Jejak-jejak Laut Bagian 7

Mesjid Baiturrahim Ulee Lheue

Sebagaimana saudaraku diciptakan sebagai rumah Tuhan, aku juga ditakdirkan demikian. Tidak jauh dari Pantai Ulee Lheue, aku berdiri anggun di bawah naungan langit. Memperindah ketegasan pantai dengan landmark yang memiliki sejarah panjang. Jika saudaraku diperuntukkan bagi orang-orang yang mengidamkan kasih Tuhan, maka aku menjadi rumah bagi orang-orang yang merindukan sayangan Tuhan. Akulah Baiturrahim, sebuah masjid anggun yang luput dari amukan tsunami.

Tuhan telah memperlihatkan kuasa-Nya. Baiklah, aku akan menceritakan sedikit kepada kalian bagaimana Tuhan membiarkan tubuhku selamat, sementara bangunan lain telah hancur. Ketika tsunami menghantam tubuhku, gelombang laut itu membuat kakiku kedinginan. Ombak-ombak pantai yang menimpaku memecahkan dirinya, lalu berlari ke arah yang lain. Aku hanya bisa terpaku menyaksikan kerumunan manusia yang diamuk tsunami. Beberapa dari mereka berusaha bersembunyi di dalam tubuhku. Tapi ombak datang sungguhlah besar dan deras. Mereka ikut tersapu bersama air bah yang hitam pekat itu. Tapi sungguh ajaib, setelah air bah hitam pekat itu berlalu dari tubuhku, air laut yang benar-benar jernih menggenangi tubuhku. Aku merasakan ada beberapa orang yang mencoba berenang menyelamatkan diri, tapi Tuhan berkehendak lain. Mereka ikut terbenam bersama laut.

Hanya orang-orang yang disayang Tuhan yang mampu menyelamatkan diri dengan memanjati tubuhku. Mereka berhasil sampai di atas, dan tanpa henti meneriakkan nama-nama Tuhan. Terlintas dalam pikiran mereka bahwa dunia telah kiamat. Padahal tidak, mereka sedang diuji. Kejadian di Minggu sangat miris sekali. Lolongan-lolongan panjang sungguh memilukan. Hari itu tidak ada pertolongan bagi mereka. Hanya orang-orang yang dikehendaki Tuhan saja yang selamat. Sungguh sebuah keajaiban ataupun mukjizat jika ada orang yang berhasil selamat dari amukan tsunami.

Gelombang tsunami yang tingginya melebihi tubuhku sempat membasahkan diriku. Beberapa gelombang itu hanya melewatiku saja dengan kecepatan yang sangat tinggi. Aku yang sudah tua, entah bagaimana, dengan kokohnya memakukan kakiku di atas bumi. Jika aku bergoyang sedikit saja, maka aku akan dibawa terseret arus ombak itu. Jika aku punya kuasa dan kekuatan, tentu aku sangat ingin menolong manusia-manusia lemah itu. Tapi Tuhan hanya memberiku kekuatan lain, agar umat manusia dapat belajar dari segala bencana dan musibah.

Sesaat sebelum tsunami menghantam tubuhku, aku melihat sepasang manusia sedang berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan diri mereka. Wajah lelaki itu sangat tampan, dan ada sisa kelelahan di matanya. Ia memacu kendaraannya dengan kecepatan penuh, khawatir gelombang tsunami menyapu tubuh mereka. Sedangkan si perempuan yang duduk di belakang, memeluk pinggang lelaki itu erat-erat seakan tidak ingin berpisah. Perempuan sangat cantik dalam balutan kerudung yang berwarna langit. Lengan dan kakinya masih berinai. Malang sekali mereka jika harus berpisah, mereka adalah pengantin baru yang mungkin baru saja menuntaskan malam pertama mereka.

Barangkali mereka tidak sempat menyucikan diri ketika gempa mengguncang bumi. Gempa yang sangat dahsyat, lantas diikuti gelombang tsunami. Tapi tidak mungkin mereka baru bangun tidur. Pakaian mereka bukan pakaian tidur. Atau mungkin saja mereka hanya menikmati keindahan Ulee Lheue, menghirup udara pagi, menikmati bagaimana matahari terbit, dan menyisir bibir pantai. Namun keindahan pagi itu harus diakhir dengan bencana.

Kepanikan jelas terlukis di wajah pengantin baru itu. Mereka hilang di badan jalan dan berbaur dengan orang-orang yang juga menyelamatkan diri. Tsunami melewatiku. Menyeret sebuah kapal baja yang mengapung megah di tengah laut. Subhanallah! Bukankah kapal itu sangat berat? Kapal itu seolah-olah berjalan di atas air, menabrak dinding-dinding rumah, dan menghancurkannya. Aku juga menyaksikan beberapa orang terhimpit oleh badan kapal itu. Gelombang demi gelombang tsunami terus berdatangan. Seolah ombak laut itu saling mendahului untuk mencapai daratan terjauh yang bisa mereka jangkau. Setelah ombak-ombak itu mencapai ujung daratan terjauh, mereka kembali ke laut. Namun diikuti oleh gelombang susulan yang tak kalah tinggi dan kencang lajunya.

Ketika ombak yang surut tadi hendak kembali ke laut, aku melihat tubuh perempuan muda yang berinai tadi. O, Tuhan, perempuan cantik yang malang. Padahal mereka baru saja memulai kehidupan baru. Tubuh perempuan itu timbul tenggelam bersama air laut. Aku tahu ia tidak bernyawa lagi. Matanya memandang langit dengan damai. Seutas senyum, aku bisa mengatakan itu sebuah senyum, karena ujung kedua bibirnya tidak terkatup rapat. Damai sekali kepergiannya. Semoga Tuhan membimbingnya ke surga.

Lalu di manakah laki-laki itu? Aku tidak melihatnya. Mataku menjejal ke setiap pelosok yang sudah tergenang air. Aku tidak berhasil menangkap laki-laki itu. Jika aku melihatnya, tentu aku ingin mempersatukan keduanya seandainya laki-laki itu sudah mengikuti jejak istrinya. Tapi seandainya laki-laki itu masih hidup, aku akan berteriak keras sehingga ia akan menyangka suara gaib yang memanggilnya. Aku akan mengatakan kepadanya istrinya membutuhkan pertolongannya. Tapi sudahlah, aku hanya bisa berharap semoga laki-laki itu diberi umur yang panjang oleh Tuhan. Agar ia bisa mengenang bencana ini sebagai sejarah kehidupannya.

***


Aku terjaga oleh suara seorang bilal yang tertatih-tatih menyapu lantai masjid. Sayup-sayup kokokan ayam jantan menyambut fajar menandakan kehidupan akan berdenyut sesaat lagi. Satu per satu jamaah mulai mendatangiku untuk menunaikan sebuah kewajiban pagi kepada Tuhan. Mata mereka masih menyisakan kantuk yang mendalam. Namun mereka adalah orang-orang yang mendamba surga dan telah belajar dari cobaan Tuhan beberapa tahun silam. Aku menyambut mereka dengan senyuman paling indah yang pernah kutebarkan.

Aku akan menceritakan sedikit kepada kalian bagaimana aku telah terpaku di sini, di pinggir Pantai Ulee Lheue. Sultan Aceh telah mendirikanku pada abad 17. Saat itu aku masih dinamakan dengan Masjid Jami’ Ulee Lheue. Ketika Masjid Raya Baiturrahman dibakar oleh Belanda pada tahun 1873, masyarakat Aceh ramai-ramai melakukan salat Jumat di sini. Jamaah pun membludak dan beberapa terpaksa harus rela berbaris di halaman masjid. Saat itulah namaku telah menjadi Baiturrahim.

Dulu tubuhku tak sekokoh sekarang. Hanya rangkaian kayu-kayu yang kian lama kian lapuk dimakan rayap. Tubuhku dirobohkan dan diganti dengan material permanen. Saat itu aku juga dibangun oleh Belanda dengan gaya arsitektur Eropa. Di tahun 1983, gempa bumi mengguncang Aceh. Gempa yang amat dahsyat tapi tak sampai menyebabkan tsunami. Air laut memang tidak naik ke darat, tapi hiasan kepalaku hancur berkeping-keping. Aku tidak sanggup menyeimbangkan kekuatan bumi itu.

Akhirnya, aku direhab kembali dengan mempertahankan bentuk dasar dan tidak lagi menambahkan kubah di kepalaku sebagai penghias masjid. Aku tidak mempersoalkannya. Bukankah Tuhan melarangku untuk bersikap angkuh?
“Apakah kau percaya, Nadia. Masjid Baiturrahim tidak sedikit pun hancur dan rusak parah akibat tsunami. Padahal gelombang laut bisa saja menenggelamkannya. Ini adalah keajaiban,” kata seorang lelaki pada seorang perempuan muda yang cantik.

Aku menatap sangat lama laki-laki itu. Seakan aku mengenalnya. Sangat mengenal sekali. Tapi di mana? Aku mencoba mengingat-ingat kembali orang-orang yang pernah menyinggahiku. Lembaran masa lalu kusibak dengan teliti. Tapi aku tidak berhasil mengingatnya. Ah, betapa tuanya aku.
Perempuan itu memotret tubuhku, sama halnya dengan pelancong berkulit putih yang mengambil tubuhku dengan kamera-kamera mereka. Aku ingin menunjukkan kekuasaan Tuhan pada mereka, bukan dengan maksud menyombongkan diri, tapi sebagai cerminan bagi orang-orang beriman agar lidah tak pernah kering menyebut-Nya.

“Mari kita salat Ashar, Nadia. Azan akan bergema sesaat lagi,” laki-laki itu membimbing perempuan itu ke tempat wudhu. Azan yang indah bergema. Masyarakat menghentikan aktivitas mereka sesaat. Beberapa warga menyilang warung mereka dengan sebilah papan, orang-orang berpakaian seragam memacu kendaraan mereka dan menyusunnya dengan rapi di pekarangan, anak-anak berduyun-duyun saling mengejar untuk mencapai tempat wudhu seakan-akan tidak ingin imam meninggalkan mereka. Betapa indahnya senja itu. Ketika anak manusia meninggalkan kedudukan dan kehormatan mereka, berbaris sejajar, membungkukkan tubuh, dan menekan jidat mereka menyentuh altar penyembahan kepada Tuhan. Aku ikut bersujud bersama imam. Mendoakan semua jamaah agar salat mereka dapat menembus pintu langit dan dicatatkan pada lembaran-lembaran langit. []

Lihat bagian lain

  • Bagian 1
  • Bagian 2
  • Bagian 3
  • Bagian 4
  • Bagian 5
  • Bagian 6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *