Siapa Bilang Kita Paling Tidak Toleran?

Baru-baru ini kita di Aceh dikejutkan oleh hasil survei terkait indeks kerukunan beragama di Indonesia tahun 2019. Hasil survei tersebut menempatkan Provinsi Aceh berada di urutan 34 atau terakhir. Artinya Aceh adalah provinsi yang paling tidak toleran dalam hal beragama dan memiliki masalah besar dalam kerukunan beragamanya.
Survei untuk menentukan indeks Kerukunan Umat Beragama dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Bimbingan Masyarakat Agama dan Layanan Keagamaan pada Badan Penelitian dan Pengembangan dan Pendidikan dan Pelatihan (Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat) Kemenag. Saya meragukan hasil survei tersebut. Dilihat dari nama badannya saja cukup panjang dan memboroskan sehingga susah sekali diketik ulang. Apalagi jika dilihat dari waktu pelaksanaan survei yang dilaksanakan pada tanggal 16-19 Mei 2019 dan 18-24 Juni 2019. Dari segi rentang waktu perilisan hasil survei pun begitu lamanya data hasil survei diolah oleh sebuah badan yang besar.
Survei dilakukan terhadap 13.600 orang responden yang tersebar pada 136 kabupaten/kota di 34 provinsi. Yang menjadi sorotan survei adalah toleransi, kesetaraan, dan kerja sama di antara umat bergama.

Kasak-kusuk hasil survei

Hasil survei tersebut menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat Aceh. Betapa tidak. Masyarakat Aceh selama ini menganggap tidak terjadi permasalahan apa pun terkait kehidupan beragamanya. Tanda tanya pun bermunculan. Sebenarnya bagaimana pelaksanaan survei itu dilakukan tanpa melihat realita yang terjadi di kalangan masyarakat. Jika ukurannya adalah adanya pelarangan terhadap suatu aliran keagamaan, memang itu pernah terjadi di sini. Masyarakat Aceh yang menganggap ada aliran “sesat” berusaha untuk memproteksi diri mereka. Cara yang dilakukan pun beragam, mulai dari cara halus maupun cara kasar.
Apakah ini yang menjadi patokan hasil survei? Jika demikian, kenapa pula pemerintah melarang-larang orang bercadar atau memakai celana cingkrang? Atau pemerintah juga mengawasi ketat Majelis Taklim atau hal-hal yang dianggap radikal versi pemerintah? Nah, di mana letak tolerannya Menteri Agama? Kalau bisa dikatakan, menteri yang paling tidak toleran justru menteri agama itu sendiri.
Padahal di provinsi lain, menurut versi kasak-kusuk banyak rumah ibadah yang menjadi sasaran sehingga membuat kenyamanan beribadah berkurang. Seorang pendeta di Aceh yang bernama Pendeta Idaman Sembiring juga terkejut dengan hasil survei tersebut. Dia mengatakan bahwa di Aceh, syariat Islam malah tidak menjadi beban bagi penganut agama lain. Umat Kristen tak berlaku syariat Islam, bahkan umat Kristen malah lebih taat beribadah karena adanya syariat Islam itu sendiri. Jadi tidak benar bahwa orang Aceh intoleran dalam beragama. Mereka pun berniat untuk membuat survei tandingan.

Survei yang tak perlu

Saya pikir survei tentang kerukunan umat beragama ini tak perlu dilakukan. Tidak ada manfaatnya jika hanya ingin melihat kesalahan-kesalahan yang tak perlu. Selain itu hasil survei ini pun sangat tidak bermanfaat dan akan dibawa ke mana hasil survei ini.

Prof. Dr. Adlin Sila sebagai ketua tim survei sendiri mengatakan bahwa tidak ada satu pun temuan indeks yang menyatakan ada daerah yang tidak toleran atau tidak rukun. Artinya semua daerah toleran dan rukun. Adlin juga menegaskan bahwa survei ini bukan untuk membandingkan kerukunan antara satu daerah dengan daerah lain.

Nah, kalau demikian adanya untuk apa Adlin dan kawan-kawannya mengadakan survei ini? Buang-buang uang dan tenaga saja. Ada baiknya uang tersebut digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat di kementerian tersebut. Benar-benar survei yang tidak perlu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *