Juru Sembelih

Ilustrasi tukang sembelih

Chapter 1

Temaram cahaya serungkeng hanya mampu membuat pandanganku berbayang-bayang. Samar tubuh Bapak memantul di dinding gua. Pantulan itu menegaskan batinku bahwa dia melakukan sebuah ritual sembahyang. Tapi sembahyang yang begitu lama. Diselingi dengan bahasa-bahasa aneh yang membuatku yakin kalau itu bukanlah salat subuh.

Aku terjebak dalam gua ini setelah menempuh perjalanan selama satu jam dalam suramnya cahaya bulan. Aku tidak diizinkan melakukan salat subuh meskipun kokok ayam hutan saling menyahut. Bapak hanya membentangkan sebuah tikar pandan usang dan menyuruhku untuk melepaskan penat. Aku hanya menuruti tanpa berani membantahnya. Jika ada bantahan, maka telapak tangan Bapak akan meninggalkan bekas di pipiku. Batinku tak henti memberontak. Ratusan tanya yang satu pun tak bisa kujawab dengan keanehan sikap Bapak yang membangunkanku dari kelelapan. Sungguh asing bagi telingaku ketika Bapak berulang-ulang memanggilku dengan Ismail, padahal namaku Karim.

Dalam kekalutan aku teringat ibuku. Pasti dia cemas melihat anak semata wayangnya tak berada di kamar. Biasanya ibulah yang mengingatkanku akan sembahyang. Ibu juga menyiapkan sarapan untuk kami sebelum berangkat sekolah. Tentu ibu akan mencari tahu ke mana aku menghilang di pagi-pagi buta. Pagi yang biasanya masih membuatku bergumul dengan mimpi.

Chapter 2

Bapakku seorang juru sembelih. Bapak menyembelih setiap hari utamanya Sabtu yang galib disebut hari pekan. Umurnya memasuki enam puluh tahun. Di usianya yang tua, tubuh Bapak masih gempal berisi. Orang bilang tampang Bapak sangar dengan kumis tebalnya yang digunting rapi. Apalagi Bapak jarang tersenyum. Kami, anak-anaknya sangat segan kepada Bapak. Karena Bapak tak segan-segan untuk menampar kami jika kami abai dalam salat, berpuasa, atau tidak bersekolah. Meskipun demikian, Bapak orang yang baik hati dan selalu memenuhi kebutuhan kami.

Istri Bapak ada dua yang hidup dalam satu atap rumah dengan damai. Kedua istri Bapak tidak pernah ribut dan cemburu. Bapak adil kepada keduanya. Jika malam ini Bapak tidur dengan istri pertama, malam selanjutnya Bapak akan tidur di kamar istri keduanya, yaitu ibuku. Sebagai juru sembelih, Bapak memang tidak kaya. Hanya warisan kakeklah yang membuat hidup kami berkecukupan.

Namun perangai Bapak tiba-tiba berubah sejak setahun terakhir. Ia tidak pernah lagi menyembelih di pasar dan jarang pulang ke rumah. Ia sering ke gunung yang jaraknya sekitar satu jam dari kampung kami. Padahal gunung itu jarang dikunjungi orang, kecuali jika ada keperluan. Gunung itu konon dijadikan sebagai tempat bersembunyi dan latihan bagi para pemberontak yang ingin menuntut kemerdekaan. Setelah pemberontak insaf dan kembali ke pangkuan ibu pertiwi, gunung itu sunyi dari letusan-letusan senjata api. Bapak pergi ke gunung itu sambil menggiring seekor kambing yang telah dimandikan, disisir, dibedaki, diberi wangi-wangian, bahkan diberi gincu merah pada bibirnya dan tubuhnya ditutupi dengan sehelai kain putih. Penampilannya juga persis seperti orang yang menyambut hari raya dengan setelan pakaian yang serba putih. Berkali-kali Bapak bercermin dan sesekali mencerminkan kambingnya.

”Lihat dirimu, kambing! Apakah kamu sudah merasa cantik?”

Kambing itu hanya mengembik. Lalu Bapak menggiring kambing itu ke gunung. Kami heran dengan sikapnya itu. Apa yang telah terjadi pada diri Bapak menimbulkan tanya. Tidak hanya kami, orang kampung juga seperti tergegau melihat perubahan perangainya. Tapi Bapak tidak peduli dengan sikap mereka. Apa Bapak gila? Tentu saja tidak. Bapak bersikap seperti biasa pada kami dan orang-orang kampung.

“Tengku, mau dibawa ke mana kambing solek itu?” tanya seorang pemuda kampung.

“Ke gunung,” jawab Bapak singkat.

Orang-orang kampung tidak berani mengolok-olok Bapak. Pernah ketika Tengku Ulok – orang ini memang gemar mengolok-olok orang sesuai dengan lakabnya – mengejek Bapak dan kambingnya. Karena sakit hati dan merah telinga, Bapak meninju orang itu sampai berdarah. “Berani kau ejek aku sekali lagi, kugorok lehermu!” ancam Bapak sambil menghunus pisau dari sarungnya.

Setiap hari Sabtu, Bapak tidak lagi ke pasar jagal melainkan pergi ke gunung. Bisa berhari-hari Bapak di sana. Jika kembali ke kampung, paling hanya untuk membeli kambing dan mempersoleknya. Melihat perilaku Bapak seperti ini, istri-istri Bapak sepakat untuk mengutus Kasim, anak tertua untuk mengikuti Bapak.

Maka di suatu Sabtu, Kasim bergegas mengikuti Bapak sambil menyelinap di semak-semak. Nafasnya tersengal-sengal dan sedikit ketakutan. Dia takut jika Bapak mengetahui ada orang yang mengikutinya. Dan ketika Kasim sampai ke gunung itu, dia berselindung di balik pepohonan. Mengintip dan mengintai. Bapak menambatkan kambing di sebuah pohon ara. Kemudian Bapak memasuki gua. Beberapa jam Bapak tidak keluar. Kasim dengan penuh kesabaran tetap menunggu.

Ketika senja hendak merapat, Bapak keluar dari gua itu bersama tiga orang lainnya. Kasim tidak mengenal orang-orang itu. Mereka berpakaian seperti Bapak. Umur mereka juga tampaknya sebaya dengan Bapak. Salah seorang dari mereka menggiring kambing ke arah sebuah batu besar. Seorang lainnya merapus kambing itu dan merebahkannya di atas batu besar tadi. Lelaki satunya lagi yang tampak berwibawa sedang bercakap-cakap dengan Bapak. Entah apa yang dikatakannya. Selanjutnya Bapak mengusap leher kambing itu dan berteriak lantang dengan bahasa yang aneh. Ternyata Bapak menyembelih kambing yang sedang mengembik dengan keras tak kalah lantangnya dengan suara Bapak. Ketika kambing disembelih, orang-orang itu juga berteriak dengan bahasa-bahasa yang aneh.

Darah muncrat dari leher kambing, mereka membuka mulut ke asal darah itu. Kambing yang sudah tak berdaya itu tetap mengembik dan meronta-ronta sampai akhirnya kambing itu tidak bergerak sama sekali. Kemudian mereka membersihkan tubuhnya dari darah. Hanya itu saja yang dilakukan Bapak. Lalu mereka memasuki gua. Di dalam gua, tidak seorang pun tahu apa yang mereka lakukan. Kasim pun tak berniat mencari tahu. Dia bergegas untuk melaporkan apa yang dilihatnya tadi.

Kasim menceritakan semuanya kepada kami tanpa melewatkan sesuatu apa pun. Cerita ini membuat ibu-ibu kami marah. Ketika Bapak pulang dari gunung, istri-istrinya menghujaninya dengan sejumlah pertanyaan. Perang mulut pun tak terhindarkan. Pada hari itu, ibu-ibu kami sangat berani menantangnya. Dan akhirnya, mereka mendapatkan tamparan dari Bapak. Setelah kejadian itu, Bapak sering termenung. Ia tampak memikirkan sesuatu dan kelihatan gusar. Sudah dua Sabtu Bapak tidak ke gunung. Saban malam Bapak bermimpi. Mengigau dan meneriakkan nama-nama yang aneh. Dan pada suatu malam, Bapak membangunku dari tidur. Cemas dan waspada dengan penuh kehati-hatian.

“Ismail, cepat bangun!” panggil Bapak sambil menggoyang-goyangkan tubuhku. Aku tergegau.

“Ismail! Ismail!”

Aku melihat ke sekitar. Tidak ada orang lain kecuali aku. Siapa Ismail?

“Siapa yang Bapak panggil?” tanyaku.

“Kamu!” hardik Bapak dengan suara pelan.

“Tapi namaku bukan Ismail.”

“Temani Bapak ke gunung. Nanti Bapak jelaskan.”

Aku memakai baju dan celana seadanya. Malam masih begitu dingin sehingga aku membawa serta kain sarung. Bapak memegang erat tanganku dan tampak terburu-buru, sesekali mengendap agar tidak membuat kegaduhan. Aku masih mereka-reka untuk apa aku diajak ke gunung. Kami menyusuri malam yang suram. Ia sangat menghafal jalan yang dilaluinya. Padahal aku tidak bisa melihat apa pun di depannya selain kegelapan. Tak ada cahaya yang menerangi jalan yang kami tapaki. Sepanjang perjalanan hanya kekalutan yang menimpaku hingga akhirnya kami tiba juga di gunung ketika sayup-sayup terdengar kokok ayam hutan. Sudah subuh, pikirku. Kami masuk ke dalam gua yang tampak gelap. Aroma lantung menyeruak. Aku hampir muntah mencium baunya. Tapi Bapak biasa saja. Ia menyalakan serungkeng. Cahayanya agak redup menerangi dinding-dinding gua itu. Aku melihat banyak bangkai dan tulang-tulang kambing. Aku menutupi hidung dengan kain sarung, tapi bau bangkai masih bisa menusuk hidungku.

“Kau tidurlah dulu, Ismail,” kata Bapak sambil membentang tikar pandan yang sudah usang.

Chapter 3

Tiba-tiba ada tiga orang yang berpakaian putih masuk ke dalam gua. Mereka memeluk Bapak secara bergiliran. Salah seorang dari mereka yang tampak berwibawa melihat diriku dengan seksama. Sementara itu, pagi sudah mencapai kesempurnaannya.

“Apa kamu pernah mendengar kisah Nabi Ibrahim?” tanya salah seorang dari lelaki itu.
Aku hanya mengangguk pelan. Kisah ini sering kudengar di balai pengajian. Ibrahim adalah nabi yang mencari Tuhan, penghancur berhala, pendiri Ka’bah, dan satu-satunya nabi yang berani menyembelih anaknya, Ismail. Aku tersedak. Apakah aku akan disembelih?

“Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu ,” ujar Bapak ketika melihat ketakutan dalam diriku.

Aku gemetar. Bapak sudah gila dengan menyamakan dirinya sebagai Ibrahim dan aku sebagai Ismail. Aku bukanlah nabi. Bapak juga bukan nabi. Apalagi ketiga orang itu. Tapi apa yang dikatakan Bapak adalah perkara serius. Tiba-tiba dengan segenap kekuatanku, aku berlari namun kedua orang yang berdiri di belakangku dengan cekat menangkapku. Aku meronta dan berteriak sekuat tenaga berharap ada orang yang mendengarku. Tangan mereka sangat kuat mencengkram sehingga membuat tubuhku lemah. Lalu tangan dan kakiku diikat kuat-kuat.

“Jangan coba-coba melawan. Kau akan kusembelih sebagai pengurbananku kepada Nabi Ibrahim,” kata Bapak. “O, Ibrahim! Nabi dari segala nabi! Akan kupersembahkan darah anakku untuk meneruskan mimpimu yang tertunda.”

“Pak, sadarlah! Muhammad nabi kita. Bapak sudah dipengaruhi oleh iblis. Bapak sudah sesat! Kalian juga sesat!”

Bapak menampar pipiku sehingga membuatku terdiam. Tak lama kemudian, aku digendong keluar dari gua. Cahaya matahari menghangatkan tubuhku yang lemah. Mataku agak menyipit setelah lama berkutat dengan temaram cahaya serungkeng. Aku ditelentangkan di atas sebuah batu. Tercium bau amis darah yang sudah kering. Lalu Bapak mengusap-usap leherku sehingga membuatku agak geli.

“Maafkan aku, Ismail. Aku harus melanjutkan titah Tuhan pada Ibrahim.”

Tiba-tiba rerumput bergoyangan. Burung-burung yang sedang bermesraan mengepakkan sayapnya meninggalkan pepohonan. Lutung-lutung juga melompat gesit seakan ada yang memburu mereka. Bunyi ranting kayu patah terasa begitu dekat. Bumi seperti berguncang akibat derap kaki berlari tergesa-gesa. Deru nafas yang kelelahan dan teriakan orang-orang mengagetkan Bapak dan ketiga orang yang sudah panik itu.

“Kariiiiimmmm!”

Itu suara ibuku. Aku melihat ke arah suara itu. Kasim yang diselimuti kecemasan menunjuk ke arahku. Ibuku dan penduduk kampung segera berlari ke arah kami. Ketiga orang tadi hendak melarikan diri. Sedangkan Bapak dengan cepat mengayunkan pisaunya ke pangkal leherku. Terasa sekali ada benda tajam berjalan-jalan di leherku sehingga mengeluarkan darah segar. Bapak tersenyum penuh kemenangan. Tubuhku menggelepar dan melompat-lompat kesakitan. Bapak tidak lari dari kejaran penduduk kampung. Ia masih tegar menatapku seraya merapal doa-doa asing. Ketiga orang yang bersama Bapak melarikan diri tapi berhasil ditangkap. Mereka digebuk beramai-ramai. Begitu juga Bapak.

Ibuku menutup luka di batang nadi leherku yang menganga agar darah tidak terus muncrat. Aku melihat ibuku berwarna merah. Dengan menahan rasa sakit, aku berusaha meneriakkan nama-nama Allah. Usaha ini gagal kulakukan karena lidahku terjulur keluar. Tanganku yang telah lepas dari ikatannya juga berusaha memegang leherku. Aku menyentuh tangan lembut seorang ibu. Dengan mata nanar, aku masih bisa melihat ibuku. Perlahan-lahan kurasakan tubuhku lemah, tanganku kaku, jantungku berhenti berdenyut dan selanjutnya adalah gelap.

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *