Jejak-jejak Laut Bagian 5

Jejak-jejak Laut Bagian 5
Gadis berhijab (gambar: pexels.com)

Aku datang dari Makassar ke Aceh karena sebuah janji pada kakekku. Sebelum meninggalkan dunia ini, kakekku ingin sekali pulang ke Aceh untuk melihat tanah kelahirannya. Bahkan ketika tsunami melanda Aceh, kakekku pun tidak bisa kembali Aceh lantaran kondisi kesehatannya yang buruk. Beliau hanya menyaksikan Aceh yang luluh lantak di televisi. Beliau tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Aceh adalah tanoh keuneubah indatu , begitu katanya kepada kami.

Kakek telah meninggalkan Aceh ketika terjadinya pemberontakan Darul Islam. Beliau adalah pengikut Tengku Daud Beureueh. Suasana politik yang kacau saat itu dan pertentangan batinnya yang tidak setuju agar para tentara Darul Islam menyerah pada Indonesia, beliau akhirnya meninggalkan Aceh, meninggalkan tentara-tentara Darul Islam, meninggalkan luka-luka perang, dan memulai kehidupan yang baru.

Awalnya kakek memilih Padang dan hampir menikahi seorang perempuan keturunan bangsawan Minang. Tapi urung beliau lakukan. Aku tidak tahu apa sebabnya. Sekilas aku mendengar cerita kakek bahwa adat Minang saat itu masih menganut sistem matrilineal. Itu berarti bahwa kakek tidak dapat menentukan keputusan-keputusan sebagai kepala rumah tangga. Lalu kakek terdampar di Makassar berkat seorang pengusaha Aceh yang telah sukses di Makassar. Beliau menikahi nenekku dalam adat pernikahan suku Bugis. Mereka hidup bahagia sehingga melahirkan anak-anak dan memiliki cucu-cucu yang sangat mencintai mereka. Setelah kakekku menikah, beliau belum pernah pulang ke Aceh.

Aku pernah berjanji pada kakek untuk mengunjungi saudara-saudara sepupuku di Aceh. Dan sebelum kakek benar-benar meninggalkan kami, kakek menagih janjinya itu. Esoknya kakek pun meninggal dunia. Padahal aku sudah hampir melupakannya. Tapi janji adalah utang. Utang wajiblah dibayar. Setelah menjadi mahasiswa di tingkat akhir dan aku telah menyelesaikan seluruh mata kuliah, aku memutuskan untuk menulis skripsi tentang Aceh. Sebagai mahasiswa jurusan sejarah, aku pikir tidak ada salahnya untuk menuliskan tentang tanah kelahiran kakekku. Maka sebuah ide pun muncul. Aku akan menuliskan tentang jejak-jejak sejarah akibat bencana tsunami. Aku pun segera menghubungi pamanku yang pernah mengunjungi kakek ketika sedang melakukan perjalanan dinas ke Makassar. 

Setibanya di Bandara Sultan Iskandar Muda, aku disambut oleh sepupu-sepupuku yang menuliskan namaku pada sehelai kertas.

“Saya Nadia,” kataku pada seorang perempuan yang mengangkat kertas yang bertuliskan namaku.

“Hai, saya Yusniar. Ini adikku, Yusrawati,” jawabnya. Kami saling berpelukan. “Mari, Kak Nadia, keluarga saya sudah menunggu kedatangan kakak.” Kami pun meninggalkan Sultan Iskandar Muda dan menuju rumahnya yang terletak di kawasan Ulee Kareng. Dalam perjalanan, Yusniar meminta maaf karena paman tidak bisa menjemputku. Selama berbulan-bulan aku diizinkan tinggal bersama mereka. Yusniar dengan senang hati menemaniku dan mengajakku berkeliling Banda Aceh dan Aceh Besar. Aku mengagumi keindahan alam Aceh. Benar seperti cerita almarhum kakek. Aceh menyimpan misteri Tuhan.

Mulanya aku menyangka bahwa Aceh adalah sebuah negeri perang. Masih terlintas dalam bayanganku tentang kisah-kisah pemberontakan yang dilakukan tentara GAM (Gerakan Aceh Merdeka) yang ingin menuntut kemerdekaan. Aku membaca di surat kabar, menonton reportase perang di televisi, dan mendengar berita-berita yang disiarkan oleh radio. Bahkan dalam reportase perang, seorang wartawan tanpa kenal takut terus meliput berita di bawah rentetan peluru. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika peluru itu menembus dada mereka.

Namun setelah terjadinya tsunami, kabar konflik sudah jarang kudengar. Konon katanya, tentara GAM dan pemerintah Indonesia telah menyepakati perjanjian damai yang diteken di Helsinki. Aku bersyukur pada Tuhan karena telah mengakhiri perang di Aceh. Seandainya perang masih berlangsung, mungkin aku akan berpikir ratusan kali untuk pergi ke Aceh. Aku tidak ingin mati konyol di moncong senjata.

Tidak ada kata yang pantas kita ucapkan pada Tuhan selain kata-kata syukur. Aceh kembali bergeliat. Daerah-daerah yang dulu pernah menjadi basis pemberontakan saat ini sudah dapat diakses oleh masyarakat luas. Tidak ada lagi istilah-istilah operasi militer, darurat militer, atau darurat sipil yang pernah diberlakukan di Aceh.

Aku cukup terkesan dengan keramah-tamahan masyarakat Aceh. Menjadi tamu di sini layaknya seorang raja. Kita dilayani dengan sebaik mungkin agar tidak meninggalkan kesan yang buruk bagi si tuan rumah. Aku tidak pernah diizinkan untuk membantu pekerjaan rumah yang seharusnya menjadi pekerjaan perempuan. Misalnya menyapu rumah atau halaman, mencuci piring, membantu memasak atau menyiapkan meja makan. Semua pekerjaan itu dilakukan oleh istri pamanku dan Yusniar. Aku ingin sekali membantu meringankan pekerjaan mereka, tapi bibi melarangku. Tapi larangan itu hanya berlaku beberapa hari saja. Selanjutnya aku dengan leluasa membantu pekerjaan-pekerjaan itu.

Aku juga harus mengakui bahwa laki-laki di Aceh juga banyak yang tampan. Dulu aku sering berkhayal ingin kuliah di luar negeri. Di mana saja, pokoknya di luar negeri. Aku akan kuliah dengan sungguh-sungguh. Membaca buku, mengerjakan tugas, menulis makalah, dan aktif dalam setiap perkuliahan. Setelah selesai kuliah, aku tidak ingin dulu kembali ke Indonesia. Mungkin aku akan mencari pekerjaan di sana. Atau mungkin akan menikah dengan seseorang di sana. Melahirkan anak-anak dan membesarkan mereka. Setelah mereka sudah besar, maka akan kuajak anak-anakku menjumpai nenek mereka di Makassar.

Tapi aku malah terdampar di Aceh karena sebuah janji. Dan aku memang tidak menyesali langkahku itu. Malah aku harus bersyukur kepada Tuhan, karena di sinilah aku dapat merasakan kedekatan dengan-Nya. Hingga akhirnya aku mengenali seorang laki-laki yang agak tua dariku dan mengakui dirinya seorang duda. Laki-laki itu bernama Muhsin, seorang guru sejarah dan juga pengelola manuskrip di yayasan yang didirikan oleh pamannya.

Lewat Muhsin-lah aku memperoleh bahan-bahan untuk tulisanku. Ia tanpa canggung mengajakku untuk melihat langsung terhadap apa yang diyakininya menyimpan sejarah-sejarah.

“Negeri Aceh ini adalah negeri yang penuh sejarah. Negeri peninggalan para raja-raja. Semakin kita menguak sejarah yang terkandung di dalamnya, kita akan semakin tak berdaya. Sejarah Aceh seperti benang kusut yang harus diuraikan dengan cara yang benar dan tentu saja oleh orang yang tepat.” Muhsin menjelaskan tentang kondisi sejarah negerinya pada saat itu. Ia tidak pernah bosan menjelaskan tentang sejarah seperti ia menggurui murid-muridnya di sekolah. Ya, aku diperlakukan seolah-olah aku ini muridnya.

Ada cinta terpendam di balik hatinya. Semangat yang menggelora yang bisa mengubah sikapnya menjadi kekanak-kanakan. Belum pernah aku bertemu dengan laki-laki yang lebih tua dariku yang menempatkan diriku secara bersamaan sebagai seorang murid, adik, atau bahkan kekasih. Aku tidak bermaksud terlalu percaya diri karena kecantikanku mampu memikatnya. Bukan. Bukan itu yang ingin kujelaskan. Hanya saja aku takut hubungan ini terlalu jauh. Jauh masuk ke dalam sehingga salah satu dari kami akan terperangkap dalam jurang cinta. Aku tidak ingin memulai sesuatu yang bisa berakhir kapan saja. Meskipun aku tidak terlalu yakin dengan penilaianku, tapi gelagatnya menunjukkan remaja-remaja berseragam putih abu-abu yang termakan cinta monyet.

Tidak perlu aku mengatakan kepada kalian bagaimana proses pertemuan kami bermula. Tapi sedikit saja yang bisa kusinggung. Aku bertemu dengannya di Pantai Ulee Lheue ketika menikmati matahari terbenam. Senja yang begitu indah di Ulee Lheue membuatku jatuh cinta sesaat pada kota yang berbudaya dan konon katanya beriman itu. Seorang laki-laki melintas di hadapan kami. Pandang mata bertemu mata, tapi mataku selalu mengalah. Ia memperhatikanku serupa memperhatikan sepasang baju yang cantik pada manekin.

Dengan tergagap ia merayuku. Bukan merayu. Tapi semacam nasihat.

“Maaf, Dik. Tidak elok rasanya adik yang cantik ini memakai baju yang terlalu ketat. Apalagi kerudung yang adik pakai masih menimbulkan aurat.”

Perdebatan kecil terjadi antara Yusniar dan laki-laki itu. Yusniar berkali-kali menjelaskan padanya bahwa aku bukan orang Aceh. Aku paham dan tidak menyalahkan laki-laki yang malang itu. Di Aceh memang telah diberlakukan sebuah peraturan daerah atau yang lebih akrab di telinga dengan sebutan qanun. Syariat Islam menjadi landasan dalam segala bidang kehidupan masyarakat. Aturan berpakaian pun telah diatur. Yusniar tidak pernah melarangku ketika aku memakai pakaian-pakaian yang agak ketat sehingga belahan dadaku tercetak jelas. Aku memang terbiasa dengan pakaian itu.

Sejujurnya aku ingin menyerang balik laki-laki itu karena tak jauh dari kami juga terdapat remaja-remaja yang memakai pakaian ketat. Kenapa harus aku yang diceramahinya? Di sisi lain aku bangga karena mendapat perhatian dari laki-laki yang lumayan tampan itu. Tapi di sisi lain aku merasa risih karena menjadi pesakitan. Akhirnya laki-laki itu meminta maaf padaku. Ia merasa bersalah karena membuatku ketakutan.

“Tidak, saya tidak apa-apa,” kataku berusaha akrab.

Laki-laki yang mengenali dirinya dengan nama Muhsin merasa tidak enak hati. Berkali-kali kata maaf meluncur dari mulutnya dan dengan jujur pula ia menerangkan suasana hatinya yang kacau ketika melintasi Pantai Ulee Lheue yang kian terbenam. Akhirnya Muhsin sering menghubungiku, dan membuatku kadang-kadang agak kesal membalas sms-nya. Tapi lama-lama aku merasa ada sesuatu yang lain dari hubunganku dengannya. Aku menyukai kejujurannya dan pengetahuannya yang luas tentang sejarah Aceh memberi nilai tambahan tersendiri bagi Muhsin.

Aku mulai berpikir kenapa tidak kuakrabi saja Muhsin agar tulisanku mengenai Aceh bisa rampung. Selanjutnya aku banyak bertanya kepadanya mengenai Aceh. Aku puas dengan setiap jawabannya. Ia juga tidak sungkan-sungkan mengajakku untuk menjelajahi setiap peninggalan bersejarah yang ada di Banda Aceh dan Aceh Besar. O ya, dua wilayah ini sangat identik. Akan sulit memisahkan kedua wilayah yang memiliki pemerintahannya sendiri. banyak situs-situs bersejarah berada di kedua wilayah ini. Dulunya, kedua wilayah ini berada pada satu kerajaan, yaitu Kerajaan Aceh Darussalam. Mungkin kalian pernah mendengar Sultan Iskandar Muda. Nah, sultan ini adalah salah satu raja yang terkenal pada saat itu. Orang-orang Aceh dengan bangga akan menceritakan kisah-kisah kejayaannya. Tapi menurutku kadang mereka terlalu berlebihan. Betapa tidak, karena terlalu larut dalam bayang-bayang Iskandar Muda, mereka bahkan lupa bagaimana mereka bisa menciptakan sebuah kejayaannya sendiri. Aku sepakat dengan kata-kata Muhsin.

“Orang Aceh sebenarnya memiliki kemampuan dan kehebatan. Tapi karena euforia masa lalu menyebabkan orang Aceh terlena. Padahal zaman sudah berubah. Tidak mungkin kita akan hidup seperti zaman Iskandar Muda. Seharusnya kita bisa menampilkan kejayaan itu dengan cara kita sendiri. Dengan cara yang sesuai dengan tuntutan zaman.”

Aceh tidak hanya menyimpan warisan sejarah, tapi juga keindahan alamnya. Namun yang menarik bagiku adalah jejak-jejak laut yang dulu pernah tumpah ke daratan dan menghancurkan segala yang dilaluinya. Tsunami meninggalkan sejarah untuk dikenang dan direnungi. Sudah sepantasnya kita merenungi cobaan-cobaan Tuhan. Aku juga sepakat dengan Muhsin yang pernah mengatakan bahwa tsunami itu adalah sebuah peringatan. Meskipun hal itu tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, tapi aku yakin Tuhan memang sedang menguji.

Aku memang tidak terlalu alim. Salatku juga sering bolong. Jika pagi aku bersujud, kadang-kadang di sore hari aku abaikan. Perkenalanku dengan Muhsin-lah yang seakan-akan menyadarkan diriku betapa sebuah ibadah itu memiliki arti dan nilai tersendiri. Aku tidak bisa mengungkapkan bagaimana tenangnya hatiku ketika berada di dekat-Nya. Sungguh, Tuhan itu ada dan seolah-olah sedang mengawasiku. Mungkin inilah yang harus kusyukuri karena Aceh telah memulihkan kepercayaan diriku pada nilai-nilai agama.

“Terima kasih, Kakek. Semoga Tuhan menempatkanmu di surga,” batinku mengenang kakek. []

Ikuti juga bagian-bagian lain:

  • Bagian 1
  • Bagian 2
  • Bagian 3
  • Bagian 4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *