Jejak-jejak Laut Bagian 9

Namaku Yusniar. Sepintas namaku memang akrab di telinga orang-orang Aceh. Ya, Yusniar adalah tokoh perempuan cantik dalam film komedi serial Aceh yang berjudul Eumpang Breueh yang kopian cd-nya laku keras di pasaran. Nama ayah Yusniar juga persis dengan nama ayahku, yaitu Haji Uma. Kemiripan ini memang kebetulan saja. Dan orang-orang pun sering meledekku dengan panggilan Yusniar anak Haji Uma. Mulanya ledekan itu membuatku risih. Namun, lama-lama aku dapat menerimanya  sebagai sebuah kebiasaan. Tidak ada gunanya berdebat dengan mereka. Kadang-kadang menyalahkan si pembuat film, kenapa mesti mengambil nama tokoh perempuannya persis seperti namaku? Dan kenapa pula mereka menamakan ayah Yusniar menyerupai nama ayahku?

Ilustrasi gadis Aceh
Ilustrasi gadis Aceh. Gambar diambil dari Pexels.com.

Aku saat ini kuliah di Fakultas Kedokteran. Ayahku seorang pegawai yang memiliki jabatan di kantor gubernur. Aku memang tidak secantik Yusniar dalam film Eumpang Breueh. Tapi tidak sedikit laki-laki yang ingin mendekatiku. Aku tahu kebanyakan dari mereka hanya mengincar materi. Bukan bermaksud sombong, ayahku yang sangat memanjakan diriku selalu memenuhi kebutuhan hidupku. Terakhir aku meminta pada ayah untuk membelikanku sebuah mobil. Permintaanku dikabulkan. Sebuah Honda Jazz baru sudah menjadi hak milikku. Aku bersyukur karena dilahirkan dari keluarga yang berada.

Kehidupanku berubah gara-gara kedatangan Nadia, sepupu jauhku yang tinggal di Makassar. Menurut ayahku, kakek Nadia adalah paman ayahku yang sudah lama menetap di Makassar. Awalnya aku senang dengan kedatangan Nadia. Kupikir ia hanya beberapa hari saja di Aceh. Ternyata ia malah menyampaikan niatnya untuk menetap agak lama di Aceh. Alasannya adalah untuk memenuhi janjinya pada almarhum kakeknya. Dan alasan kedua ia ingin melakukan penelitian tentang bangunan-bangunan atau tempat-tempat yang menjadi saksi sejarah dari peristiwa tsunami. Aku pikir itu hanya alasannya saja.

Ayahku meminta kesediaanku untuk menemani Nadia dan memenuhi segala kebutuhannya. Di sinilah aku mulai merasa kasih sayang ayahku akan terbagi. Aku tidak mempermasalahkan perlakuan ayahku pada Nadia, karena di rumah aku juga mendapatkan porsi yang sama dengan adikku, Yusrawati yang masih bersekolah di SMP. Tapi kadang-kadang sikap ayahku terlalu berlebihan pada Nadia. Ayah juga kerap memberikan uang dalam jumlah besar kepada Nadia yang pura-pura ia tolaknya.

Dan yang paling membuatku sakit hati adalah ia tidak ingin memperkenalkan diriku dengan Muhsin, laki-laki tampan yang umurnya lebih tua dari kami. Ketampanan dan bentuk tubuhnya yang bidang telah menipu mata kita. Orang tidak akan pernah bisa menebak berapa umurnya kecuali jika kita menanyakan langsung padanya. Pada pandangan pertama, aku memang terbuai oleh ketampanannya. Aku pura-pura berdebat dengannya ketika ia melarang Nadia untuk tidak memakai pakaian ketat ketika kami berjalan-jalan di Pantai Ulee Lheue.

Ternyata kesan pertamaku dengannya tidak berjalan baik. Waktunya lebih banyak tersita kepada Nadia. Aku mengakui kalau sepupu jauhku memiliki paras yang menawan, lekuk tubuh yang indah dan tinggi, kulit yang putih bersih, dan sangat cocok dijadikan sebagai model sebuah iklan. Nadia memang perempuan yang sempurna. Kenapa Tuhan tidak menjadikanku lebih cantik dan seksi daripada Nadia? Kadang aku berpikir Tuhan tidak adil.

Pernah Nadia mengajakku untuk menikmati kopi di warung kopi Solong Ulee Kareng bersama dengan Muhsin. Namun aku terpaksa menolaknya akibat kesibukanku di kampus yang tidak boleh kutinggalkan. Aku semakin kesal dan mengutuk diriku sendiri karena tidak pernah bisa berkumpul bersama mereka. Padahal aku sangat ingin mengenal lebih dekat dengan Muhsin. Tapi aku melihat Muhsin sangat menyukai Nadia. Aku pun terbakar api cemburu, tapi tidak kuperlihati raut wajah cemburuku di hadapan Nadia.

Aku juga pura-pura pernah menggoda Nadia untuk mengukur apakah Nadia juga menyukai Pak Guru yang tampan itu? Ternyata Nadia mengatakan tidak, karena ia telah memiliki kekasih di Makassar. Aku senang mendengar jawaban itu, namun di sisi lain aku bisa merasakan ada gejolak hati yang sedang disembunyikan oleh Nadia. Aku tidak tahu apa yang sedang ditutup rapat-rapat dariku. Sejauh ini, Nadia selalu menceritakan kehidupan masa lalunya dan petualangan cintanya dengan beberapa lelaki kepadaku. Aku tidak meragukannya. Bukankah gadis secantik Nadia akan mudah mendapatkan laki-laki mana pun yang ingin mencintainya?

Berbeda denganku. Aku agak kepayahan dalam urusan percintaan. Semua laki-laki yang pernah menjadi pacarku adalah laki-laki sampah. Mereka hanyalah parasit yang mencari keuntungan, dan setelah mendapat apa yang diinginkan, mereka mencampakkannya. Seandainya ada seorang laki-laki mapan yang benar-benar mencintaiku apa adanya, dan laki-laki itu juga dianugerahi paras yang rupawan dan fisik yang gagah, niscaya aku akan siap melayaninya sebagai seorang istri. Itu lebih baik daripada jatuh di tangan laki-laki pecundang yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Mungkin aku hanya berangan-angan untuk mendapatkan seorang laki-laki seperti yang kugambarkan itu. Laki-laki idamanku rata-rata telah memiliki kekasih yang semuanya cantik-cantik.

O, Tuhanku. Apakah rupaku terlalu buruk sehingga laki-laki yang kuidamkan tidak pernah menjadi kekasihku? Padahal aku telah melakukan segalanya untuk bisa memikat para laki-laki yang kuidamkan itu. Namun justru yang datang kepadaku adalah laki-laki bajingan yang hanya bisa memeras dan memelas kasih.

Aku bisa menemukan sosok laki-laki idamanku pada diri Muhsin. Aku membayangkan dirinya yang bertelanjang dada menjamah tubuhku. Hasrat kewanitaanku akan menggelora, membasahi ranjang dengan peluh-peluh kami, dan mencapai langit malam hingga pagi menjelang. Pikiran-pikiran kotor seperti itu sering membayangiku di kala malam. Tapi mungkin aku tidak akan pernah mewujudkan hayalanku itu. Nadia datang di waktu yang tepat, namun justru menjadi penghalang di waktu yang tidak tepat.

Nadia telah pulang ke Makassar. Katanya hanya sebentar saja karena kakaknya akan menikah dalam waktu dekat. Kenapa mesti sebentar, Nadia? Kenapa tidak selamanya kau pergi dalam kehidupanku? Biarkanlah aku mendekati Muhsin dengan caraku. Aku ingin Pak Guru itu melepaskan bayang-bayangmu, dan menggantikan bayang-bayang itu dengan kehadiranku.

Sejenak terlintas sebuah ide yang jahat. Kenapa aku tidak berkata terus terang kepada Muhsin kalau Nadia telah memiliki seorang kekasih di Makassar. Aku akan mengarang cerita dengan mengatakan mereka saling mencintai. Jika Muhsin mengatakan bahwa Nadia tidak pernah menceritakan tentang hubungan cintanya, aku akan mengumbar kejelekan-kejelekan Nadia di hadapannya agar ia berhenti mengharapkan cinta Nadia.

Aku tersenyum dalam hatiku. Tapi lambat laun aku menyadari betapa jahatnya diriku seandainya aku mengatakan hal itu. Bukankah belum tentu Muhsin mencintai Nadia? Kemungkinan Muhsin akan berpikir lebih jauh seandainya suatu saat ia akan menikahi Nadia. Mungkin saja Nadia akan menolak untuk menetap di Aceh seandainya mereka jadi menikah. Atau sebaliknya, mungkin juga Muhsin akan menolak untuk tinggal di Makassar. Ah, betapa kacaunya pikiranku. Aku tidak bisa berhenti mengingat wajah tampan Muhsin. Kenapa Tuhan tidak menjodohkanku dengannya?

Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam benakku akibat iri hatiku pada Nadia. Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Aku berharap cinta yang kualami ini hanya cinta monyet saja. Cinta yang datang sesaat, lalu pergi jauh tanpa kembali. Sebuah cinta abal-abalan untuk mengisi kekosongan kehidupan. Cinta gadis remaja seusiaku yang masih ingin menikmati dan mengisi kehidupan dengan kesenangan. Aku bisa kapan saja menghamburkan uang untuk belanja pakaian di pasar-pasar atau mall¸ menghabiskan uang untuk berfoya-foya agar beban yang ada di kepala selama perkuliahan bisa lenyap sejenak. Aku adalah gadis muda yang masih ingin menikmati kesenangan dengan bersama teman-temanku. Tapi sialnya, di Aceh tidak banyak tempat hiburan yang bisa kutumpahkan untuk sekadar menghilangkan kejenuhan akibat persoalan yang semakin rumit. Mari kita lupakan cinta panas-panas taik ayam.

Ikuti juga bagian lainnya

  • Bagian 1
  • Bagian 2
  • Bagian 3
  • Bagian 4
  • Bagian 5
  • Bagian 6
  • Bagian 7
  • Bagian 8

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *