaku demikian? Tidak cukupkah peringatan dan bala yang telah Kau turunkan ke tanah ini memberikan pelajaran kepada mereka? Ampunilah mereka dan orang-orang yang telah mendidik mereka,” aku berdoa kepada Tuhan.

Malam semakin larut, muda-mudi itu belum beranjak dari api unggun yang sudah mulai padam. Budaya apakah ini? Apakah malam Minggu memang malam yang panjang yang harus mereka lalui dengan kenakalan-kenakalan remaja?

“Pulanglah kalian?” teriakku. “Pulanglah, sebelum Tuhan marah. Apakah kalian tidak pernah belajar terhadap sejarah masa lalu kaum-kaum sebelum kalian? Lihatlah bagaimana musibah demi musibah diturunkan Tuhan ke bumi ini agar kalian dapat mengingatnya, tapi kalian melupakannya, atau berpura-pura lupa!”

Tidak seorang pun dari mereka yang mendengarkanku. Ternyata tidak hanya kelompok ini yang sedang mengganggu ketenangan Alue Naga. Di sana, di sana, di sana, aku melihat cahaya-cahaya serupa. Sepasang muda-mudi saling berdekapan, berpelukan, atau malah saling mengecup. O, Tuhan, pertanda apakah ini?

Pagi menjelang, matahari mulai menjulang, dan mereka masih bergoyang. Bumi juga ikut bergoyang. Mereka terperanjat, kalut bercampur takut, terbayang dosa-dosa semalam. Tapi penyesalan selalu datang terlambat. Tsunami melahap tubuh mereka. Aku pun tak luput terjangannya. Air bah hitam muncul tiba-tiba dari belakangku. Tingginya sebatang kelapa. Menghancurkan pagar-pagar kayu yang melingkariku, lalu tsunami terus bergerak, menuju Lam Dingin, meluluhlantakkan Kota Banda Aceh. Ternyata tsunami tidak saja berasal dari Alue Naga yang ikut menghancurkan jembatan penyeberangan, tapi tsunami muncul di Ulee Lheue, Lampulo, Meulaboh, Simeulue, Pusong, dan di belahan dunia yang lain.

Tuhan mengirim tsunami sebagai peringatan dan pelajaran bagi umat manusia. Di masaku dulu memang tidak ada tsunami, tapi peringatan dan pelajaran muncul dalam bentuk yang lain. Aku pun bersyukur pada Tuhan yang telah memberiku kenikmatan umur sehingga dapat menghirup udara sampai seabad lamanya. Usia yang tidak lazim bagi umat Nabi Muhammad.

Setelah tsunami surut, puing-puing dan sampah reruntuhan bertabur. Aroma pekat tsunami bercampur dengan aroma busuk mayat membuat Alue Naga menjadi kuburan. Datanglah beragam suku, bangsa, ras, bahasa, dan budaya yang berbeda-beda, membersihkan reruntuhan jejak laut dan memungut mayat-mayat. Aku tidak menemukan mayat-mayat manusia yang malang itu. Ke mana laut telah melarungkan mereka?

***


“Ini adalah makam Tengku Syiah Kuala,” kata seorang pemuda kepada seorang gadis cantik berkerudung. “Nama beliau Syekh Abdurrauf yang berasal dari Singkil. Beliau adalah salah satu mufti kerajaan pada masa Sultanah Safiatuddin.”

“Muhsin, apakah makam ini juga rusak akibat tsunami?” tanya perempuan itu.

Namanya Muhsin. Sebuah nama yang bagus menurutku. Tampaknya si pemuda ini memberikan sedikit penjelasan tentangku. Mungkin si gadis ini adalah peziarah yang jauh. Mungkin peziarah yang banyak mendengar tentangku. O, gadis yang rupawan. Jangan percaya apa yang telah engkau dengar. Si pembawa kabar mungkin akan membumbui cerita-cerita tentangku agar terasa sedap di telinga.

“Iya, Nadia,” jawab Muhsin, “ketika tsunami, makam ini pun tak luput dari amukannya. Tapi ada cerita yang berkembang dari penduduk di sekitar sini, tsunami tidak sampai merusak makam ini. Gelombang tsunami yang setinggi pohon kelapa seolah-olah terbelah ketika melalui makam ini. Seperti tongkat Musa yang membelah lautan.”

Ternyata nama perempuan itu adalah Nadia. Sebuah nama yang tak kalah bagus. Benar dugaanku, cerita-cerita sudah tidak lagi hambar. Kemudian Nadia bersimpuh di depanku. Ia meraba nisanku dengan jemarinya yang lembut. Setetes embun di matanya mengusap pipinya yang putih. Aku tidak tahu kenapa ia menangis. Apakah ia sedang mengingat sebuah misteri Tuhan?

“Mari kita berdoa agar Tuhan melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada Tengku Syiah Kuala. Jasa beliau terhadap Aceh sungguh besar. Aku punya salinan manuskrip kitabnya di yayasan kami. Nanti akan kutunjukkan padamu,” Muhsin membimbing Nadia untuk mendoakanku. Sungguh hatiku terasa damai dengan kedatangan mereka. Tapi aku tidak tahu apakah mereka sepasang suami istri ataukah sepasang kekasih yang sedang dibuai asmara?

“O, Tuhan, jagalah hati mereka agar tidak tersesat,” aku juga mendoakan mereka seperti mereka telah mendoakanku. Amin. []

Ikuti juga bagian-bagian lainnya di sini:

Bagian 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *