Jejak-jejak Laut Bagian 6

Secangkir kopi manis

Aku adalah penyaring kopi atau orang-orang asing menyebutku sebagai barista. Namaku Ibrahim. Namun pelanggan-pelangganku biasa memanggilku Bram.

“Bram, kopi satu gelas. Yang pekat, ya?”

“Bram, kopi pancung  satu!”

“Bram, sanger  panas!”

“Bram, teh tarek  dingin!”

“Bram, kupi weng!”

Begitulah pesanan-pesanan yang sering diminta oleh para pelangganku. Jika kalian berkunjung ke Aceh, singgahlah ke warung kopi tempat aku menyaring kopi. Memang di setiap sudut kota akan dengan mudah kalian jumpai warung kopi. Sehingga Aceh juga dikenal dengan negeri seribu warung kopi. Tapi jangan salah masuk warung kopi. Karena setiap warung kopi memiliki cita rasa tersendiri. Misalnya warung kopi Nek Sabi tempatku bekerja. Tidak ada yang tidak mengenal warung kopi Nek Sabi yang terletak tidak jauh dari simpang tujuh Ulee Kareng.

Di sinilah asal muasal kopi Ulee Kareng menjadi terkenal. Setiap pelancong yang datang ke Aceh sudah hafal akan kenikmatan kopi Ulee Kareng. Ketika bencana tsunami melanda negeri kami, kita tahu, banyak pekerja-pekerja asing yang membantu proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Mereka juga tak luput untuk sekadar menggoyangkan lidah mereka menikmati secangkir kopi.

Duduk berlama-lama untuk membunuh waktu merupakan salah satu budaya tak tertulis yang dilakoni suku kami. Tidak pas rasanya jika sehari saja tidak menikmati kopi. Tidak peduli lambung sedang sakit atau malam kian larut, kopi adalah candu. Serupa tuak Cina yang sulit disingkirkan dari lidah-lidah pemabuk.

Baiklah, aku akan mengajarkan pada kalian bagaimana kopi Ulee Kareng sangat diidamkan oleh lidah-lidah pecandu kopi itu, atau menyebabkan si pelancong terbuai mimpi dan kenangan. Ingatlah satu hal, kopi yang kuracik dan kuseduh tidak akan kubumbui dengan ganja. Ini perlu kutegaskan karena ada pelancong yang nakal yang mengumbar fitnah sehingga telah menilai kopi ini sebagai kopi ganja. Benar jika ganja tumbuh subur di ladang kami. Namun janganlah kalian menuduh kami sebagai pemasok ganja terbesar ke daerah-daerah kalian. Barangkali itu hanya ulah orang-orang yang tamak dan pemalas. Mereka preman-preman yang telah ditutup pintu hatinya oleh Tuhan karena telah menyesatkan generasi kita. Semoga Tuhan membuka pintu hati mereka.

Aku tidak akan sungkan-sungkan mempertontonkan keahlian pada pelancong-pelancong ataupun penikmat-penikmat kuliner nusantara. Aku pernah beberapa kali diminta oleh pembawa acara kuliner untuk menyaring kopi. Kamera-kamera mengarah kepadaku. Sedikit pun aku tidak gemetar karena puluhan pasang mata menatap bangga ke arahku. Aku juga akan bersedia memperlihatkan caraku mengangkat jaring kopi tinggi-tinggi melewati kepalaku kepada sepasang kekasih yang tampaknya sedang mabuk kecukung. Si lelaki yang dulu sering kulihat duduk menyendiri, tapi kali ini sudah sering ditemani oleh seorang perempuan muda yang cantik. Dari wajahnya aku bisa menangkap kesan bahwa si perempuan bukanlah orang Aceh. Ia beberapa kali memotret diriku. Menuliskan sesuatu pada catatannya. Dan menanyakan beberapa pertanyaan kepadaku. Meskipun suasana kedai kopi kami sedang ramai, aku akan berusaha menjawab pertanyaannya dengan singkat, padat, dan jelas. Selebihnya lelaki itulah yang menjelaskannya.

Aku akan kembali pada pokok persoalan kita. Kopi adalah seni. Sebagai sebuah seni, kopi haruslah diseduh dengan perasaan dan cinta. Ya, cinta menjadi salah satu faktor utama dalam menyeduh kopi. Seorang barista mesti mencintai kopi melebihi cintanya pada kekasih mereka. Jika seorang barista sedang kacau hatinya, kopi yang diseduh juga akan kacau rasanya. Menyeduh kopi agar nikmat juga membutuhkan kekuatan. Jaring kopi yang sepintas terlihat seperti kaus kaki itu, memerlukan tenaga yang kuat. Ketika jaring itu diangkat tinggi-tinggi melewati batas kepala, kita harus menahan dengan sekuat tenaga dan menunggu air yang tertampung pada jaring kopi itu berpindah perlahan-lahan ke dalam cangkir atau gelas kopi.

Aku mewarisi keahlian menyeduh kopi dari ayahku. Ketika beliau hendak bekerja, aku selalu dibawanya. Aku tidak pernah berada jauh darinya ketika beliau menyeduh kopi.

“Kau harus menjaga air agar selalu mendidih, Ibrahim,” kata ayahku. “Air yang kaumasak juga sangat menentukan cita rasa kopi. Kau tahu kenapa kopi yang kuracik sangat diminati? Padahal bubuk kopi yang kita campur hanyalah bubuk kopi biasa,” lanjutnya. Aku hanya menggeleng pertanda tidak mengetahui jawabannya.

“Kuncinya ada pada air. Ayah tidak akan memasak air jika berwarna keruh. Ayah juga tidak akan memanfaatkan air isi ulang karena khawatir tercampur bahan kimia. Tahukah kau di mana Ayah mengambil air? Di sumur kita. Airnya sangat jernih dan tidak berwarna. Air itu selalu Ayah isi ke dalam jirigen-jirigen yang setiap hari diangkut oleh para pekerja.”

Memang benar kata ayahku, jika air yang kita gunakan untuk menyeduh kopi tidak bersih atau berwarna, rasa kopi akan seperti rasa jagung. Pelajaran yang dapat kuambil dari ayahku adalah kondisi air dan tingkat kedidihan air juga memengaruhi cita rasa kopi. Jadi tidak melulu tergantung dari jenis kopi yang disediakan. Ini salah satu rahasia yang harus kalian jaga.

Setelah aku mendapatkan cukup ilmu tentang bagaimana cara menyeduh kopi, aku pun menggantikan posisi ayahku yang mulai renta dimakan usia. Dan setelah bencana tsunami menimpa negeri kami, aku memutuskan untuk mengadu peruntungan ke Banda Aceh. Aku meninggalkan kampung halamanku yang sangat dingin seolah-olah sedang dikurung lemari es.

Di Banda Aceh aku diterima sebagai salah satu pekerja di Nek Sabi. Awalnya aku belum dipercayakan sebagai seorang barista. Butuh waktu, begitu kata mereka. Dan ketekunan yang teguh, aku akhirnya bisa menjadi seorang barista tetap di Nek Sabi. Sampai sekarang.

Kalian tahu kenapa kopi Nek Sabi memiliki ciri khas yang berbeda dibandingkan kopi-kopi lain? Sejujurnya aku belum pernah melihat toke-ku meracik kopi. Kopi Nek Sabi memang diracik sendiri oleh keturunan pendiri Nek Sabi. Proses meracik kopi ini tidak sembarangan diberikan kepada orang lain. Dan meracik kopi Nek Sabi tidak memerlukan banyak orang, cukup satu orang saja yang membantu sang toke.

Menurut penuturan sang toke, biji kopi robusta haruslah dipilih secermat mungkin dan berasal dari biji-biji kopi terbaik. Tidak boleh biji-biji kopi itu disusupi oleh biji-biji yang busuk atau cacat. Kemudian biji kopi itu dipanggang dalam sebuah wadah. Di bawahnya kayu bakar yang memiliki panas yang tinggi akan menjilati pantat wadah berisi biji kopi. Selama proses pemanggangan, campurkanlah gula dan mentega secukupnya. Barangkali pemanggangan kopi membutuhkan waktu sekitar empat jam. Kopi yang sudah dipanggang kemudian digiling sampai halus. Nah, bubuk kopi yang sudah jadi siap untuk dinikmati.

Jangan lupa untuk mengiringi kopi dengan kudapan khas Aceh. Di setiap warung kopi bisa kalian jumpai kue-kue Aceh yang rasanya manis. Misalnya pulut , boh rom-rom , timphan , dan roti selai. Manjakan lidah kalian dengan semuanya, dan kujamin kalian tidak akan pernah menyesal.

Warung kopi Nek Sabi tidak pernah sepi pengunjung. Orang Aceh sudah membudayakan berkumpul di warung kopi tidak hanya sekadar menikmati kopi yang masih panas. Tapi mereka kerap memperbincangkan berbagai soalkan. Masalah politik, ekonomi, pendidikan, sosial, budaya, atau hanya membahas gosip-gosip murahan. Bahkan ide-ide liar atau pergerakan mahasiswa tidak jarang yang lahir dari warung kopi. Di sinilah semuanya bermula dan bisa diakhiri seiring berakhirnya tetesan kopi terakhir.

Tapi kalian juga perlu tahu, cinta juga kadang-kadang lahir di warung kopi. Seperti hari ini kulihat, sepasang kekasih sedang mabuk kopi. Si lelaki yang kukenal bernama Muhsin itu menceritakan banyak hal dengan semangat yang tak tertahankan. Ia adalah laki-laki malang yang kesepian setelah istrinya dilarikan tsunami. Sedangkan perempuan itu, aku tahu ia adalah perempuan asing, sangat menikmati perbincangan lelaki itu. Mereka kerap menghabiskan waktu ketika senja sedang kepayahan. Bukankah menikmati kopi di bawah guyuran hujan bersama kekasih adalah sebuah kisah yang indah? Tuhan sedang menjabarkan keindahan itu.

Ikuti juga bagian lainnya:

  • Bagian 1
  • Bagian 2
  • Bagian 3
  • Bagian 4
  • Bagian 5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *