Jejak-jejak Laut Bagian 3

Sebuah kenangan

Tidak pernah aku menyangka sebuah perencanaan yang telah kupersiapkan, ternyata Tuhan tidak memuluskan rencanaku itu. Hancur sudah sebuah kehidupan yang baru saja kuawali. Sebuah pernikahan telah dipisahkan oleh kematian. Padahal baru sehari saja aku merasa telah menjadi seorang raja. Duduk di kursi pelaminan layaknya raja yang dikipasi oleh dayang-dayang muda. Sedangkan permaisuriku, duduk anggun di sisi kiriku.

Tidak pernah aku melewati malam pertamaku dengan Siti Aminah. Malam pertamanya sungguh aku kutuk. Aku menyesali “bulan” yang datang pada waktu yang tidak tepat. Tapi mestikah aku terus-menerus mengutuk kesialanku sepanjang malam di pinggir ranjang? Tentu tidak. Sebuah cinta telah mengalahkan segalanya. Mungkin malam ini bukanlah malam pertamaku. Mungkin saja tujuh hari ke depan aku bisa menuntaskan malam pertamaku itu.

Ternyata malam pertama itu tidak pernah benar-benar tuntas. Ketika paginya aku mengajak Siti Aminah menikmati keindahan matahari terbit di pesisir Pantai Ulee Lheue. Sudah menjadi kebiasaan di sini, Minggu pagi terlalu ramai pantai ini dikunjungi. Seperti pagi itu, aku melihat sekelompok remaja sedang bersenda dengan sesamanya. Mencipratkan air pada seorang remaja perempuan yang tampak basah seluruh tubuhnya dengan air laut. Sedangkan remaja yang lainnya mengambil sebongkah pasir dan dilemparkannya ke tubuh si remaja perempuan yang malang itu. Ada kebahagiaan terlukis di wajah mereka seperti kebahagiaan seorang ayah yang tampak mengangkat anaknya yang kutaksir berumur dua tahun tinggi-tinggi ke udara, lalu membasuh tubuhnya dengan asinnya air laut. Si anak pun tertawa girang ketika ibunya menggelitik kakinya.

Sungguh pagi yang indah manakala para nelayan kembali dari laut dengan membawa berkeranjang-keranjang ikan hasil tangkapan. Di sudut yang lain, beberapa anak nelayan tampak membantu para orang tua yang sedang menarik pukat. Beberapa langkah kakinya terundur ke belakang, lalu anak itu melepaskan tali yang melilit di pinggangnya, lalu beranjak beberapa langkah ke depan, dan melakukan hal yang serupa berulang kali. Otot-ototnya yang kecil terjiplak jelas dan tubuhnya yang legam tampak mengkilap disapu pecahan ombak.

Beberapa orang yang berpapasan dengan kami tampak tersenyum-senyum. Senyum penuh makna dan nakal. Aku menyadari bahwa senyuman mereka bukan bermaksud mengejek seorang linto baro (pengantin pria) ataupun dara baro (pengantin perempuan) yang tak pernah melepaskan gandengan tangannya. Mungkin mereka akan berpikir bahwa aku adalah laki-laki yang sedang berbahagia yang telah mencapai hakikat paling tinggi dari sebuah kenikmatan duniawi. Tak apalah. Tak guna menjelaskannya itu pada mereka bahwa aku adalah laki-laki malang yang telah dikalahkan tamu bulanan itu.

Namaku Muhsin. Seorang guru yang mengabdi di sebuah sekolah secara sukarela. Guru yang tak pernah berharap agar diangkat sebagai seorang PNS (Pegawai Negeri Sipil) yang telah dijamin oleh pemerintah akan menerima gaji yang lancar setiap awal bulan. Jangan pernah bermimpi akan hidup makmur jika kau masih menjadi seorang guru sukarela. Suka mengajar dan rela mati. Honor seorang guru sepertiku jauh di bawah standar upah buruh yang banyak kalian temukan berkeliaran di Pasar Aceh di samping Masjid Raya Baiturrahman. Gaji yang kami peroleh pun tak pernah lancar setiap awal bulannya. Setiap tiga bulan sekali – jika mereka berbaik hati – atau bahkan enam bulan sekali barulah aku dapat merasakan dan menikmati apa itu arti sebuah gaji. Upah yang kudapatkan selama berminggu-minggu ternyata dapat kuhabiskan dalam waktu sekejap. Membeli beras untuk persiapan beberapa bulan ke depan, membeli bahan-bahan kebutuhan dapur, membeli sepotong pakaian dengan merek bajakan, dan mengajak Siti Aminah untuk duduk menikmati makanan di sebuah restoran yang bukan level kami.

Tapi aku tetap bersyukur kepada Tuhan karena diberikan seorang pendamping yang tak suka mengeluh dan menerima takdirku apa adanya. Baginya, sepotong cinta sudah cukup untuk mengenyangkan perutnya. Kami berjalan bersisian di sepanjang bibir pantai.

Tiba-tiba bumi berguncang. Guncangan yang teramat dahsyat. Aku mendekap Siti Aminah kuat-kuat. Belum pernah selama hidupku merasakan guncangan bumi yang hebat serupa ini. Aku dapat merasakan tanah-tanah bergetar, dan langit seakan-akan hendak runtuh. Apakah kiamat sudah tiba? Tidak. Kiamat tidak boleh datang terlalu cepat. Masih banyak dosa yang belum kusucikan. O, Tuhan, ampunilah hamba-Mu yang lemah ini.

Sepintas aku teringat firman Tuhan dalam Al-Quran. Semoga aku tidak salah menerjemahkannya (ampunilah aku jika aku salah), apabila bumi diguncangkan dengan guncangan (yang dahsyat); dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya; dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”; pada hari itu bumi menceritakan beritanya; karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya.

Gempa bumi pun berlalu. Orang-orang bersyukur kiamat batal menjemput. Jantungku mulai berdetak normal. Siti Aminah, isteri tercintaku, menangis sesegukan. Terbayang ia akan rumahnya yang dua lantai, tempat kami tinggal semalam, kemungkinan saja bisa runtuh akibat gempa yang maha dahsyat itu.

“Serahkan semuanya kepada Allah,” kataku menenangkannya.

“Saya berharap keluarga di rumah baik-baik saja, Bang,” ujar Siti Aminah dengan ketenangan yang terpaksa. Aku tahu ia masih diselimuti ketakutan akan kiamat. Aku juga tahu ia belum siap menerima kematian, apalagi menghadapi kenyataan bahwa dunia akan berakhir.

Sejurus kemudian, bibir pantai Ulee Lheue telah surut beberapa meter ke dalam. Jejak-jejak langkah kami tidak lagi tersapu oleh pecahan riak. Laut benar-benar surut. Seakan-akan ketakutan ketika dikejar-kejar oleh anak-anak laut. Ikan-ikan menggelepar pasrah. Bagi ikan-ikan itu, kehidupan memang harus diakhiri. Tidak ada harapan air laut akan menjemputnya kembali. Hanya doa yang bisa dilakukan oleh ikan-ikan yang malang itu.

Tuhan memang sulit ditebak. Kadang-kadang Tuhan sering mengabulkan doa-doa makhluk-Nya yang tertindas. Doa-doa ikan dimakbulkan Tuhan. Tak lama kemudian, gelombang laut bergulung-gulung, saling menyatu, datang dari tengah laut, dan secepat kilat menuju ke darat. Aku harus mengakhiri kegamanganku. Lalu datanglah panik. Aku menarik tangan isteriku dengan kuat yang membuatnya terguncang-guncang. Ia menyibakkan roknya sehingga betisnya yang putih dibelai oleh cahaya matahari. Aku pun cemburu. Tapi aku tidak boleh larut dalam kecemburuanku itu.

“Cepat! Aku merasa tidak enak hati,” kataku menggegaskan langkah.

Aku menghidupkan sepeda motor kesayanganku. Dengan kecepatan penuh aku memacu si kuda besi yang agak terbatuk-batuk itu. Sekilas aku menoleh ke arah laut yang kutinggalkan, anak-anak laut telah lenyap bersama laut itu, orang-orang panik mulai menyelamatkan diri, bagi yang tak sempat lari memanjati pohon kelapa yang mungkin dalam hidup mereka tidak menyangka bisa memanjat kelapa yang tinggi itu.

Setibanya di Punge, gelombang laut menjilati pantat kuda besiku. Belum sempat aku memacu dengan kecepatan yang lebih tinggi lagi, gelombang laut itu telah membenamkan kami. Aku terseret beberapa meter yang menyebabkan lenganku tergores badan jalan. Terasa perih seketika dan kupikir aku akan menemui kematian. Betapa tidak terbayangkan jika bisa selamat dari amuk gelombang yang semakin menggila itu. Aku harus tetap hidup. Begitu tekadku. Bulat sempurna. Lalu aku bangun untuk menyelamatkan diriku. Belum utuh kakiku menginjakkan tanah, gelombang kedua menyapu tubuhku. Air hitam yang baunya serupa kotoran itu mendorongku lebih jauh lagi. Sebatang kayu yang mengapung berhasil kuraih. Dengan kedua kaki yang masih bisa bergerak, aku mengayunkan langkah dengan cepat berburu dengan kematian.

Akhirnya aku berhasil mencapai sebatang pohon kayu yang berdiri kokoh tanpa oleng sedikit pun. Seseorang menyeru kepadaku, “Cepat naik kemari, Bang. Tidak mungkin kita bisa berlari lebih jauh lagi.”

Aku pun mengiyakan. Dengan segenap tenaga yang masih tersisa, aku telah berhasil mencapai puncak pohon ketapang itu. Kesadaranku mulai pulih ketika mengetahui bahwa isteriku tidak berada di sampingku. Mataku menjalar ke sekeliling. Melihat tubuh-tubuh yang mengapung, lalu terbenam kembali. Melihat laju laut yang seakan masih ingin melaju lebih jauh lagi. Melihat reruntuhan bangunan, rumah yang mengapung seolah-olah sedang merenangi genangan air, sebuah kapal baja yang besar seakan-akan mengarungi samudera. Kapal besar itu telah menghancurkan rumah-rumah penduduk, yang berjalan serupa perahu Nuh yang melintasi tetumbuhan. Sebelumnya akhirnya kapal itu berhenti pada sebuah rumah yang telah hancur.

Aku mencoba mengenali tubuh-tubuh yang tak utuh itu. Beberapa tubuh bahkan masih menggelepar meminta pertolongan. Tapi aku tidak mampu memenuhi permintaan itu. Aku harus memikirkan keselamatan diriku. Dan isteriku, aku terus menjejal setiap sudut Punge. Tidak ada tubuh-tubuh yang kukenali.

“Sitiiiiiiiii! Sitiiiiiii!” aku memanggil namanya.

Gemuruh gelombang tak menghiraukan panggilanku. Mobil-mobil menumpuk ibarat barang rongsokan. Binatang ternak menjulurkan lidahnya. Sementara itu, dari arah Banda Aceh, aku melihat orang-orang sudah menumpuk. Menumpangi truk-truk, menghentikan mobil-mobil pribadi, menghiba pada orang-orang yang sedang menyelamatkan diri masing-masing. Jalanan macet. Kecelakaan tidak terelakkan. Tapi satu pun tidak menuntut ganti rugi dari kecelakaan itu. Tentara-tentara mulai mengevakuasi penduduk. Dan selanjutnya aku tidak tahu apa yang terjadi.

Aku hanya bisa berharap bahwa isteriku ada bersama mereka yang berusaha menyelamatkan diri. Tapi harapan itu adalah sebuah mimpi. Aku tidak pernah menemukan lagi Siti. Berhari-hari aku mencari kabarnya. Berbulan-bulan aku memasang fotonya dan menguraikan ciri-cirinya di media massa. Bertahun-tahun aku tak pernah berhenti berdoa agar suatu saat nanti aku dipertemukan kembali dengannya. Hasilnya memang tidak pernah menjadi kenyataan. Meskipun demikian, aku tetap berdoa untuk keluasan lisannya dan kelapangan hatinya di alam barzah. Semoga malaikat-malaikat menuntunnya ke jalan menuju surga.

Di laut ini semua kenangan baru saja kumulai. Laut yang telah meninggalkan jejak luka yang mendalam. Laut yang telah menyisakan sejarah pilu dalam setiap benak orang Aceh. Laut yang bersahabat dan damai, tapi berubah menjadi musuh yang menakutkan. Di laut ini juga aku mencoba menata kembali kehidupanku. Ketika seorang gadis yang usianya jauh lebih muda dari Siti Aminah membayang-bayangi kehidupanku.

Apakah gadis itu telah dikirim Tuhan untuk menggantikan kekosongan hatiku yang sedang hampa? Apakah Tuhan melahirkan kembali Siti Aminah dalam wujud Nadia agar aku bisa melupakan kenangan? Semoga aku bisa memikat hati Nadia dan menjadikannya pendamping hidupku agar kehidupan ini menjadi sempurna. Tapi aku belum tahu bagaimana isi hatinya, apakah ia mau menerima seorang duda sebagai pendamping hidupnya?

Semua membutuhkan proses. Dan proses membutuhkan kerja keras. Aku ingin menyelami hatinya secara mendalam. Berharap hatinya luluh dan dapat menerima takdirku. Hanya cinta yang ingin kupersembahkan. Dan hanya dengan cinta pula aku akan menerimanya. Tapi apakah sebenarnya cinta itu? Mungkin hanya sebuah ingatan atau kenangan. Kenangan pada laut yang menyisakan jejak-jejak sejarah. []

Ilustrasi gambar diambil dari piqsels.com

Lihat juga bagian lain di sini:

Bagian 1
Bagian 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *