Uighur: Nestapa Minoritas di Cina

Uighur: Nestapa Minoritas di China

Saat ini mata kita tertuju kepada kaum Uighur di Cina. Mereka adalah kaum minoritas yang beragama Muslim dan mendapat pengekangan berlebihan dari pemerintah Cina. Seluruh dunia membuka mata mereka untuk menentang kekejaman penguasa Cina karena diyakini telah terjadinya pelanggaran HAM berat di sana.

Uighur, sebagaimana minoritas lainnya di tengah kepungan kekuasaan yang haus darah menjadi korban kekejaman. Atas nama radikalisme dan tuduhan separatisme alih-alih terorisme, Cina berusaha menutup kekejamannya terhadap minoritas Uighur. Begitulah klaim media barat. Namun, Cina sebagai negara besar dan menjadi ancaman bagi negara Barat membantah semua pemberitaan media barat.

Lalu, mana yang kita anggap paling benar? Apakah kita bisa mempercayai pemberitaan media Barat yang kerap mengelabui mata dunia terhadap pembenaran, atau kita harus meyakini klaim penguasa Cina yang lihai membungkam kebenaran? Dengan mengecualikan kedua asumsi tersebut, selaku seorang Muslim tentu akan bangkit bersama dengan Muslim lainnya untuk membela saudara seiman yang teraniaya. #saveuyghurs pun bergema di jagad maya. Bahkan seorang pemain bola terkenal Mesut Oezil dicekal oleh Cina karena menyerukan dukungannya kepada Uighur. Cina pun membelalakkan matanya.

Historical Matters Concerning Xinjiang

Akhir bulan Juli 2019, Cina mengeluarkan sebuah dokumen yang berjudul Historical Matters Concerning Xinjiang untuk memanipulasi pandangan dunia terhadap Uighur. Dituliskan bahwa di era modern ini banyak musuh dari luar Cina yang berusaha untuk mendistorsi sejarah dan fakta di Cina. Munculnya kaum separatis ekstrimis agama dan teroris telah berhasil memecah belah Cina di Xinjiang.

Dokumen tersebut juga menyebutkan bahwa Islam di Uighur lahir karena adanya paksaan selama terjadinya perang agama dan penguasa lokal pada masa-masa ekspansi Arab. Melalui dokumen ini, Cina yang lihai memanipulasi segalanya berupaya untuk mencuci otak masyarakat dunia dengan memutarbalikkan fakta yang terjadi. Mereka menuduh minoritas Uighur yang dominan Muslim sebagai sebuah kaum masyarakat yang tidak taat pada agamanya sendiri.

Uighur adalah bagian dari Cina. Dokumen ini berkali-kali menegaskan hal itu. Uighur bukanlah Turki Timur selazimnya yang disebut oleh orang-orang. Ia hanyalah sebutan geografis belaka dan kerap digunakan sebagai alat politik oleh kaum separatis. Xinjiang yang memiliki otonomi daerah sangat leluasa dimanfaatkan oleh kaum separatis dan teroris. Sebab itulah Cina mengintimidasi minoritas Uighur atas nama separatis dan teroris yang justru belum tentu kebenarannya.

Uighur Merdeka

Konon di tahun 742 M, Gogturk Turk Asia Tengah mengalami kekalahan dan dinastinya mengalami keruntuhan. Suku Uighur memperoleh kemerdekaan dan mulai membangun wangsanya di bawah kuasa Qutlugh Bilge Kol. Kerajaan kecil Uighur berdiri dan menguasai ujung timur dari Jalur Sutra. Perlahan-lahan Uighur mulai membangun dan menjalin hubungan diplomasi dengan Tiongkok.

Hubungan bilateral Uighur dan Tiongkok berjalan dengan baik. Bahkan Tiongkok pernah meminta bantuan kepada Uighur untuk memerangi para pemberontak. Uighur pun membantu Tiongkok dan berhasil menumpas pemberontak yang mengganggu Tiongkok.

Uighur menjadi bangsa yang terus maju dan berkembang. Secara historis, Uighur telah memiliki sejarah panjangnya sendiri yang lebih dari 4000 tahun silam. Hal ini bisa diketahui dengan ditemukannya benda-benda arkeologis yang menunjukkan kekayaan ilmu dan seni orang-orang Uighur. Sebuah laporan menyebutkan bahwa Uighur telah mengenal skrip tulisan mereka sendiri sejak abad ke-6 M. Bahkan saat seluruh kaum Uighur memeluk Islam di abad 10 M, Uighur masih bisa memiliki alpabetnya sendiri meskipun terjadi penyerapan dari budaya Arab. Uighur memeluk Islam sejak tahun 934 M di bawah penguasa Satuk Bughra Khan. Saat itu sekitar 300 masjid berdiri megah di Kashgar.

Uighur memiliki khazanah intelektual tersendiri. Di berbagai bidang keilmuan pada masa itu, orang-orang Uighur mampu tampil di hadapan dunia. Katakanlah di bidang pengobatan akupuntur. Orang Barat percaya bahwa akupuntur pertama sekali dikembangkan oleh orang-orang Uighur. Dalam kajian sastra, beberapa karya Uighur banyak diminati, seperti Kutatku Bilik karya Yusuf Has Najib, Divani Lugarit Turk karya Mahmud Kashari, atau Atabetul Hakayik karya Ahmet Yukneki.

Mengingat sejarah panjang kaum Uighur, tidak sepantasnya Cina mengklaim bahwa Uighur adalah bagian dari sejarah Cina. Justru sebaliknya, Cina menjadi bagian kelam dari sejarah Uighur.

Mari kita mendoakan umat Muslim di Uighur agar tabah dan kuat dalam menghadapi kekejaman sang tiran!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *