Jejak-jejak Laut Bagian 8

Ilustrasi perasaan cinta

Nadia telah kembali ke Makassar setelah tepat bulan ia menjejali Aceh. Aku tidak bisa mengantarkannya ke bandara di pagi itu, karena aku harus mengajar di sekolah. Aku tidak bisa meninggalkan kelas karena pada waktu yang bersamaan aku telah berjanji pada anak-anak didikku untuk menceritakan sejarah meletusnya perang Aceh dengan Belanda. Anak-anak didik akan memusuhiku jika aku melupakan janji itu. Aku tahu mereka hanya mengancam saja. Bukankah tidak elok memusuhi guru karena ilmu yang telah diajarkan sang guru tidak diberkati Tuhan.

Aku merasa kesepian sejak kepergian Nadia. Di hari terakhir perjumpaan kami, di sebuah warung nasi kari kambing khas Aceh Besar, ia berjanji akan kembali ke Aceh. Ia harus pulang ke Makassar karena kakaknya akan menikah. Aku dapat memegang janjinya yang tulus meluncur dari mulutnya. Pada hari itu hatiku sempat memberontak, ingin mengutarakan niatku untuk mengatakan keterusterangan hatiku. Betapa aku sangat menyukainya, dan berharap ia juga menyukaiku. Namun aku ingin lebih. Aku ingin mencintainya, dan kata-kata cinta itu harus meluncur dari mulutku.

Ada beban yang beratnya berton-ton ketika kata-kata itu ingin kuucapkan di hadapannya. Sejujurnya aku bukan laki-laki yang gemar mengumbar kata-kata cinta di hadapan seorang perempuan. Begitu yang kualami dengan almarhumah istriku. Ketika proses perkenalanku dengannya, aku tidak pernah mengatakan aku mencintainya. Dan istriku pun demikian. Cinta kami terjadi secara alami. Tidak ada proses “katakan cinta” di mana seorang laki-laki harus mengungkapkan isi hatinya kepada si perempuan. Lalu si perempuan akan membalasnya dengan menerima cinta si lelaki atau menolaknya. Tidak. Itu tidak pernah kami lakukan. Kami merasa canggung dengan cara demikian.

Yang kami tahu selanjutnya adalah kami saling mencintai. Tidak ada hal yang kami lakukan yang dapat melukai perasaan kami masing-masing. Kami saling berhubungan dan saling bercerita. Tapi tidak sama seperti yang kulakukan dengan Nadia. Kami hanya berbagi cerita lewat telepon dan sms-sms. Kami jarang jalan berduaan. Orang tua Nadia adalah seorang tengku di kampung. Orang yang sangat dihormati dan guru bagi penduduk kampung. Apa jadinya jika orang-orang kampung melihat anak gadisnya berjalan dengan laki-laki yang bukan muhrimnya?

Mungkin kalian akan berpikir betapa kunonya caraku mendekati seorang perempuan. Terserah bagaimana penilaian kalian tentang hubungan kami. Setelah enam bulan aku menyelami dan mengenali sosok Siti Aminah, aku pun melamarnya dengan mahar 20 mayam emas.

Sudah menjadi tradisi kami meminang anak gadis dengan mahar berupa emas. Untuk satu mayam emas sama dengan 3,3 gram emas. Jadi aku melamar Siti Aminah dengan mahar 60,6 gram emas. Sungguh jumlah yang sangat besar. Kenapa mesti 20 mayam emas? Ada tradisi yang dipertahankan oleh sebuah keluarga bahwa jumlah mahar tidak boleh lebih sedikit dari jumlah mahar ibunya. Dulu ibu Siti Aminah dipinang oleh ayahnya dengan mahar 15 mayam. Dan kakak Siti Aminah dilamar dengan mahar 18 mayam. Artinya, Siti Aminah harus dipinang dengan jumlah mahar minimal 18 mayam, tidak boleh kurang tapi dibolehkan jika lebih. Sesuai kesepakatan keluargaku dan keluarga Siti Aminah, maka aku menyanggupi untuk meminang Siti Aminah dengan mahar 20 mayam emas, tunai.

Di hari pernikahanku, aku sangat bahagia sekali karena telah melepas masa lajangku yang sangat menyiksa batinku. Jujur aku mengatakan kepada kalian, darah mudaku sangat menggelora di waktu itu. Nafsuku kian bergejolak, kadang-kadang setan menuntunku untuk melakukan masturbasi. Setelah nafsuku tertumpahkan, penyesalan selalu datang terlambat. Namun Tuhan berkehendak lain. Belum sempat aku menikmati surga dunia, istriku telah kembali kepada-Nya.

Kemudian Nadia mengisi kekosongan hatiku. Berada di sampingnya aku merasakan kedamaian. Meskipun usia kami terpaut sekitar delapan tahun, aku tidak canggung untuk berada di dekatnya. Semangatku mudaku kembali bergelora. Kadang-kadang setan juga menuntunku untuk membayangkan bersetubuh dengannya. Sungguh pikiran yang dapat merusak iman. Tapi bukankah aku laki-laki yang normal, yang diciptakan Tuhan untuk memiliki nafsu batin? Aku berada di simpang kebimbangan. Tapi mengajaknya untuk menjadi istriku, aku pikir terlalu cepat. Barangkali akan membuatnya terkejut. Biarlah aku menunggu waktu yang tepat. Biarlah Nadia menyelesaikan kuliahnya dulu. Biarlah bunga itu bersemi, dan ketika sudah mencapai puncak pertumbuhannya, aku akan siap memetiknya.

Namun, aku ragu apakah Nadia memiliki perasaan yang sama dengan apa yang kurasakan? Aku tidak melihat semangat di wajahnya seperti semangat yang ada di wajahku. Aku merasakan ia bersikap biasa saja, tidak ada yang luar biasa dari tingkah lakunya. Ia perempuan yang tidak banyak cakap, atau ia memang tidak senang berada di sampingku. Tidak mungkin. Ia selalu bertanya tanpa malu apa yang perlu ia tanyakan.

Aku selalu menceritakan kehidupan pribadiku. Tidak ada yang kusembunyikan. Tapi aku sulit mencari tahu kehidupan pribadinya. Di sini aku mulai mempertegas keraguanku. Mungkin aku bukan laki-laki yang layak menjadi curahan isi hatinya. Atau mungkin ia risih menceritakan kehidupan masa lalunya. Atau mungkin ia memang perempuan yang menutup rapat-rapat tentang kehidupan lalunya? Terlalu banyak kemungkinan yang aku tidak mampu menjawabnya.

Pernah suatu kali kutanyakan mengenai kehidupan percintaannya. Aku berasumsi mungkin ia sudah memiliki seorang kekasih di sana, atau di tempat lain yang aku tidak tahu. Ia tidak ingin membahasnya. Baginya laki-laki itu hanya duri yang dapat melukai hatinya. Aku menanyakan lagi apakah sekarang ia memiliki kekasih? Ia tidak menjawabnya dan hanya menyisakan misteri bagiku. Aku pun tidak ingin mendesaknya karena memperkeruh hubungan kami. Jadi untuk saat ini, aku menjalani waktu-waktu kebersamaan dengannya.

Murid-muridku yang pernah melihatku berduaan dengannya sering menggodaku. Mereka menyebarkan gosip yang tidak sedap di sekolah. Tentu saja aku merasa risih dengan gosip-gosip murahan itu. Aku tidak pernah memarahi murid-muridku yang kadang kehabisan bahan untuk bergosip. Aku hanya mengingatkan mereka agar tidak menyebarkan dusta yang dapat menjatuhkan martabatku sebagai seorang guru. Mereka akhirnya memahami kondisiku. Mereka juga percaya aku masih bisa menjaga kehormatan dan nama baikku. Buktinya saja, aku tidak pernah membonceng Nadia untuk duduk di belakang sepeda motorku. Kami berjalan dengan masing-masing sepeda motor. Mungkin kalian akan tersenyum mendengar ceritaku ini. Mungkin kalian akan menganggap bahwa ceritaku adalah sampah atau dipenuhi kebohongan. Namun begitulah kenyataannya, dan aku tidak mungkin menutupinya.

Atau kalian mungkin akan berpikir aku tidak akan pernah berhasil mengutarakan cintaku pada Nadia. Kalian akan menangisi nasib tokoh utama yang malang ini yang sampai mati tidak akan pernah mendapatkan cinta Nadia. Terserah kalian menilaiku. Aku hanya ingin menjaga hatiku agar tidak terperangkap dalam jurang-jurang kenistaan. Sudah cukup Tuhan menguji kami dengan cobaan. Aku tidak akan sanggup jika datang cobaan yang lebih hebat lagi.

Hatiku memang kosong. Setelah kepulangan Nadia ke kampung halamannya, aku merasakan ada gejolak aneh dalam hari-hariku. Mataku sulit terpejam di kala malam. Pikiranku tidak bisa menghalau bayang-bayang Nadia. Jejak-jejak kami tak pernah tersapu air laut ketika aku menyisir Pantai Ulee Lheue hanya untuk menikmat terbenamnya matahari. Nadia, kapan kau akan kembali ke Aceh? Aku sangat merindukan kehadiranmu, meskipun kau bukan kekasihku. Tapi izinkanlah aku menjadi kekasihmu dalam pikiranku, hayalanku, dan mimpi-mimpiku.

Tidak hanya kehidupanku yang terasa hambar. Kenikmatan ketika aku mencicip kopi Ulee Kareng juga seakan lenyap. Kopi itu terasa semakin pahit dan meninggalkan rasa asam di ujungnya. Apakah kopi di sini sudah kehilangan cita rasanya? Aku menyeruputnya sekali lagi. Rasanya tetap sama. Aku tambahkan dua sendok gula, dan mengaduknya sampai butiran gula itu larut bersama kopi. Rasanya tetap pahit.

“Bram, kenapa kopi hari ini rasanya pahit?” protesku.

Bram agak tersinggung dengan kata-kataku. Tapi tak lama ketika ia melihat kursi di depanku kosong.

“Muhsin, mungkin kau sedang galau. Di mana kekasihmu itu?” balasnya sambil tersenyum mengejek. Aku abaikan ejekannya dan meminta Bram untuk menyeduh secangkir kopi yang kental. Bram pun memindahkan cairan-cairan kopi dari jaring yang diangkat tinggi-tinggi melewati kepalanya ke dalam gelas kosong. Tanpa gula. Karena aku akan menambahkan gula yang tersedia di meja sesuai dengan seleraku sendiri. Aku memasukkan beberapa sendok gula dan mengaduknya. Rasanya tetap sama. Mungkin benar kata Bram kalau hatiku sedang dilanda kebimbangan. Di sini kemudian aku menyimpulkan, cita rasa kopi juga sangat dipengaruhi oleh suasana hati si pencicipnya.

Aku berusaha menghalau kerinduanku pada Nadia dengan membaca ayat demi ayat dari Al-Quran. Kata orang-orang, obat hati yang sedang galau adalah membaca Al-Quran. Kadang-kadang setan berhasil mengalahkanku. Aku tidak pernah larut dalam menyelami ayat-ayat suci itu. Setiap selesai satu ayat, pikiranku menerawang jauh. Mengenang hari-hari yang kulalui dengan Nadia. Setan diutus ke dunia untuk memperdaya iman-iman yang lemah. Aku ikut merasakan iman-imanku mulai terkikis. Cinta karena nafsu adalah sejahat-jahatnya cinta. Namun, berdosakah aku karena telah jatuh cinta?

Lihat juga bagian lainnya:

  • Bagian 1
  • Bagian 2
  • Bagian 3
  • Bagian 4
  • Bagian 5
  • Bagian 6
  • Bagian 7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *