Jejak-jejak Laut Bagian 4

Mesjid Raya Baiturrahman Kuno
Mesjid Raya Baiturrahman di masa-masa awal (gambar: indonesiakaya.com)

“Masjid ini dibangun dengan darah!” kata Muhsin pada Nadia yang tampak sibuk memotret bagian-bagian tubuhku.

“Bagaimana bisa?” Nadia bertanya penuh takjub. Ada nada penasaran yang menyelimuti benaknya. Bagaimana mungkin sebuah masjid dibangun dengan darah. Bukankah darah adalah sesuatu yang najis, dan tidak mungkin ibadah seseorang diterima jika ia dikerumuni oleh najis.

Aku dinamai oleh orang-orang pada zaman dulu dengan Baiturrahman. Sebuah rumah yang di dalamnya penuh kasih sayang. Rumah Tuhan yang dibangun bagi orang-orang yang mendambakan kasih sayang Tuhan. Meskipun aku berstatus sebagai rumah Tuhan, tapi sekali pun aku tidak pernah bertemu dengan Tuhan. Aku belum pernah melihat-Nya melepaskan penat di sini. Aku hanyalah simbol belaka bagi manusia-manusia yang mendambakan surga. Jika kalian ingin memperoleh surga, ramaikanlah aku dengan kegiatan-kegiatan yang digemari Tuhan. Aku menjamin – meskipun Tuhan yang menentukan – kalian akan mendapatkan satu tempat di akhirat nanti, tempat yang dinamakan surga. Di dalamnya air-air mengalir jernih, tetumbuhan mengelilingi sisi-sisinya, buah-buahan akan gampang kalian petik tanpa seorang pun akan mengatakan itu miliknya, kalian tidak pernah akan merasa dahaga dan lapar sebagaimana yang kalian rasakan di dunia. Janji Tuhan pastilah nyata.

Orang-orang juga sering menabalkan Masjid Raya sebagai pengikut namaku. Lantaran tubuhku yang besar yang mampu menampung beribu-ribu jamaah, selain itu ada sejarah yang kupendam di dalamnya. Aku telah melintasi berbagai generasi dengan rupa dan watak yang berbeda-beda. Setiap generasi punya andil dalam terhadapku.

Aku didirikan oleh seorang sultan. Kalau tidak salah, namanya Iskandar Muda. Aku dibuat sebagai masjid utama bagi kegiatan ibadah dan keagamaan di masa itu. Aku menyediakan ruang bagi para penuntut ilmu. Penuntut-penuntut ilmu ini sebelumnya telah melalui proses belajarnya di tingkat meunasah. Anak-anak belajar ilmu dasar pada tengku meunasah. Setelah mereka dianggap layak untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi, biasanya dikirim oleh orang tua mereka ke dayah-dayah. Sedangkan pada masa itu, aku juga menampung anak-anak yang ingin menuntut ilmu agama tingkat tinggi.

“Tapi kata kakekku, masjid ini dibangun oleh Belanda,” kata Nadia membuyarkan lamunanku. Muhsin tampak memuji perempuan itu. Sebuah pujian tulus yang datang dari hatinya.

Belanda datang pada tahun 1873 ke Aceh dengan membawa bala tentara yang jumlahnya ribuan. Pasukan Belanda mendarat mulus di Pelabuhan Ulee Lheue. Belanda melakukan agresi setelah terjadinya sebuah pengkhianatan yang disusun dengan licik oleh diplomat Kerajaan Aceh. Aku tidak tahu pasti bagaimana semuanya bermula, yang kudengar selanjutnya adalah diplomat berdarah India itu telah melakukan sebuah siasat untuk menguntungkan dirinya. Aku sangat membenci perang. Karena peranglah tubuhku dibakar oleh prajurit Belanda yang terkutuk itu.

Belanda menyadari bahwa peranku sangat besar bagi pejuang-pejuang Aceh. Mereka menjadikanku sebagai tempat pertahanan terakhir. Di sini hampir seluruh pejuang Aceh mendirikan garis pertahanannya dan siap mati untuk membelaku agar tak jatuh di tangan para kafir itu. Tentara-tentara Belanda memiliki senjata modern. Mereka maju perlahan-lahan sambil menyeret meriam-meriam keluaran terbaru. Untuk menciutkan nyali-nyali pejuang Aceh, tubuhku dibakar habis.

Aku tidak merasa kesakitan akibat api-api yang membara. Aku hanyalah ciptaan Tuhan yang dinamakan masjid. Jika pun aku dimusnahkan, toh tidak ada manfaatnya bagiku. Jika pun aku dibangun kembali, juga tidak ada keuntungannya. Aku hanya sebuah tempat, yang diciptakan Tuhan untuk memberikan pelayanan ibadah bagi umat manusia yang ingin menghamba dirinya di hadapan Tuhan.

Ternyata perkiraan para tentara Belanda amat salah mengenaiku. Meskipun aku tinggal puing-puing kayu yang berserakan, pejuang-pejuang Aceh tidak surut selangkah pun. Malah mereka semakin menggila. Mereka berperang baik secara berkelompok maupun seorang diri. Akibat semangat yang membara itu, seorang pimpinan Belanda yang bernama Mayjen Kohler tewas di tangan pejuang muda Aceh. Mungkin pejuang muda umurnya belasan tahun. Umur yang untuk saat ini sangat dilarang untuk berperang di medan terbuka. Itu peraturan yang dikeluarkan oleh organisasi dunia. Entahlah.

Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa Kohler mati dengan mudah di tangan seorang anak-anak. Padahal Kohler adalah prajurit khusus dan pemberani Kerajaan Belanda. Ada yang menarik dalam proses kematian Kohler. Sebatang pohon geulumpang menjadi saksi kematiannya. Pohon itu berdiri tegak di sebelah utaraku. Ketika Kohler tertembak, ia sempat berujar, “Oh God, ik ben getroffen.” Ia pun tewas tertunduk di bawah pohon geulumpung itu tanpa sempat mendapat pertolongan medis. Pohon itu pun dikenal dengan nama Kohlerboom atau Pohon Kohler.

Mungkin kalian akan bertanya-tanya apakah Pohon Kohler itu masih ada sekarang? Baiklah, aku akan menjelaskannya sedikit kepada kalian agar kalian bisa tidur nyenyak. Pohon Kohler itu sekarang sudah ditebang. Kepingan-kepingannya tersimpan di museum Aceh. Untuk menggantikan Pohon Kohler yang sudah tua dan tak kokoh itu, ditanamlah pohon Geulumpang hasil reboisasi. Ini penting dilakukan agar generasi-generasi Aceh mendatang tidak lupa pada sejarah mereka. Dan untuk mengenang peristiwa itu, Ibrahim Hasan, Gubernur Aceh di kala itu, mendirikan sebuah prasasti agar setiap orang lewat dapat membacanya dan merenungi bagaimana gigihnya pejuang-pejuang Aceh mempertahankan tanah mereka dari kolonial Belanda. Prasasti itu diukir indah dalam tiga bahasa, yaitu bahasa Arab, Inggris, dan Indonesia. Inilah bunyi prasasti itu:

Prasasti kematian Kohler
Prasasti kematian Kohler

“Setelah terjadinya peperangan yang cukup sengit dan menimbulkan banyak korban jiwa, pemerintah Belanda pernah menjanjikan kepada rakyat Aceh untuk membangun kembali Masjid Raya Baiturrahman yang telah dibakar,” Muhsin menjelaskan tentang sejarahku dengan meyakinkan kepada Nadia. Perempuan itu menyimak dengan saksama, mencatat sesuatu dalam buku kecilnya, dan memotret bagian-bagian yang dianggapnya penting.

Aku memuji pengetahuan lelaki itu tentangku. Tampaknya ia lelaki yang cerdas, dan juga tampan. Melihat dari caranya berbicara dan hubungan mereka, aku yakin lelaki itu adalah seorang pemandu dan perempuan itu adalah peziarah yang memiliki kenangan pada masa lalu. Tapi dari wajah lelaki itu, aku dapat melihat sekilas ada binar cinta yang tersembunyi. Sebuah binar yang terpendam yang suatu saat akan meledak cukup dahsyat. Sedangkan wajah perempuan itu, aku sulit menyelami apa yang ada di balik hatinya. Tampaknya perempuan itu bukan berasal dari sini. Mungkin dari tempat yang jauh. Perempuan itu memiliki paras yang cantik. Jika mereka berjalan beriringan, orang mengira mereka adalah pasangan kekasih yang sangat sepadan. Ah, aku tak layak memikirkan hal itu. Aku hanyalah sebuah tempat yang tak boleh menilai apa laku manusia. Aku hanya menyediakan jasa bagi manusia-manusia yang ingin menghamba pada Tuhan mereka, Tuhanku juga.

Memang benar Belanda menjanjikan untuk membangun kembali tubuhku yang sudah hancur. Tahun 1877, Gubernur Jenderal Van Lansberge menunaikan janji itu. Sebuah janji yang diungkapkan oleh Jenderal Van Swieten. Proses pembangunan pun dimulai dengan merekrut seorang arsitek dari kalangan militer yang bernama de Bruijn. Ia adalah Kapten Zeni Angkatan Darat Belanda yang berdinasi di Departemen van Burgelijke Openbare Werken (Departemen Pekerjaan Umum) yang berkantor di Batavia. Sebelum benar-benar membangunku, sang arsitek ini berkonsultasi dengan ahli-ahli agama dan budaya, termasuk juga ia pernah meminta bantuan dari Snouck Hurgronje, antropolog cemerlang yang berotak orientalis.

Setelah mendapatkan bahan dan ide yang cukup meyakinkan, pembangunan tubuhku yang baru dipercayakan kepada seorang kontraktor keturunan Cina yang bernama Lie A Sie, dan langsung diawasi oleh insinyur Belanda. Aku tidak dibangun secara sembarangan sebagaimana proyek-proyek yang ada sekarang. Kontraktor saat ini sangat licik dan lebih mementingkan keuntungan dari kualitas proyek. Lihatlah beberapa proyek yang dibangun oleh kontraktor-kontraktor pencari untung itu. Proyeknya tak bertahan lama, cacat, dan tak nyaman. Aku berharap agar mereka menyadari bahwa proyek bukanlah mencari untung, tapi proyek juga amanah dari Tuhan yang mesti dikerjakan sesuai dengan kebutuhan. Aku akan dengan senang mendoakan kontraktor-kontraktor jujur, semoga Tuhan melapangkan rezeki kepada mereka dan dimudahkan segala urusan di akhirat.

Bahan-bahan untuk membangun tubuhku dipilih dengan kualitas tinggi yang beredar di pasaran dunia pada masa itu. Material dasar bangunan dibeli di Malaysia, batu marmer dari Cina, besi jendela dari Belgia, kayu-kayu dari Birma, dan tiang-tiang besi berkualitas nomor satu dari Surabaya. Aku dibangun kembali tepat pada tanggal 9 Oktober 1879 dan selesai pembangunannya pada tahun 1881. Saat itu aku hanya memiliki satu kubah yang besar sebagai penghias kepalaku.

Masuklah kalian ke dalam tubuhku, dan rasakan keindahan seni yang kupamerkan secara cuma-cuma di dalamnya. Kalian bebas memotret dan mengabadikan aku sebagai kenang-kenangan kalian. Tapi ingat! Jika kalian memasuki pekarangan, pakailah pakaian yang sopan dan tutuplah segala aurat kalian. Aku tidak ingin membuat malu kalian hanya karena diusir oleh petugas karena mereka anggap pakaian kalian tidak islami. Inilah peraturannya, tentu tidak memberatkan, bukan?

Jika kalian telah masuk ke dalam, kalian akan menjumpai keindahan lekuk tubuhku yang menghiasi setiap sisi-sisinya. Tubuhku bercorak eklektik. Ia adalah gabungan berbagai unsur dan model terbaik di seluruh negeri yang berkembang pada masa itu. Kubah utama yang menyerupai bawang merupakan sebuah model yang bisa kalian jumpai pada masjid-masjid kuno di India. Kaca-kaca jendela berbentuk lingkaran dipengaruhi oleh gaya Mooris (Maroko). Plengkung-plengkung gaya Persia dihiasi dengan seni Arabesque (corak daun dan bunga) yang tidak bisa dipungkiri terjadi pertautan seni dari India dan Timur Tengah. Di sela-sela corak itu juga bisa dijumpai tympanum yang berbentuk jenjang yang tampak seperti penampang sebuah tangga. Ini adalah salah satu model khas rumah klasik Belanda. Di bagian serambi terluar, kalian juga bisa menyaksikan jendela yang berfungsi sebagai pintu masuk. Ini juga model yang terdapat pada masjid kuno di India.

Tahun demi tahun, penguasa berganti. Aku juga mengalami perubahan. Beberapa bagian tubuhku diperluas. Tahun 1935, di sisi kiri dan kananku ditambahkan dua buah kubah yang indah. Menyerupai kubah yang pertama. Tahun 1967, aku telah memiliki lima buah kubah. Agar orang-orang dapat menikmati keindahanku, maka lingkungan di sekitarku diperindah dengan memasang lampu-lampu, rumput-rumput yang jinak, ruas jalan yang rapi, aula, kantor, perpustakaan, tempat wudhu, menara-menara yang berdiri kokoh, pepohonan, dan pagar-pagar yang mengelilingiku. Diriku dirias dengan secantik mungkin agar orang-orang dapat meresapi keindahanku. Jika malam menyelimuti Banda Aceh, kalian akan melihat tubuhku bercahaya seakan-akan akulah yang menerangi Kota Banda Aceh di kala malam.

“Nadia, Masjid Raya Baiturrahman juga kerap dijadikan sebagai tempat untuk melangsungkan akad nikah. Pengantin baru sangat mengidamkannya. Aku juga melangsungkan akad nikah di sini,” kata Muhsin menjelaskan. Tiba-tiba raut wajahnya murung. Nadia sangat memahami masa lalu laki-laki itu. Mungkin laki-laki banyak bercerita tentang kehidupannya dulu. Aku tidak bisa mengenali wajah laki-laki itu yang katanya pernah melangsungkan akad nikahnya di sini. Bagaimana aku bisa mengenalinya dengan tepat, sedangkan orang-orang yang datang ke sini silih berganti. Bahkan presiden pun pernah bersimpuh di kakiku. Aku tidak bisa menyebut nama-nama jamaah yang mungkin telah jutaan jamaah yang pernah memakai jasaku. Aku hanya mengenal orang-orang yang dengan tulus telah mengurusku.

“Tadi katamu, masjid ini dibangun oleh Belanda. Setahu saya, orang Aceh tentu tidak dengan mudah menerima bantuan dari musuh, apalagi musuhnya tidak seiman?” Nadia mengalihkan pembicaraan agar laki-laki tidak terlalu larut dalam kesedihannya.

Tepat sekali kata perempuan. Aku memang tidak langsung diterima oleh orang Aceh. Belanda telah berkali-kali membujukku. Orang-orang lebih memilih untuk melaksanakan salat Jumat di Baiturrahim, saudara angkatku, yang berada jauh di pinggiran pantai Ulee Lheue. Konon masjid itu secara ajaib selamat dari amukan tsunami yang maha dahsyat, padahal benda-benda di sekitarnya hancur berkeping-keping. Orang Aceh akhirnya memang dapat menerimaku, setelah proses bujukan yang amat panjang. Selama diriku menganggur, tentara-tentara Belanda telah dengan keji memanfaatkanku sebagai tempat hiburan. Semoga mereka mendapat balasan setimpal dari Tuhan.

O ya, aku baru ingat sekarang. Ketika gelombang tsunami memporak-porandakan Banda Aceh, banyak masyarakat yang menyelamatkan diri ke dalam tubuhku. Bahkan ada beberapa yang dengan kekuatan ajaib memanjat badanku untuk mencapai kepalaku. Memang tubuhku tidak rusak oleh tsunami. Aku bersyukur pada Tuhan karena berbaik hati tidak melukai tubuhku yang tua ini. Rasa syukur terus kupanjatkan agar aku dapat bertahan sampai dunia berakhir. Begitu juga aku senantiasa mendoakan negeri tempatku terpaku agar selalu dijauhi bala dan senantiasa diberi kemakmuran. Maka, atas segala rahmat dan nikmat Tuhan yang telah diberikan, apakah kita pantas mendustainya? []

Lihat bagian lainnya:

  • Bagian 1
  • Bagian 2
  • Bagian 3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *